
kata-kata Haris di atas motor tadi, membuat Aira sangat tidak nyaman, meskipun ia tahu bahwa Haris itu suka bercanda berlebihan bahkan kadang mematikan lawan bicara yang sok tahu.
Aira benar-benar berubah, jalannya kikuk dengan tangannya dipegang Haris, ia merasa tak nyaman meski sudah sering kesini bersama Haris and the Genk. Haris malah memanfaatkan situasi semakin mengeratkan pegangan tangan dan sesekali melirik ke mata bulat milik Aira.
Ai..Ai.. mengapa kamu semakin cantik aja sih, nyesel aku dulu pernah ngekek kamu. bisik hati kecil Haris.
"mau makan gado-gado pedas, Ai...?" yang ditanya hanya menggeleng. "aku perhatiin kamu kok udah kayak putri salju yang membeku sih, Ai? dimana Aira yang ceria yang polos setahun lalu?" sepertinya ini pertanyaan yang serius
"aku nggak apa-apa, aku tak tahu harus bagaimana lagi melanjutkan perjalanan hidup ku, Hiks..hiks" merasa putus asa
" jangan takut Ai,, aku masih sayang kamu, jangan nangis, ini tempat umum, nggak enak dilihat orang"(sambil memegang kedua telapak tangan Aira)
Haris berusaha mencari tahu isi hati Aira
__ADS_1
"kalau kamu nggak enak, jangan ajak aku, nanti kamu telat kerja!hhmm" Aira sangat tertekan saat berada dekat anak RT ini.
"aku hari ini izin libur ke toko, dulu aku kerja karena kamu, sekarang aku jadi malas kerja juga Ai..."Haris makin merendahkan suaranya pada gadis yang telah merubah hidupnya.
"aku tak ingin kamu sepanjang hari menagisi hidup, Ai. ibu kost mu sudah memberi tahuku semua tentangmu, aku hanya kamu move on dan ceria seperti dulu lagi"
Aira tetap membisu seribu bahasa sambil sesekali mengusap air matanya, "apa yang bisa kulakukan untuk mengembalikan, Aira ku yang dulu?" mengapa kamu yang memohon celetuk Aira dalam hati.
"ayok, kita pulang!" ajak Haris yang sedari tadi tidak melepaskan tangan Aira. setelah selesai membayar haris langsung menaiki Vespa putihnya, dengan wajah yang juga sedikit muram memikirkan kekasihnya.
selama perjalan pulang sekitar dua puluh menit hanya suara Vespa tua itu yang terdengar, sepertinya pak sopir lagi konsen bawa kekasihnya yang kalem belajar jadi calon ustazah coy.
sesampainya dekat rumah Aira meminta pacar nya itu untuk tidak masuk ke halaman rumah, tapi dasar si pendek tetap juga kekeh ngantar sampai teras malah membuat bi Tuti menutup kedua telinga dengan telapak tangan, Haris merasa senang membuat orang tua itu terkejut. itulah yang membuat Aira berfikir panjang untuk melanjutka hubungan dengan Haris yang tak bisa diajak dewasa.
__ADS_1
"maksih ya," Aira ingin cepat mengadu perasaannya pada diarynya, "hai calon ustazah, tuh kepala" Haris memanggilnya begitu karena akhir-akhir ini Airin sering berhijab, dan mulai pendiam.
"maaf" Aira gugup karena Haris tiba-tiba membantunya membuka gagang helm di dagunya. sambil berbisik pelan ke telinga Aira "jangan minta maaf" Aira semakin gugup karena malu dengan bi Tuti yang sedari tadi memperhatikan nya sambil menyapu teras yang tak bersampah itu.
"maaf ya bi, Aira masuk dulu," Aira selalu sopan pada siapapun bi Tuti pun sudah seperti orang tua baginya. "ho,,oh,'' jawabnya sambil melanjutkan pekerjaannya.
sesampai di kamar Aira langsung menghamburkan dirinya ke tempat tidur yang empuk itu, sambil memikirkan hari-hari nya dengan Haris, akan kah bisa untuk masa depannya atau hanya sebatas ini saja..
Sejak beberapa hari bersama Haris, Aira tak memikirkan untuk melanjutkan pendidikan lagi, tapi masa depan yah masa depan dengan seorang lelaki yang akan menjadi imamnya yang akan membimbingnya.
dilema lagi hidupnya.....
BERSAMBUNG
__ADS_1