Cinta Karena Kewajiban

Cinta Karena Kewajiban
Rencana


__ADS_3

Akhirnya setelah lima bulanan pengerjaan bangunan, rumah sederhana yang di impikan Anwar pun telah rampung. Anwar sudah tidak sabar lagi dan sangat bersemangat ingin memboyong Aira dan Arsyad ke rumahnya itu dan menjadi pemimpin keluarga yang seutuhnya bagi keluarga kecilnya.


Seperti saat ini hanya ada mereka bertiga dan menikmati waktu bersama, karena hari ini Anwar tidak bekerja maka dia lah yang menjaga Arsyad selagi Aira pergi mengajar ke sekolah. ibu dan ayah mertuanya pun dapat melakukan aktifitas seperti biasanya.


Arsyad baru saja tertidur saat Aira pulang ke rumah dan menyusuinya. Sebagai istri yang baik dan tahu akan kewajiban dan tanggung jawab, Aira tahu pasti kalau suaminya saat ini ingin mengopi.


Setelah menidurkan anaknya. Dan Aira pun membuatkannya sebelum diminta. "ini mas, ngopi dulu!"


"Makasih Aira, sini duduk dulu..." Anwar menggeser posisi nya ke kiri. seperti biasa Aira pun mengikuti dengan patuhnya.


"He... hem.." Anwar mendehem sebelum memulai perkataan nya dan melirik Aira sejenak. karena baginya masih canggung dalam mengajak Aira menikmati waktu berdua, meski sudah dua tahun lebih hidup bersama. Jika tidak ada topik dan konflik maka mereka tak romantik.


"Semoga tak ada lagi kecemasan ayah dan ibu untuk kehidupan kita kedepannya, Aira'' ucap Anwar kala mereka tengah menikmati kopi buatan Aira.


"Bukan ayah dan ibu yang cemas, tapi diriku lebih merasa cemas dan takut" lirih Aira dalam hati.


"Aira,,," sahut Anwar sambil memegang bahu Aira yang terlihat bingung.

__ADS_1


" i...iya mas" Aira bangkit dari lamunannya


"Kamu kok bengong, apa kamu nggak merasa bahagia dengan semua ini, Ra?" Anwar menatap mata pekat Aira. ia mendekat dan mencoba mencari sesuatu di tatapan kosong Aira.


Anwar tahu Aira tak kan merasa bahagia tapi setidaknya diapun harus merasa lebih percaya diri dengan pencapaian nya, untuk mempertahankan harga dirinya di depan keluarga Aira.


Aira sangat gugup dan deg degan dengan tatapan Anwar yang mengintimidasi "i... iya mas, aku senang kok" Aira pun melebarkan sedikit bibirnya dan itu sudah cukup untuk menghilangkan keraguan Anwar.


"terus, kapan kita akan meminta izin kepada ayah dan ibu untuk pindah ke rumah kita, sayang..." Anwar menyandarkan Aira di bahu kanannya.


"Nggak apa-apa, lepas minggu depan saja tapi kita harus membicarakan lebih awal pada mereka kamu kan tahu bagaimana keluargamu dan tradisinya?" walaupun nada bicaranya lembut tapi hati Aira tetap tertusuk dengan ucapan Anwar. tapi harus bagaimana lagi dia kan suaminya yang harus di patuhi.


"Ya sudah mas, nanti kita bicarakan di waktu kumpul keluarga" tandas Aira pasrah.


setelah beberapa saat mereka berbincang-bincang tentang rencana hidup kedepannya, tak terasa waktu Ashar pun telah masuk dengan terdengarnya suara azan berkumandang dari mesjid terdekat dari rumah.


_

__ADS_1


_


_


_


_


Hayy....reader...


akhirnya author bisa lanjutkan lagi novel ini setelah sekian lama vakum...


Alhamdulillah sekarang author udah sebulan lahiran...


semoga sibayi dan akunya sehat selalu and bisa buat para reader lanjut lagi bacanya... biar nggak penasaran endingnya...


selamat membaca lagi ya reader...😘😘

__ADS_1


__ADS_2