
Waktu terus berlalu, hari pun berganti, namun nasib Anwar memang belum beruntung. setiap kali ia menginginkan ***** dari Aira selalu ada hambatannya.
Siang ini dia gagal lagi padahal tinggal beberapa trik lagi, dia bisa mendapatkan kesucian Aira, tapi keburu Aira memanggil nama Haris. *mengapa harus Haris yang ada di hatimu, Ai.*Anwar merasa kesal sambil memikirkan bagaimana caranya membuang nama Haris dari ingatan istrinya.
Anwar bangkit untuk membersihkan tubuhnya yang lengket dan berkeringat. setelah melihat Aira berjalan keluar dari kamar mandi. meski sempat kesal dengan sikap Aira, namun ia tetap semangat melihat Aira yang pelan pelan melakukan perubahan pada dirinya. seperti kali ini Aira mulai membuka hijabnya dalam kamar, yang berarti dia mulai menerima Anwar.
Selesai mandi, Anwar merasakan kesegaran dalam dirinya. sekarang dia punya ide untuk menghabiskan waktu berdua dengan Aira, mungkin Aira butuh penyegaran dan hiburan agar lebih dekat lagi dengannya.
"Ai, terimakasih untuk hari ini, jangan buat aku menunggu lebih lama,ya. percayalah aku tidak akan sia siakan kamu, Aira..." Anwar mendekati Aira yang sedang duduk di sofa kamar mereka.
"hmm...." Aira membalas tatapan Anwar. mata mereka saling bertemu pandang. *aku sangat bersyukur, memiliki suami yang sabar menerima ku apa adanya* bisik hati kecil Aira yang mulai mengagumi sosok suaminya.
"aku mau minum kopi buatan kamu, Ai. tapi jangan terlalu manis ya, soalnya manisnya sudah ada pada kamu...." Anwar menggoda Aira sambil mencubit dagunya yang agak bulat.
Dengan menyunggingkan senyum kecil, Aira berjalan ke luar kamar pergi membuat segelas kopi yang diminta Anwar.
"Ehemm... kak Aira. sudah buka jilbab nih ceritanya. mana rambutnya basah lagi.…" Sifa yang sedang makan siang di meja makan menggoda Aira.
"Kamu sudah pulang, dek. habis makan, bantuin masak, ya...!" Aira mengacuhkan ejekan adiknya. "ibu pulangnya mungkin agak sore nanti"
"iya, tapi jam tiga nanti ya. Sifa mau istirahat bentar dulu soalnya!" Sifa menyetujui kakaknya.
__ADS_1
"kakak, ngantar kopi dulu, ya. jangan lupa..." Aira berjalan menuju kamar dengan segelas kopi di tangannya.
"iya,,iya. itu baru namanya istri Soleha" Sifa selalu mengajari Aira walaupun dia masih kelas dua SMA tapi gaya bicaranya jauh lebih dewasa dari Aira. kadang orang sering salah menilai mereka, menganggap Sifa yang jadi kakak bukan Aira.
"Ini kopinya. aku keluar sebentar, ya....!" Aira pamit. Anwar memegang tangan Aira. menahan Aira agar menemaninya minum kopi "temani aku dulu, ya..." mencoba menunjukkan sikap manjanya pada Aira.
Anwar menggenggam tangan Aira, dengan patuhnya Aira duduk di samping Anwar tanpa melepaskan pegangan tangan. Anwar merangkul bahu Aira dengan tangan kiri sedangkan yang kanan memegang gelas berisi kopi siap diminum.
"Ai, masih ingat waktu pertama kamu buatkan aku kopi di rumah Erni?" Anwar teringat saat pertama Tante Tisya menawarkan Aira jadi istrinya.
"hm... memang kenapa?" Aira balik bertanya
"Aku tidak ada apa apa dengannya, hanya sekedar teman saja!" Aira memijit mijit lutut suaminya.
"Terus bagaimana kamu dengan Haris?" Aira terkejut dengan pertanyaan suaminya.
"Aku kan sudah jadi istrimu, jadi aku tidak ada hubungan apapun lagi dengan laki-laki lain..." Aira mengangkat kepalanya, melepaskan pegangan Anwar.
"Maksud aku, bukan gitu Ai. aku hanya merasa belum memilikimu seutuhnya, kamu sering menyebut nama dia dalam tidurmu.... " Anwar meneguk kopinya lagi untuk membuatnya lebih tenang.
"Jangan tanyakan itu lagi padaku. jika aku begitu, mungkin aku telah menolak perjodohan ini dari awal. tapi,,,, buktinya apa. aku menjadi milikmu, kan? hiks....hiks... Aira dengan emosi menjelaskan panjang lebar pada Anwar.
__ADS_1
"Jangan marah, aku hanya sekedar meyakinkan hatiku, Ai…!" Anwar menatap wajah Aira yang merah padam karena emosi.
"Mas, untuk kamu tahu keinginan ku menikah hanya untuk satu kali seumur hidupku. masa lalu tidak akan ku ingat lagi. jika aku ngigau memanggil nama Haris, itu diluar kemauan ku, aku tidak pernah berharap apapun lagi dengannya...... hiks...
Aira yang tidak bisa marah, menangis menjelaskan pada suaminya. Mereka sama sama menangis mengeluarkan isi hati masing-masing.
"Tapi Ai, diarymu tidak mungkin berdusta, aku membacanya sendiri. kemarin pun kamu masih sms-an sama dia....
"Kamu jangan berprasangka buruk tentang nya, justru dia memintaku untuk menjadi istri yang baik dan memberikan ******ku padamu. tapi memang aku yang belum siap, mas..,"
"Jadi, kita begini dia pun tahu. betapa malang nasibku jadi laki laki..." Anwar meninggikan suaranya.
"Jika memang begitu, mulai saat ini aku akan membuang diaryku, dan menghapus nomornya juga di hp-ku..." Aira mengambil hpnya dan menghapus nama Haris di kontaknya "puas kamu, mas... mau apa lagi. bakar diary itu. silahkan aku tidak akan marah, lakukan saja apa yang kamu mau,,,
"kamu jangan begitu. aku tidak ingin berpisah, aku tidak sanggup hidup tanpamu... percayalah aku menginginkan semua baik baik saja,,... Anwar merendahkan suaranya. kedua telapak tangannya memegang kepala Aira yang tidak berjilbab. dia mengecup bibir Aira dengan penuh nafsu.
"hah... sudah mas. aku ada kerjaan di dapur... Aira mendorong tubuh suaminya.
"maafkan aku ya, Ai..." Anwar berharap Aira tidak menjauhi dan menolaknya lagi.
"tidak perlu minta maaf, aku juga salah..." Aira pergi kumur-kumur ke kamar mandi kemudian pergi ke dapur menyiapkan bahan masakan yang dibantu Sifa
__ADS_1