
**Aira
Ternyata jadi istri itu tidaklah mudah, seperti cerita yang sering kubaca. aku berada di antara dua pihak yang saling berbeda pandangan namun aku tidak boleh membedakan diantara keduanya dan aku pun tidak akan mungkin menyatukan keduanya.
Di satu sisi aku mempunyai kewajiban untuk patuh pada aturan keluarga untuk mendapatkan dukungan agar aku tidak tersisih dari mereka sementara di sisi lain aku punya tanggung jawab untuk menjaga keutuhan hubungan ku dengan suamiku untuk masa depanku.
Suamiku yang merasa tidak percaya diri saat berkumpul dengan anggota keluarga ku selalu menjaga jarak bahkan tidak hadir saat ada acara keluarga, jika aku membujuknya yang ada aku yang dimarahi. terus jika keluarga ku bertanya aku harus mencari alasan yang dapat mereka terima meski harus berdusta...
Tuhan... aku butuh suami yang menyayangi ku dan juga peduli dengan lingkungan keluarga ku....
"Ai, tolong buatkan aku minum..." Aira tidak mendengar perintah Anwar. dia masih duduk di sajadahnya.
"Aira..." Anwar mendekati Aira mengangkat bahu Aira membantu nya berdiri. Aira sangat terkejut hingga wajahnya memerah dan merasa sedikit ketakutan.
"Sudah siang, nanti aku telat kerja..." Anwar membantu melipat sajadahnya dan Aira membuka dan menaruh mukenah. "i..iya, mas"
Aira pergi ke dapur untuk membuat segelas kopi susu dan segera membawakannya ke kamar karena Anwar sudah terbiasa mengopi pagi di kamar sebelum berangkat kerja.
bahagianya punya istri, tidur ditemani, mau makan atau kopi dibuatin... nyesel banget aku telat kawin. bisik Anwar dalam hati
"Mas, nanti aku pulang sore ya,," Aira selesai merapikan tempat tidurnya.
__ADS_1
"Jangan kecapean kerjanya, toh masih ada pegawai yang lain..." Anwar meneguk kopinya yang terakhir.
"nggak kok mas... lagian di rumah kan aku nggak ada kegiatan..." Aira merajuk membantu Anwar merapikan kemejanya.
"Yang penting kamu jaga anak kita..." Anwar mengelus perut Aira yang lebih besar dari biasanya. cup... tidak lupa mencium kening Aira sebelum keluar kamar.
Aira pun melepas keberangkatan Anwar sampai di teras depan. kemudian bersiap berangkat sekolah dengan di antar Sifa.
**Anwar
Entah mengapa aku belum bisa membuat Aira bahagia, meski aku telah menanam benihku dalam rahimnya. apa dia belum siap atau karena tuntutan keluarga nya.
Seperti nya aku harus lebih bekerja keras dan menabung untuk membeli rumah agar Aira lebih nyaman dengan ku, kalau sekarang kenyamanan ku dan Aira hanya sebatas pintu kamar saja dan sebentar lagi dia juga akan menjadi ibu dari anakku.
__.._._._._._._._._._._._._.
Hari berlalu bulan berganti, perut Aira semakin membesar namun berat badannya cuma 50kg an... wajahnya pun semakin pucat dan sayu setiap pemeriksaan tekanan darahnya selalu rendah... namun Aira selalu berusaha untuk kuat menjalaninya..
Sekarang usia kehamilan Aira memasuki bulan ke-6, setelah sholat isya bersama Anwar ingin mengutarakan maksudnya pada Aira...
"Ai, ayo duduk di sini sebentar..." Anwar menepuk tempat kosong di sampingnya.
__ADS_1
"Aku lelah, mau istirahat mas..." dengan lemas Aira berjalan ke arahnya setelah menaruh perlengkapan sholat nya.
"Cuma sebentar kok, ini penting sekali..." Anwar meneguk kopinya.
"Ada apa mas?" Aira bertanya penasaran dengan apa yang akan di sampaikan suaminya. selama Aira mengenal Anwar belum pernah melihatnya seserius ini.
Anwar memegang tangan Aira dengan hangat ke atas pahanya, "aku sangat berharap kamu bahagia dengan pernikahan kita, Ai. dan aku khawatir dengan anak kita..." diciumnya tangan Aira.
_
_
_
_
#happy reading...
#like and komen ya untuk motivasi author
#masih pemula
__ADS_1