
** Aira
Aku begitu lelah sekali sore ini, tanpa aku sadari hampir saja aku melewatkan shalat ashar ku. kubuka mata dan perlahan ku elus-elus sekitar perutku yang membesar. karena setiap dia bergerak kencang dan terasa menendang-nendang akan kembali tenang setelah merasakan sentuhan tanganku sambil membisikkan doa untuk calon anakku yang sebentar lagi akan hadir di dunia.
Dalam hati aku bertanya "kemana mas Anwar yang tadi tidur di sampingku?". aku edarkan pandanganku ke seluruh ruangan kamar tapi bayangannya saja tidak ada. aku bertindak untuk berwudhu dan menunaikan ibadah empat rakaat terlebih dahulu. biarkan penasaran itu terjawab dengan sendirinya.
Selesai shalat aku berdoa untuk kehidupan ku. Ku lipat mukenah dan sajadah serta menyimpannya di tempat yang seperti biasanya. aku kepikiran mas Anwar lagi.
Sudah selama ini kenapa belum kembali???
Berharap akan menemukan jawaban. Ku langkahkan kakiku keluar kamar, bertanya pada Sifa atau ibu. perutku terasa semakin berat, hingga aku harus memapah bahagian bawah dengan kedua telapak tangan agar lebih nyaman.
"Kakak kenapa?" Sifa menatap ku dengan bingung.
"Gpp dek, emang ada apa dengan diri kakak, dek?" aku bertanya balik. Heran.
"Lihatlah wajah kakak memerah dan sembab, apa yang terjadi?"
__ADS_1
"Tidak ada. kakak cuma baru bangun dan siap shalat ashar. oh, ya dek, kamu lihat mas Anwar keluar ngga?"
"Tadi Sifa lihat kak ipar memang keluar tapi tidak bilang apa-apa. coba kakak telpon saja!" Sifa ada benarnya juga. aku memutar tubuhku kembali tapi tiba-tiba "huuh.... " perut dan pinggang ku terasa sakit sekali.
"ibuu... ibuu... kak Aira Bu..." Sifa berlari meninggalkan masakannya.
Ibu yang sedang sibuk membersihkan kebun belakang terkejut dengan teriakan Sifa refleks berlari mendekati suara yang berteriak.
"Aira,,, apa kamu akan melahirkan?" ibu memegang Aira yang menahan rasa nyeri di bagian perutnya bersama Sifa.
"Ya sudah. istirahat saja dulu..." ibu memegang lenganku untuk berdiri dan membantu Aira berjalan pelan sampai ruang tengah. Duduk bersandar di atas sofa dengan kaki telunjur. ibu pamit mau cuci tangan dan mandi terlebih dahulu.
Aira memberi tahu bahwa dia lapar. Sifa mengambilkan makanan satu piring lengkap nasi, lauk, sambal dan sayur untuk Aira. setelah mengucapkan terima kasih Aira memasukkan makanan ke mulutnya dengan sendok berulang kali. setelah menghabiskan separuh makanan Aira meminum segelas air putih.
"Nomor kak ipar, tidak bisa di hubungi kak.."
Sifa memberi tahu setelah beberapa kali menghubungi ponsel Anwar.
__ADS_1
Hingga keesokan paginya, tidak ada kabar dari Anwar. ponselnya pun tidak diaktifkan. Aira cemas sekali, entah apa yang terjadi pada suaminya. Tapi juga takut mengatakan pada keluarga nya, karena itu akan lebih menyakitkannya. Belum lagi nyeri perut dan pinggang yang harus ditahannya. situasi ini membuat Aira harus izin libur kuliah lagi.
Pada malam hari ke-3 akhirnya Anwar kembali ke rumah Aira. Ayah dan ibu Aira yang melihatnya masuk rumah hanya sekedar menjawab salam tanpa bertanya ini itu. mereka memilih diam dan tidak ikut campur urusan rumah tangga anaknya.
Anwar memasuki kamarnya dan mendapati istrinya sudah tertidur. Ditatapnya seluruh bagian tubuh Aira yang miring ke kanan dari belakangnya. Ada sesal yang timbul dalam pikirannya.
Kamu pasti sedih beberapa hari ini, karena aku tidak memberi kabar. sungguh aku menyesal Aira. Aku tidak akan meninggalkan mu lagi, meski apapun yang terjadi..
_
_
_
_
Happy reading....
__ADS_1