Cinta Karena Kewajiban

Cinta Karena Kewajiban
Memenuhi kewajiban 2


__ADS_3

Makan malam kali ini tidak lengkap seperti biasanya, Iyan tidak ada di rumah karena dia sedang pergi ke luar desa ada carteran mobilnya ke kota x, biasanya pulangnya hampir tengah malam.


Ketika semua sedang asyik menikmati suapan demi suapan mereka, terdengar bunyi ketukan pintu dari luar, tidak mungkin itu Iyan masih jam tujuh lewat begini. pasti itu tamu.


"Aira, coba lihat ke depan!" ayah meminta Aira yang membuka pintu. padahal Sifa sudah siap berdiri.


"ya, ayah...." Dengan tanda tanya di benaknya, Aira berjalan ke depan untuk membukakan pintu yang tidak terkunci.


"Oo, masuk paman!" Aira berjalan di belakang paman Faisal. "makan dulu paman, ayah lagi makan!"


"Tidak usah, paman baru siap makan. kopi saja, ya. apa paman yang lain sudah datang?" Paman duduk di sofa leter L yang ada di ruang tengah.


"Belum paman. Sebentar, Aira ke belakang dulu!" dengan wajah bingung Aira menuju dapur.


*Ada apa gerangan, kalau tidak ada rencana baik pasti ada masalah baru, nih.


"* Ada paman Faisal di depan Bu, Aira buatin minum dulu, ya!" Aira menyampaikan siapa tamunya.


Ayah dan Anwar yang sudah siap makan segera beranjak meninggalkan yang lainnya.


"Ya, sudah kamu buatin kopinya pakai teko saja dan bawa gelasnya lima ya!" ibu segera menyimpan sisa makanan, dan mengumpulkan piring dan gelas ke dalam baskom.


Sepertinya ibu yang mengundang saudara laki-lakinya itu. "Sifa kamu langsung ke kamar, belajar ya!'' ibu pergi menyusul ayah.


"Baiklah Bu," Sifa mendekati Aira dan berbisik "ada apa lagi sih, kak. kok sidang paripurna lagi?" Sifa selalu kesal melihat pamannya yang bila berkumpul seperti sedang sidang saja gaya bicaranya.

__ADS_1


"Kakak juga tidak tahu, dek. mungkin mau jodohin kamu lagi, dari pada backstreet dan chating melulu, hehe" Aira menakuti adiknya.


"Kalau aku bisa cari jodoh sendiri, tidak perlu mereka yang sibuk,huh!" Sifa mengoceh.


"Ya, sudah. penasaran ya, nguping aja!" Aira berjalan memegang nampan dengan kedua tangannya.


"Ini Bu" Aira memberikan nampan berisi teko kopi dan gelas ke ibu.


"Sini duduk, dituang kopinya ke gelas Aira!" ibu meminta Aira bersikap sopan pada ketiga pamannya. bagi Aira penilaiannya sama saja dengan Sifa tentang pamannya* hanya bisa mengancam kemenakannya*


"Begini Aira, malam ini kami bersama, atas permintaan ayah dan ibumu, mereka ingin melepas nazarnya padamu" Aira menundukkan kepala tak mampu menatap wajah paman tuanya.


"Ini atas nama nazar ibu mu, katanya *jika suami mu seorang petani, maka akan di beri modal setumpak lahan kebun atau sawah, jika pedagang maka senilai seekor sapi ternak* "


"Iya begitu, jika kalian pandai mengelola modal itu, maka kalian juga yang akan menikmatinya kemudian hari" paman tua menambahkan lagi. sementara paman Fauzi yang bungsu hanya manggut-manggut kepala tanda setuju.


"oh ya, Anwar. coba kamu taksir berapa nilai barang yang kamu miliki sekarang?" paman tua melontarkan pertanyaan pada Anwar, sementara paman Faisal menatapnya dengan sombong sambil menyeruput rokok.


Bagai disambar petir Aira terkejut mendengar pertanyaan paman tua. sejenak dia menengadahkan kepalanya melihat ke pamannya.


Kalian semua kaya juga atas usaha ayah dan ibuku.


"Tidak seberapa hanya sekitar seratusan, Levis dan kemeja itu memang kelihatan sedikit tapi modalnya mahal, satu kantong kecil saja, belanja saya bisa dua puluh juta" Anwar menjawab dengan tenang. sebenarnya hatinya sedang panas sampai ke ubun-ubun.


"Kami tidak ingin ikut campur dalam bisnismu, kami hanya ingin yang terbaik buat kemenakan kami, secara adat kamu statusmu sekarang adalah kemenakan kami" paman Faisal mulai mengeluarkan ultimatum nya.

__ADS_1


Anwar menundukkan kepalanya kembali, tidak ingin melihat wajah kesombongan paman. sementara Aira matanya berkaca-kaca, tidak bisa menahan air matanya.


"Sebenarnya kami juga baru tahu, kalau selama ini kamu berjaya berkat Usman, jika kamu tahu, Usman itu masih keluarga besar kami" paman Faisal menurunkan suaranya. ciut mendengar nominal yang disebut Anwar.


"Kemaren dia bertemu dengan ku, katanya sekarang dia membangun toko baru lagi di kota xx" paman tua menyukai topik tentang Usman yang tidak menetap di desa.


"Karena waktu semakin larut, sebaiknya kita lanjutkan ke tujuan saja" paman Fauzi menengahi.


"Jadi bagaimana menurut kalian sebagai orang tua, karena ini sebenarnya wewenang kalian, kami hanya mengiyakan saja. tidak sama dengan adik kita Fauzi, setelah menikah dia membawa modal ke rumah istrinya lima puluh juta!" terlihat jelas sindirannya.


toh usaha yang dimiliki Anwar juga untuk ngasih makan istrinya.


"Kalau begitu menurut tetua, maka saya menurut nazar saja. masalahnya sekarang, berapa nilai satu ekor sapi yang akan kami beri?" ayah bertanya balik.


"kemaren si Yogi menjual sapinya 15juta, itu sudah sapi besar pula" paman Faisal langsung menjawab.


"hh.. jadilah kalau begitu keputusannya, bagaimana kalau dua puluh juta saja, cukup untuk satu kantong kemeja. dan kamu Anwar tidak bisa menolak" paman tua memberikan kesimpulan


"Tapi Selasa depan sudah di berikan, karena Rabu kan musti belanja barang ke kota!" paman Faisal lagi yang bicara.


Setelah jam sebelas lewat, sidangnya baru usai mereka pulang ke rumah istrinya masing-masing.


Yang tinggal di rumah pun bubar ke kamar yang ada. semenjak sidang tadi dan Pamannya pergi, Anwar merasa harga dirinya hilang. sepertinya mereka benar-benar menakar nyali Anwar.


Aira yang melihat suaminya direndahkan menjadi kasihan, dan berjanji dalam harinya akan selalu mendukung suaminya, karena itu adalah kewajibannya.

__ADS_1


__ADS_2