Cinta Karena Kewajiban

Cinta Karena Kewajiban
Hamil 2


__ADS_3

Pukul lima pagi Anwar mengakhiri mimpinya dan bangun ke dunia nyatanya. diambilnya hp yang berdering untuk mematikan alarm.


Anwar ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudhu, kemudian shalat subuh.


Merasa tidak tega melihat Aira yang masih nyenyak tidurnya, Anwar tidak membangunkan istrinya dan berinisiatif membuat kopi sendiri ke dapur. biasanya kalau sepagi ini belum ada orang di dapur.


Anwar duduk di sofa menunggu kopinya dingin, di ambilnya sebuah benda kecil dari bidan kemaren. dibacanya petunjuk dan kegunaan benda itu tanpa meninggalkan satu katapun.


"oh ya, ini kan harus pagi digunakan" ingat Anwar kemudian membangunkan Aira " Ai, bangun... kamu tidak lupa pesan bidan, kan..."


"Mas, sudah siang ya, aku belum shalat subuh ..." Aira kaget dan langsung berdiri tapi tiba tiba kepalanya pusing. untung jatuhnya ke tempat tidur.


"Makanya bangunnya pelan pelan, mari mas bantu ke kamar mandi..." Anwar memapah Aira berjalan masuk kamar mandi.


"Pipis dulu, tampung pakai ini .." Anwar memberikan wadah kecil ke Aira. seperti memperlakukan adik kecilnya saja.


"ini mas..." Aira mengembalikan wadah setelah berisi setengah.


"mas keluar dulu mengambil tespec nya.." Anwar mengambil benda kecil yang sudah dibukanya tadi, perlahan di celupkan ujung benda sesuai batas garis ke cairan yang ada dalam wadah kemudian menariknya kembali.


1...2...3... belum ada perubahan garis. setelah diam sejenak muncul dua garis merah itu bertanda Aira positif hamil. Anwar merasa bangga melihat tanda itu, mengingat beberapa temannya yang nyinyir menanyakan hasil tempurnya.


"Mas, kamu kenapa kok senyum senyum sendiri, mana hasilnya. pasti negatif kan?" Aira menghampiri Anwar setelah meletakkan peralatan shalatnya.

__ADS_1


"Terimakasih Aira, aku akan menjaga kamu dan bayi kita..." Anwar memeluk erat tubuh Aira dan mengitari perut Aira dengan telapak tangannya. Anwar sangat terharu akhirnya dia akan menjadi seorang ayah.


"Tapi mas,.. " Aira sangat kecewa, baru tiga bulan menikah dan masih belum begitu akrab dengan Anwar, mengapa harus buru buru hamil.


Tanpa mempedulikan perasaan Aira, Anwar mengambil hp nya menghubungi Jaka.


"jek, hari ini kamu urus kerja sendiri ya" karena semangatnya Anwar lupa mengucapkan salam.


"kenapa, bos" tanya Jaka penasaran.


"Kamu nggak perlu cemas, aku gpp kok, kalau ada sesuatu nanti aku hubungi" Anwar memutuskan panggilan nya. mengembalikan hp ketempat semula.


"Hari ini kamu harus istirahat dulu, tidak boleh kemana-mana, aku akan menjaga kamu dan anak kita, Ai" Anwar membungkukkan badannya dan mencium perut Aira.


"Sudah mas, badanku lemes banget...." Aira mengacuhkan Anwar yang masih ingin membelai perut Aira.


"Ya sudah kamu istirahat dulu, mas keluar sebentar beli bubur kacang hijau, ya ..." Anwar mengambil dompetnya dan meninggalkan Aira.


Selagi Anwar pergi Aira ingin membantu ibu di dapur, "Bu, Aira bantu ya. apalagi yang harus dikerjakan...?"


"Tolong kupas bawang merah dan bawang putihnya saja..." ibu menunjuk ke meja sambil membalikkan gorengannya.


"Emang Kamu nggak masuk kerja, Ra?" tanya ibu sambil melanjutkan memasak "kamu sakit, ya ampun kamu pucat sekali...."

__ADS_1


"Tidak apa-apa Bu, kata bidan mungkin cuma bawaan tapi untuk beberapa hari ini Aira harus istirahat dulu..." Aira memberikan penjelasan.


"MasyaAllah... kamu hamil, Ra. baru tiga bulan lho" ibu merasa tidak percaya "ibu saja dulu dua tahun baru bisa hamil kakakmu, tapi syukurlah berarti ibu bakal punya cucu..."


"Aira juga belum yakin sih Bu, tapi begitu kata bidan Mardani, kemaren.." Aira tidak merasa bahagia menceritakan tentang kehamilannya.


"Yang penting jaga dirimu dan calon anakmu dengan baik, kalau lihat yang bagus-bagus, bicara baik baik karena anak itu cerminan kepribadian kita..." ibu menjelaskan tradisi ibu hamil di desa.


Anwar sudah kembali membawa beberapa bungkus bubur kacang hijau, roti dan buah apel. ditaruhnya belanjaannya di atas meja makan dan mengambil piring untuk menghidangkan pada Aira.


"Mas sudah pulang, ya?" Aira kaget melihat Anwar yang semangat sekali.


"Aira, kamu kan masih sakit " Anwar mendekati Aira yang duduk melihat ibu memasak.


"Ibu sudah memintanya untuk kembali ke kamar, tapi Aira nya tak mau...." ibu hampir selesai memasak. "Ra, ayo pergi sana. turuti apa kata suami mu!" memberi kode kepada Aira.


Kasihan sekali melihat Anwar yang harus sibuk melayani Aira. ibu.


Aira mematuhi apa yang dilakukan Anwar, memakan bubur kacang yg sudah di hidangkan, meminum obat dan segelas air putih yang harus dihabiskan.


ibu dan ayah yang melihatnya tersenyum bahagia melihat tingkah putrinya yang manja dengan suaminya. mereka membayangkan betapa bahagianya disaat mereka dipanggil kakek dan nenek nanti.


_.._._._

__ADS_1


HAPPY READING GUYS...


__ADS_2