Cinta Karena Kewajiban

Cinta Karena Kewajiban
Kecemasan Ibu


__ADS_3

Sesampainya di rumah ibu Aira yang biasa dipanggil dengan sebutan Bu Lela merasa kesal sekali. dengan gusar ibu meletakkan keranjang berisi belanjaannya di dapur. Hatinya hampir meledak menahan emosi dari pasar. Dia nyerocos sendiri sambil mengumpat ibu-ibu yang mengatakan anak perempuannya tadi di pasar. "toh dia juga punya anak perempuan, belum tentu juga anak-anaknya baik, semoga apa yang mereka katakan tadi akan kembali padanya...."


Bu Lela sungguh tak menerima apa yang sedang jadi buah bibir tetangga. mereka bilang Aira anak tak tahu malu, mereka bilang pergi ke mesjid karena ingin pacaran lah dan mungkin takut tak ada jodohnya, dia kan tak seperti adiknya yang bisa melakukan apa saja. bagaimana kalau Aira melakukan yang tak diinginkan dimana mau di taruh muka keluarga yang selama ini jadi panutan. ucapan mereka memang sudah kelewatan.


Memang faktanya yang berlaku selama ini di kampung mereka begitu, kalau ada anak gadis yang sudah tamat sekolah akan membuat risih keluarga saja perlakuannya, yah walaupun mereka tidak berbuat yang aneh-aneh, tapi mah mulutnya tetangga saja yang lebih aneh.


Melihat anak gadis orang lain sedang berduaan dengan pemuda, dia bilang yang enggak-enggak. itulah resiko punya anak gadis di desa dan salah satu cara untuk menutup mulut mereka adalah dengan segera menikahkannya kalau dia belum punya kekasih, yah harus segera di ta'aruf kan atau di Carikan calonnya tanpa menyebut di jodohkan karena sekarang bukan zaman Siti Nurbaya.


Setelah lelah dengan umpatan dan mengoceh sendiri, Bu Lela duduk menyandarkan dirinya di kursi yang terdapat di sekitar meja makan. dia masih memikirkan kata-kata didengarnya sangat jelas di telinganya, selintas membuatnya pikirannya terhasut bahwa memang anaknya sudah patut untuk menikah dengan usia nya yang sudah menginjak dua puluh tahunan.


Memang sudah saatnya anakku menikah, siapapun yang datang melamarnya aku akan menerima dengan rasa syukur. bisikan hati kecil ibunya yang ingin segera menutup mulut tetangga yang suka menceritakan Aira.

__ADS_1


_._._.._._._..._._._._.__._.._._._._._.._


"Bu" terdengar suara Sifa yang nyaring memanggil ibunya karena dia tak melihat makanan di bawah kerudung meja makan. perutnya sudah keroncongan dari tadi.


"Ada apa sih dek? jangan teriak-teriak dong, manggil ibu!'' Aira yang baru pulang dari sekolah langsung menyahuti panggilan Sifa.


"kak, Sifa udah lapar!" rengek Sifa. Aira meminta adiknya yang manja menunggu sebentar. Dia masuk kamar mau menyimpan tas dan ganti pakaian kerjanya dulu dengan pakaian gamis rumah. tak lama Aira segera bergegas ke dapur dan melihat keranjang berisi belanjaan masih tergeletak di lantai.


"iya, nak. ada apa?" ibu membuka pintu kamarnya dan memasang wajah biasa saja seakan dia habis tidur karena kecapekan belanja kebutuhan mingguan di pasar.


"itu, Aira mau bantu menyimpan belanjaan ibu, sekalian masak juga" Aira menawarkan bantuan pada ibu. ia merasa kasian melihat ibunya yang terlihat lelah.

__ADS_1


"iya, ajak Sifa sekalian, biar cepat!" ibu menyuruh Aira memanggil adiknya Sifa yang masih asyik dengan chat nya. Aira mengajak adiknya untuk beranjak ke dapur sambil melihat sepintas adiknya mengetik chat di hpnya.


"cie,,, cowoknya ya, dek?" Aira bercanda. "apaan sih, kak? makanya pacaran, donk!" sela adiknya. "lagian kak Bobi cocok kok, sama kakak!" ia menimpali pembicaraannya.


"Apaan sih, dek" muka Aira memerah merasa malu dengan adiknya " kakak tidak pacaran sama kak Bobi, dek" tambahnya.


"kak Tomi juga cocok kok, Sifa senang kalau dia jadi ipar, Sifa!" Sifa mengolok-olok kakak nya yang pemalu. dia hanya ingin membuatnya kakaknya percaya diri, bisa bercanda bersama. "tapi,, kak Haris lebih pas buat kakak, dia perhatian dan sangat romantis" Sifa tahu tentang Haris dari diary Aira yang dibaca dengan sembunyi-sembunyi.


"Sssst, "Aira memberi kode supaya tidak kedengaran sama ibunya. Aira meminta Sifa menyimpan belanjaan dan membersihkan daging sementara Aira membantu ibu menyiapkan bahan-bahan untuk memasak rendang. Aira dengan sigap membantu ibu.


Dia ingin segera bisa memasak dan mengelola dapur menggantikan ibunya, biar nanti kalau ibunya pulang bekerja dari sawah atau kebun bisa istirahat.

__ADS_1


_._._.._.._._.._._._._._._..._._.._._.__._..__._._._.__.


__ADS_2