
Beberapa hari terakhir ini, Aira semakin dewasa dalam berbicara dan bertindak. Aira lebih memilih diam, mengerjakan tugas sekolah dan kuliahnya dengan tenang, ia tidak ingin curhat seperti biasanya.
Kekurangan dalam keluarga adalah salah satu aib yang harus dirahasiakan.
Kata bijak itu yang membuat Aira harus mengunci rapat mulutnya untuk tidak menceritakan kejadian malam itu yang membuat suaminya merasa rendah di hadapan keluarga Aira.
Anwar mulai menjaga jarak dengan ayah dan semua yang ada di rumah, karena dia merasa hanyalah seorang anak orang miskin yang beruntung jadi suami anak orang kaya.
Sebagai seorang istri yang berkewajiban patuh dan setia pada suami, Aira mencoba meyakinkan Anwar bahwa dia akan mendukung Anwar dan akan ada disisinya.
hal inilah yang menguatkan Anwar untuk tetap memperjuangkan hubungannya yang baru seumur jagung.
_._._._
Makan malam kali ini, terasa beda bagi Aira. suaminya tidak mau makan bersama. Anwar memilih mempercepat makan malamnya menjadi makan sore. dan saat berpapasan dengan orang tua Aira hanya sekedar sapaan seperti orang baru kenal saja. keduanya sama sama merasa sungkan.
Hanya Aira yang tak enak hati pada keduanya. Aira tak tahu harus memihak pada siapa. karena antara ayah dan suaminya adalah orang yang sangat dipatuhinya.
Dalam situasi seperti ini ibu diam diam mengatakan "tetaplah berada di pihak suamimu, jika kamu ingin mempertahankan rumah tangga mu, nak!"
"Tapi bagaimana dengan ayah juga ibu?" Aira meminta pendapat ibu.
"Kewajiban mu terhadap suamimu, kalau ayah sekarang cuma kebawa emosi sesaat saja!" saran ibu sambil membersihkan peralatan makan "semua orang tua sayang pada anak anaknya"
__ADS_1
"Bagaimana pendapat ibu, tentang Mas Anwar yang meminta Aira untuk belajar belanja kebutuhan sendiri, Bu..." Aira menyatakan keinginan Anwar yang ingin Aira bisa lebih mandiri.
"Nggak apa-apa, minggu besok Aira boleh belanja sendiri.." ibu mengelap tangan yang basah "dan memasak masakan kesukaan Anwar sendiri!"
"Makasih ya, Bu. ibu selalu memberi pengertian pada ku..." Aira mencium pipi ibu.
Setelah selesai dengan bersih bersih Aira hendak kembali ke kamar membawakan kopi untuk suaminya. tapi di ruang tengah ayah mencegat Aira dan meminta Aira mengajak suaminya keluar sebentar.
tidak berapa lama Aira kembali menemui ayah.
"Apa suamimu besok jadi pergi membeli barang dagangannya?" ayah bertanya pada Aira yang ekspresi wajahnya takut.
"Rencananya iya ayah," Aira tidak ingin banyak bicara.
"Tapi,, tapi ayah..." Aira menjawab dengan ragu ragu.
"Katakan padanya, jika dia menolak ini berarti dia tidak peduli pada anak ayah!" nada suara ayah agak tinggi. "jangan bertindak dengan berbesar hati ataupun berkecil hati"
"Baiklah, ayah" Aira mengambil uang dengan menundukkan wajahnya yang tak mampu menatap ayahnya.
"Ya sudah, sebelum kopinya dingin kamu antar dulu sana!" perintah ayah dengan suara datar.
Aira pergi masuk kamar membawa kopi yang hampir dingin sementara ayah masih duduk bersama ibu membicarakan tentang perubahan sikap Anwar.
__ADS_1
Di dalam kamar Aira menemui Anwar yang sedang duduk tersandar di sofa. Aira meletakkan gelas berisi kopi di meja kecil samping sofa.
"Apa itu, Ai?" Anwar melihat ada sesuatu yang jatuh dari balik jilbab Aira.
"ini mas, ayah meminta mas untuk menerima nya..." Aira duduk di samping Anwar "sebagai anak kita tidak boleh menolak pemberian orang tua, mas"
"Sekalipun itu merendahkan harga diriku, mas kan sudah bilang Ai, mas menikahimu karena Allah bukan karena harta" Anwar merentangkan kedua tangannya pada sandaran sofa.
"kalau aku ingin kaya, sudah sejak dulu Ai, juragan tokoku di kota ingin menikahkan aku dengan anak perempuan nya, tapi aku tidak mau..."Anwar memegang tengkuknya dengan telapak tangan kirinya. "aku ingin hidup dari jerih payahku"
"Sekarang yang terpenting mas terima uang ini, jangan sampai kita membebani ayah dan ibu, lagian ayah tidak mengucapkan apa-apa" Aira membujuk Anwar dengan bersandar di dada bidang Anwar.
"bahkan ibu pun mengajariku untuk tetap mendukung kamu mas, kamu nggak boleh berkecil hati, jika ingin sukses" Anwar tidak bisa menolak Aira yang panjang lebar memberi pengertian padanya.
"Demi kamu Ai, aku akan terima, tapi kamu simpan dulu ya." Anwar membuka jilbab Aira. karena baginya Aira lebih cantik dengan rambut sebahunya.
"Jangan mas, kalau ayah nanya gimana?" tanya Aira yang polos.
"Kamu bilang saja, sudah diterima. mungkin suatu saat kita akan membutuhkan untuk kuliahmu" Anwar merasa diuntungkan dengan sikap Aira yang semakin dekat dengannya.
"Oh ya, bangunin aku jam setengah lima ya, Ai. jangan sampai telat" Anwar yang lelah ingin segera tidur di pangkuan Aira segera menuju tempat tidur dan tak ingin melewatkan kesempatan untuk meminta haknya pada Aira.
Sebagai istri yang berkewajiban pada suami, Aira tidak dapat menolaknya namun ia juga tidak menikmati permainan suaminya. tapi Anwar malah semakin agresif dan semangat melakukannya. apalagi besok seharian, dari subuh hingga jam 11 malam Anwar akan pergi ke kota, dia pasti akan sangat merindukan Aira.
__ADS_1