Cinta Karena Kewajiban

Cinta Karena Kewajiban
mengembalikan jaket


__ADS_3

Setelah mandi sore, Aira ingin membeli makanan ringan buat cemilan karena habis ini dia punya waktu santai sampai malam. kalau lagi sendiri temannya cuma cemilan sama buku diary. meski suka makan tapi Aira ngakak gemuk-gemuk juga.


Dia pergi ke warung sebelah kanan rumahnya berjalan melenggang dengan uang sepuluh ribuan di tangannya. setelah keluar rumah Aira sangat terkejut, mukanya merah padam menandakan ia sedang malu.


Ternyata ada kak Bobi yang waktu itu bersama kak Iyan dan teman-temannya, ia ingat belum mengembalikan jaket kulit hitam milik Bobi. kalau dikembalikan sekarang nanti dikirain kak Iyan dan teman-temannya ada apa-apanya lagi. padahal hanya kebetulan saja.


"Mau kemana, Ra?" tanya kak Iyan


"ke warung, kak!" jawabnya gugup dengan teman-teman Iyan.


"bisa nitip belanja, kan?" tambahnya lagi. Aira jadi makin malu, mana uang cuma sepuluh ribu cuma. belum lagi pandangan teman kakak nya yang menurutnya agak janggal.


"beliin apa, kak?" tanya Aira


"rokok sama kopi kemasan, biar lebih nyantai ya nggak bro?" membalikkan tanya ke sahabat nya.


"di sebelah kan nggak ada jual rokok, kakak!!" serunya. "lagian, uangku cuma lima ribu, lho!" mohonnya.


Bobi yang diam-diam mengagumi Aira, mengajukan diri untuk mengantarnya ke toko yang ada jual rokok. karena mereka tidak akan ngumpul tanpa rokok dan kopi.


"oh ya, bro. biar aku aja yang ngantarnya ke toko di persimpangan ya!" kata Bobi sambil mengangkat tangannya.


"yakin kamu??" tanya Iyan seakan membaca pikiran Bobi. diliriknya Bobi dengan ujung mata kirinya.


"iya, Yan. kalian aku juga ingin beli rokok. bekal kita kan sama-sama habis, bro!" mencoba biasa-biasa saja takut yang lain curiga. *kapan lagi kesempatan untuk dekat dengan Aira*


"ya sudah, sana. tapi yang cepat ya!" teriak yang lain. "hati-hati tuh adik gue" tambah Iyan yang mulai kasihan liat adiknya.


Sejak Aira kabur, Iyan dan orang tuanya mulai mencemaskan nya, takut terjadi sesuatu. yah, namanya juga anak gadis dua puluh tahun, banyak pria yang akan memangsanya di luar sana apalagi Aira yang polos, pendiam dan mudah percaya dengan orang yang ditemuinya. ayah ibunya juga sudah mengamanatkan adik-adiknya ke Iyan.


"Aira" Bobi memecah keheningan perjalanan mereka.


"ya, kak Bobi. jaketnya ya?" Aira ingin mengembalikan dari kemaren-kemaren tapi tak tahu caranya.


"kalau kamu suka, ambil saja, Ra! suaranya agak keras dan jelas.


"nggak usah. nanti aku titip ke kak Iyan, ya? " bertanya.


"jangan nanti ketahuan, bisa berabe dia tuh!" Bobi tidak ingin Iyan tahu, nanti dikirain pacaran sama adiknya, bisa diusir dia dari geng. Iyan kan tidak suka kalau ada temannya yang suka sama adiknya.

__ADS_1


waktu Aira kelas satu dan Iyan duduk di kelas tiga SMP dulu, pernah salah satu teman dekat Iyan yang berani nembak Aira dan ngirim surat via teman kelas Aira. tapi ketahuan sama Iyan, langsung dilabrak dan dihajar sampai-sampai diselesaikan oleh guru dan dipanggil orang tua mereka. sejak itu mereka kapok sama Iyan. Padahal banyak diantara mereka yang naksir sama Aira yang cantik dan kalem itu.


Kali ini Bobi mau curi-curi kesempatan yang ada saja dulu, biar aman. tuk.. kepala Aira terantuk ke punggung Bobi yang lebar karena motornya agak terangkat akibat jalan ber tanggul , "maaf" ucapnya.


"nggak apa-apa, jangan sungkan sama aku Aira!" Karena dia sesungguhnya berharap lebih dari itu


Mereka telah sampai di toko, Aira turun lebih duluan. Aira merasa risih karena harus berpegangan ke pinggang Bobi saat naik turun motor. kaki Aira agak susah menaiki Vixion dengan ukuran tingginya yang cuma seratus lima puluh dua sentimeter.


Aira memilih makanan buatnya, sementara Bobi memesan semua yang diminta oleh teman-temannya tadi. setelah mereka mendapatkan yang mereka inginkan Aira mengeluarkan uangnya. "eh, nggak usah. biar aku saja yang bayar semua" dia memundurkan tangan Aira


"berapa semuanya?" tanya Bobi ke pemilik toko sambil mengeluarkan lembar ratusan "cuma depan puluh tujuh, sama belanja Aira" kata pemilik toko yang sudah kenal Aira.


Pemilik toko memberikan uang kembalian dan tak lupa berterima kasih. Aira bergegas naik motor kembali, lagi-lagi ia merasa risih.


percakapan di atas motor.


"Aira, apakah aku boleh bertanya sesuatu?"


"boleh, kak" jawab Aira


"apakah yang waktu itu mengantar ke bus, pacarmu??" Bobi penasaran sejak bertemu


"'hoh...'' balasnya singkat terasa menghirup udara segar


Bobi membawa motor sangat pelan sekali karena lagi mencari waktu yang tepat "magrib nanti kamu ke mesjid, kan?" tanyanya ketika hampir sampai dekat rumah Aira


"insyaallah" jawab Aira


"boleh ku antar pulang, kan?" tanya Bobi yang tak di jawab Aira. karena ia memikirkan apa kata tetangga. "dijamin nggak ketahuan, kok"


"tuh kan lama sekali, mereka" celotah semua yang di teras. "kasih aja lampu merah, Yan!" teriak Aldo yang mulai curiga.


"apaan sih kalian, namanya juga ngantar wanita belanja, yah lama" jawab Bobi membela diri "ingat bro, adik teman artinya adik kita, orang tua teman orang tua kita, pacar teman...n..." tak bisa melanjutkan lagi


"hahaha... parah lu!" mereka semua mentertawakan Bobi


"yah, nggak gitu juga sih..." Bobi angkat bahu


"ya, sudah..sudah." teriak Iyan merasa tak tenang mereka mentertawakan adiknya.

__ADS_1


sementara Aira sudah masuk ke dalam rumah. menunggu waktu hingga magrib tiba. bagaimana jika dipakai saja jaketnya supaya tidak ada yang curiga. kalau pakai kantong nanti ditanyain pula mau kemana.


"hai kak," Sifa mengejutkan lamunannya


"iya, ada apa, Sifa? tanyanya lembut


"apa sih yang dilamun kan,,," akhir-akhir ini mulai dekat dua beradik itu.


"nggak ada, ikut ke mesjid, yuk'' mengajak


"tapi, nanti buatin aku pr matematika, ya!" Sifa mengajukan syarat


"iya, aman" jawab Aira yang waktu sekolah selalu juara.


Mereka minta izin sebelum pergi kepada orangtuanya. Aira meminta untuk berjalan saja dan minta keranjangnya dibawa sifa. aira tak ingin orang melihatnya berduaan saja dengan Bobi nanti. hidup di desa tidak sama dengan di kota. di kota orang nya mah cuek, tapi kalau di desa bak kata pepatah satu ayam bertelur riuh seluruh kampung.


Di gerbang mesjid sudah ada menunggu, Aira memberikan kantong plastik pada Bobi. sambil bilang makasih kemudian berlalu meninggalkan nya. "Aira, maksudku bukan ini" dia berjalan di samping Aira. dipegangnya tangan Aira dari balik mukenah nya. Aira merasa takut namun tak mampu mengatakannya. sementara Sifa diam saja, dia maklum kalau yang begini Karena pernah merasakan.


"biasa saja, jangan pikirkan apa kata tetangga, Ai" huh dia meniru bahas Haris


"terimalah jaket, kakak!'' ia memberikan kembali.


Bobi menerima jaketnya, dan meminta Aira bersedia jalan tiap selepas magrib yang tak dijawab Aira dengan kata-kata. namun Bobi mengerti gerakan jemari yang di pegangnya.


"Sifa, jangan bilang-bilang, ya!" pintanya


"ye, kakak pacaran ya" tebak Sifa


"idih.. siapa bilang?" Aira mengeluarkan suaranya


"lagian nggak ada yang marah, kok. kan kakak sudah lulus" Sifa memancing mereka.


"doain aja dulu ya, dek" Bobi merasa ada dukungan


Yah hati Aira mulai tenang, telah mengembalikan jaketnya Bobi. di sepanjang jalan Hanya Sifa saja yang banyak bicara sama Bobi, karena Aira sangat pemalu sekali. malu tapi mau sih. semakin hari hatinya semakin berbunga-bunga. hingga lupa pada janjinya.


_._._._._._.__.._._._._.__..__._.._.._._.__._..__..__.._._


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2