Cinta Karena Kewajiban

Cinta Karena Kewajiban
Hilang Tengah Malam


__ADS_3

Setibanya di rumah Aira mengambilkan minum untuk suaminya. seperti yang biasa dilakukan ibunya jika ayah sudah duduk dirumah "semoga kamu nyaman dengan keluarga ku, Ai" kata Anwar, merasa tak enak dengan Aira.


"mh" jawab Aira singkat. dia tidak berpikiran negatif sedikitpun terhadap keluarga suaminya. Aira merasa senang dihargai keluarga anwar. keluarga yang ramah penuh canda tawa.


Anwar meneguk minumannya, dia kehausan sejak tadi. Anwar mencoba menjelaskan keadaan orang tua dan keluarga yang menurutnya tidak sepadan dengan Aira. Anwar sebagai anak sulung akan bekerja keras melanjutkan usahanya demi masa depannya dan orang tuanya.


"terus bagaimana dengan kerjamu di sekolah, berapa lama izin liburnya?" tanya Anwar yang sejak tadi mendominasi pembicaraan.


"Aku di beri izin lima belas hari kerja," Aira menjawab seperlunya.


"Kamu bisa tetap melanjutkan apa yang menjadi rutinitas mu, aku akan menemanimu, kemanapun." kata Anwar meyakinkan Aira.


"terimakasih," balas Aira yang masih malu-malu untuk bertemu pandang dengan suaminya.


Karena terlalu serius berbincang-bincang, pasangan pengantin baru tak sadar bahwa orang tua dan adiknya telah masuk rumah tanpa terdengar salam, mereka sudah sejak tadi memperhatikan Anwar dan Aira. mereka bahagia bisa melihat Aira dengan suaminya.


"eh, Ayah. maaf kami tidak menjawab salam" sapa Anwar yang membuat ayah menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"tidak apa-apa" jawab ayah sambil duduk di kursi yang biasanya.


Aira segera meminta pamit ke dapur sebentar, setelah Anwar memberinya kode dengan mengangkat gelas minumnya. Aira membuat kopi untuk ayah.


Sementara Anwar asyik ngobrol dengan ayah. Aira masuk ke kamarnya untuk mandi, membersihkan tubuhnya yang berkeringat sejak tadi. Aira mengunci pintu kamarnya dari dalam, takut tiba-tiba Anwar masuk.

__ADS_1


Aira mengambil hpnya dan membaca pesan dari Haris *Ai, jaga dirimu, besok aku akan pergi ke Jakarta. bahagia selalu untukmu*


*Bang, sampai saat ini Ai masih menjaga kesucian Ai, Aku belum bisa menerimanya* balas Aira.


Dia menunggu hpnya berdering, namun masih belum ada jawaban dari balik layar hpnya.


diluar hari mulai gelap, matahari hampir tenggelam di ufuk barat. pikiran Aira mulai tak tenang, mengingat akan hadirnya malam.


Aira memperhatikan sekeliling kamar, bagaimana ia menghindari suasana nanti, tak mungkin juga dia mengajak Sifa menemaninya tidur. membayangkan Omelannya saja membuat Aira takut.


tiba-tiba Aira melihat tempat tidurnya yang tingginya sepinggang, di pinggirnya tertutup rempel sprei yang indah sampai ke lantai.


"hah..." perasaan Aira mulai lega, kemudian ia kembali ke cermin dan menyimpan hpnya. jika ibu melihatnya memegang hp nanti curiga lagi. dia sudah janji dengan ibu tidak akan berhubungan lagi dengan Haris ataupun Tomi yang meski cuma sebatas teman.


Acara malam keluarga berlanjut dengan makan malam bersama. sibawel Sifa menjadi lebih semangat lagi menggoda Aira.


"kak, di ambilkan tuh kak Anwar nasinya!" perintah Sifa yang langsung dilakukan Aira dengan memberi kode kesal.


Anwar merasa senang dengan perlakuan Sifa. dia lebih mudah menyesuaikan diri dengan Sifa daripada Aira yang kaku "kamu yang banyak makannya, Anwar. inikan sudah menjadi rumahmu juga" kata ayah.


"ya, ayah" jawabnya singkat sebelum memasukkan makanan ke mulutnya. semua makan dengan tenang. setelah makan selesai Iyan pamit untuk ngumpul bersama teman-temannya. dan segera meninggalkan rumah dengan motornya yang bising.


Sementara Anwar asyik berbincang soal kelanjutan bisnisnya dengan ayah, ketiga perempuan di rumah itu, bekerja sama membereskan meja makan dan mencuci peralatan makan yang kotor. ibu Aira hampir tak pernah membiarkan peralatan kotor menumpuk sampai pagi.

__ADS_1


Setelah selesai di dapur, Aira segera masuk kamar tanpa diketahui ibu dan Sifa. Di dalam kamar Aira segera shalat isya, kemudian memasukkan tikar dan bantal ke bawah kolong tempat tidur. sebelum tidur dengan di bawah kolong dilonggarkan tutup pintu kamar.


Malam semakin larut, akhirnya ayah menutup pembicaraan dengan Anwar "hari sudah larut, ayah istirahat dulu, nak Anwar. besok pagi-pagi ayah harus ke kebun pula!"


"baiklah, yah. saya juga mau tidur!" jawab Anwar dengan senyum menandakan setuju.


setelah ayahnya menghilang, Anwar pun segera menuju kamar. Aira mungkin saja sudah menunggunya.


"hah..." Anwar terkejut tidak ada Aira di tempat tidur, dilihatnya dalam kamar mandi, tidak ada juga. dikibasnya semua gorden, semua kosong. tak mungkin juga dia keluar malam-malam yang gelap begini.


Jika ingin menghubungi hpnya, nomor Aira saja Anwar belum punya. apa mungkin Aira tidur di kamar Sifa, lampu di luar kamar sudah dimatikan, jika Anwar menghidupkan kembali takutnya membangunkan seisi rumah.


"Aira, Aira. kemana kamu, Ai" bisik Anwar pelan, di usapkan kedua tangannya ke wajah*nya, kepalanya sedikit pusing. dia rebahkan tubuhnya di sofa. pikirannya menerawang mengingat Aira yang tak tahu entah dimana.


Beberapa menit kemudian ia teringat Sifa, mungkin dia bisa diandalkan.* Anwar keluar mengetuk pelan-pelan pintu kamar Sifa.


tok...tok... apa Sifa sudah tidur ya, karena kan sudah larut. beberapa kali Anwar mengetuk pintu kamar, Sifa tetap tidak terbangun.


Anwar kembali ke kamar dengan tangan hampa. di ulangnya mengelilingi tempat tidur yang sejak kemaren belum sprei nya belum diganti, hatinya hancur melihat kamar pengantin yang kosong.


"Aira, aku tidak akan menyakitimu, aku tidak akan memaksamu, aku akan menunggu sampai kamu siap!" Anwar menangis meratapi pernikahan yang diimpikan selama ini akan baik-baik saja.


Kelelahan akhirnya mengalahkan kesedihan Anwar. dia tertidur dengan pulas setelah lewat pukul dua tengah malam. karena tidak mungkin juga dia menanyakan istrinya kesana kemari, yang ada dia akan dicaci dan dicemooh warga.

__ADS_1


_._._._._..__.._._._.._._.__._.


__ADS_2