Cinta Karena Kewajiban

Cinta Karena Kewajiban
Pernikahan


__ADS_3

Ujian semester awal telah selesai. tak terasa begitu cepatnya waktu berlalu. Dan usia Aira pun semakin bertambah. setiap bertemu dengan anggota keluarga ataupun tetangga lainnya, ia selalu mendapatkan pertanyaan yang sama "kapan nikahnya, Ra?" jadi nyinyir deh.


beberapa hari terakhir, ia memilih untuk mengurung diri setiap pulang dari kegiatan rutin di sekolah. sampai-sampai untuk pergi ibadah ke mesjid pun tak lagi jadi kebiasaannya.


Sudah beberapa hari rumah Aira selalu ramai, semua anggota keluarga besarnya dan tetangga berkumpul di rumah untuk mempersiapkan perhelatan Aira. semua punya kesibukan masing-masing.


Tapi dia tetap masih menyendiri di kamarnya yang sudah dihias. ingin rasanya ia berlari menemui Haris, namun rasa takut pun datang saat mengingat nasehat paman padanya beberapa minggu lalu, bahwa ia akan menikah dengan pria pilihan keluarganya, karena mengingat dia anak perempuan tertua, orang tuanya tidak bisa jauh darinya dan itu semua demi masa depan Aira dan nama baik keluarga.


Pukul tujuh pagi Aira sedang asyik menuliskan sms buat Haris ingin minta izin terakhir. *bang, maaf Ai tidak bisa pegang janji. semoga nanti abang mendapatkan pendamping yang lebih baik. mohon doakan Ai ya, bang!*


tiba-tiba ibunya masuk ke kamar diikuti dua wanita yang akan membantu menghias Aira. kebetulan pintunya tidak tertutup rapat.


Ibu mendekati Aira dan mengusap punggungnya dengan telapak tangan kanan sambil berkata "nak, kamu segera bersiap, ya!"


"Maaf, Bu!" Aira merebahkan diri di pangkuan ibu, menangis terisak-isak namun suaranya agak ditahan takut kedengaran yang lain.


"Ibu tahu perasaan mu nak, semua demi kebaikan kamu, sayang. ibu yakin ini terbaik untukmu!" ibu jadi ikut sedih melihat anaknya yang menjadi pemurung sejak mengetahui bahwa calon suaminya adalah Anwar yang tidak mungkin dicintainya, apalagi dengan jarak usia mereka sepuluh tahun.


Sebenarnya Aira pernah melakukan penolakan perjodohan ini pada ibu, namun ibu tidak bisa membantu karena paman Aira telah terlanjur membuat persetujuan ke dua belah pihak. jika persetujuan dibatalkan akan merusak nama baik keluarga besarnya yang selama ini dipertahankan.


Tangan ibu segera memegang bahu Aira, diwajahnya terlihat jelas sangat mengharapkan Aira mengikuti semua prosesinya. Aira yang tak pernah membantah ibu, segera berdiri untuk membersihkan diri di kamar mandi.


Dua orang dari salon kecantikan memakaikan gaun pengantin dan mendandani Aira. karena wajah Aira yang sembab penata rias jadi agak lama merias wajahnya.

__ADS_1


Aira terlihat anggun dengan gaun putihnya, yang diujung kepala berhijab nya di letakkan mahkota silver.


Setelah selesai dengan riasannya, semua orang berkumpul di mesjid untuk proses ijab Qabul antara ayah dan mempelai pria. hanya satu kali ucapan sakral itu dilafalkan, tiba-tiba terdengar semua orang bersorak aamiin dengan wajah bahagia.


_.._._..__._..._._.._.._.._.


Tubuh Aira seakan tak lagi berpijak di bumi, badannya seakan tak berdaya seharian dia harus berganti pakaian sebanyak tiga kali, hiasan di kepala yang berat belum lagi harus senyum disaat para tamu undangan menyapanya.


selepas isya, rumah Aira mulai sepi. semua orang sudah pulang ke rumahnya masing-masing. hanya tersisa beberapa orang kerabat dekat yang akan menyelesaikan urusannya.


Aira yang dibantu oleh Dina membuka pakaian pengantinnya. sangat takut membayangkan akan datangnya malam. ia menahan sepupunya itu tetap berada didekatnya. ia memohon agar Dina tetap berada dalam kamar bersamanya.


Tiba-tiba Anwar berdiri di pintu kamar, Aira tetap memegang tangan Dina. "jangan keluar, Dina. hiks..hiks!" pinta Aira.


"sekali ini saja,!" Aira menangis


"ya sudah, kamu temani saja ya, Din!" perintah Anwar yang kasihan melihat Aira.


"tapi, mas!" Dina tak ingin jadi penghalang mereka.


"kamu temani Aira, mas akan tidur di sofa saja." jawabnya pelan.


"tapi apa kata orang nanti, aku nggak mau disalahkan!" Dina dengan tegas menolak.

__ADS_1


"Dina, tidak akan terjadi apapun malam ini. temani saja temanmu, atau aku yang keluar!" kata Anwar dengan suara ditahan agar tidak terdengar keluar.


Dina yang tak tega dengan Aira pun mengikuti berbaring di atas kasur, karena kelelahan mereka begitu cepat tertidur.


Sementara Anwar yang tak menyangka akan begini jadinya, hanya menghabiskan malamnya dengan menghisap rokok sesekali dia menghembuskan asapnya membentuk lingkaran, ia memikirkan bagaimana caranya mengambil perhatian Aira.


_._._._._.__._.._.__._..__._._.__.._._._


Suara panggilan subuh membangunkan Aira, ia segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. kemudian dia melakukan ibadahnya. sesaat ia amati seluruh sisi kamarnya ditempat tidurnya Dina masih tidur.


sementara suaminya Anwar tidak ada lagi di kamar.


Aira membayangkan jika sampai Anwar pulang ke rumahnya, maka ia akan dihadapkan di depan mahkamah pamannya.


karena dalam adat matrilineal pria tinggal di rumah keluarga istri.


Aira berusaha mencari tahu ke luar kamar, ternyata Anwar sedang minum kopi bersama ayah di ruang tengah. ia merasa lega. kemudian berjalan ke dapur ingin minum air putih.


"Hah, Aira. kamu tidak keramas pagi ini?" tanya ibu. Aira heran mengapa demikian lalu ia menatap ke ruang tengah diperhatikan suaminya, hah sepertinya dia habis mandi pagi.


"Ra, kamu harus mandi junub sebelum subuh!" ibu berbisik ke Aira lagi. padahal Aira tidak melakukan apa-apa untuk apa mandi pagi-pagi, toh tidak berbuat apa-apa.


_._._._._._._._._._.._._._._

__ADS_1


__ADS_2