Cinta Karena Kewajiban

Cinta Karena Kewajiban
Sesuatu telah terjadi


__ADS_3

Pukul setengah lima pagi Aira terbangun, tubuhnya terasa sakit semua apalagi saat akan bangun mengangkat pahanya saja membuat ************ nya terasa nyeri.


Entah apa yang telah terjadi semalam


yang dia ingat semalam Anwar membuka seluruh pakaiannya dan mencium tubuhnya, selebihnya dia mengerang sakit, namun ia sangat menyukainya. matanya dipejamkan tidak ingin melihat Anwar yang berada diatas tubuhnya. hingga dia ketiduran.


"*Mas...mas.." Aira membangunkan Anwar dengan memukul mukul bahunya.


"Eh... kamu sudah bangun Ai... sana mandi duluan..." Anwar masih ingin menikmati mimpi indahnya.


"aduh... sakit mas. pinggulku sakit sekali... hiks... hiks" Aira menangis menahan rasa sakit.


Anwar bergegas bangun dan memungut pakaian dalamnya dilantai, memakainya dengan lapisan celana pendek selutut. setelah itu memakaikan Aira pakaian Aira dan menggendongnya ke kamar mandi.


udara pagi yang dingin, membuat gairah Anwar bangkit dengan pemandangan di depannya yang membangunkan *****nya. akhirnya Aira tidak dapat menolak untuk satu babak pertempuran lagi sebelum Anwar membantunya untuk mandi.


Setelah mandi Anwar memapah Aira kembali ke sofa yang terdapat di kamarnya dan membantu Aira memasang pakaiannya. dengan sigap Anwar membuka sprei tempat tidur dan menggantikan dengan sprei yang lain.


Setelah selesai Anwar mengajak Aira ibadah subuh berjamaah.


Kasihan sekali melihat Aira yang berjalan dengan menahan rasa sakit di pangkal pahanya.


"Mas,,,, sakit sekali mas...hiks" Aira meringis kesakitan.

__ADS_1


"Tidur saja dulu, jangan beranjak dari sini" Anwar duduk di samping Aira yang terbaring.


"Bagaimana jika mereka menanyakan ku mas, apa yang harus kukatakan pada keluargaku atau teman kerjaku nanti,,, aku kan malu sama mereka....." Aira memikirkan bagaimana tanggapan orang lain nanti. tidak mungkin dia bilang karena *****


"Semua orang akan paham dan maklum, kok. jangan berpikir yang tidak-tidak. nikmati saja hidup mu" Anwar berjalan ke luar mengambil minum.


Diruang tengah ayah sedang duduk menikmati kopinya, sementara ibu seperti biasa memasak makanan untuk seharian.


Anwar menyapa Ayah sambil terus berjalan ke dapur, ayah hanya membalas dengan hm.. tidak bertanya apapun pada menantunya. melihat raut wajah Anwar yang berseri seri. ayah yakin mereka telah terjadi sesuatu.


Meski merasa canggung Anwar tetap memberanikan mengambil gelas dan sendok di rak piring, ibu yang sedang mencuci sayur, menghentikan kerjanya. tersenyum pada Anwar yang rambutnya masih agak basah dan keningnya mengkilat "biar ibu saja yang buatkan kopinya, nak Anwar..."


"Terimakasih Bu, nggak apa-apa kok..!" Anwar tidak mau merepotkan ibu.


Ini adalah awal kebahagiaan mereka.


"Makasih Bu, saya ke dalam dulu.." Anwar pergi dengan segelas kopi dan roti di tangannya. sebelum menuju kamar pandangan mata Anwar bertatapan dengan ayah, seakan ayah ikut bahagia dengan menantunya. ayah hanya tersenyum kecil.


"Ai, ibu membuatkan teh jahe untukmu. diminum ya!" Anwar membantu Aira duduk bersandar di lengannya " ibu saja mengerti dengan kita, tanpa menanyakan apa apa..."


"Mas, aku masuk sekolah hari ini ya,," Anwar langsung memotong ucapan Aira "nggak usah, biar sms saja nanti ke Tia. lihat wajahmu sangat pucat"


"Alasannya apa?" Aira nggak nyaman.

__ADS_1


"Bilang saja lagi nggak enak badan..." Anwar meneguk kopinya.


Semua anggota keluarga yang lain telah meninggalkan rumah untuk melakukan aktifitas masing-masing. hanya tinggal sepasang suami istri yang menghuni rumah, dan masih berada di kamarnya.


*pagi kak, Aira demam, mohon izin libur hari ini, ya* Aira mengirimkan sms pada Tia teman kerjanya.


*Iya, nanti di sampaikan ke kepsek, cepat sembuh, ya..." Aira membaca balasan dari Tia.


"Apa kata ibu tadi, mas...?" takut ibu mencemaskan nya.


"Ibu tidak mengatakan apapun, hanya tersenyum dan membuatkan minum untuk kita. sepertinya ibu bahagia.." Anwar membelai tangan Aira


"berhenti lah memikirkan orang lain Ai, kita sudah suami istri tidak ada yang akan mempertanyakan kita. semuanya tergantung pada kita berdua, kewajiban mu hanya mencintai suamimu... hhh" Anwar berkata pada Aira seperti menasehati anak kecil saja.


"Ai, rasanya aku menyesal..." suara Anwar datar dan menggantung perkataannya.


"kenapa?" Aira mempertanyakan ucapan Anwar. matanya menatap mata Anwar hingga mereka saling bertatapan. tatapan yang begitu menyejukkan.


"Aku menyesal terlambat menemukanmu, haha..." Anwar merangkul tubuh kecil Aira sambil tertawa.


Tidak peduli Aira dengan rasa sakit yang di alami Aira. Anwar ingin menikmati tubuh Aira lagi meski Aira mengeluh dia tidak peduli. justru rengekan Aira membuatnya semakin agresif dan semangat melancarkan aksinya.


_._._._.._._._.._._

__ADS_1


__ADS_2