
Di rumah.
Setelah shalat magrib, ibu belum juga melihat Aira keluar dari kamarnya. bahkan sejak ibu dan ayah tiba di rumah sore tadi, mereka belum melihat batang hidung anak perempuan tertuanya. Sifa tidak mengatakan pada ibu karena ibu tidak bertanya.
"Mana kakak Sifa, kok nggak keluar?" tanya ibu yang mulai tak tenang saat menata makanan di meja untuk makan malam.
"Oh,ya. Sifa lupa mengatakan sama ayah dan ibu, tadi siang kak ipar mengajak kakak pergi periksa ke spesialis kandungan ke kota x.." Sifa mengatakan dengan gugup menatap ayah.
"Kok dia tidak bilang dulu sih, itu kan perjalanan jauh. kalau Aira makin kecapean gimana. lagian dia kan bisa bilang dulu, biar Iyan yang mengantarkan..." ayah marah hingga tak satupun yang berani mengambil makanan melihat mata merah ayah.
"dia kan juga bisa telpon. lagian aku tadi juga nggak ada job." Iyan menyokong pendapat ayah. "ini sudah tidak bisa dibiarkan. dia berani melangkahi kita di rumah kita sendiri..." Iyan juga ikut kesal.
"Sebenarnya kak ipar tadi minta Sifa mengatakannya tapi karena tidak ada yang bertanya, Sifa lupa mengatakan pada ayah dan ibu, katanya mendadak rujukan dokter desa..." Sifa sedikit membela Aira. sementara ibu hanya diam mengambil kesimpulan.
"Jika dokter yang minta, berarti sakit Aira serius , kalau terjadi sesuatu yang buruk apa dia mau menanggung sendiri, ayah?" Iyan tidak bisa menjaga emosinya. anak muda memang mudah naik darah. apalagi kalau sesuatu yang tidak ia sukai.
Setelah lelah melihat ayah dan Iyan membicarakan masalah Anwar, ibu menengahi mereka karena sudah cukup lama menunda makan malam mereka.
__ADS_1
"Ya sudah, sekarang kita makan dulu. setelah itu kita tunggu saja mereka pulang dan berdoa semoga mereka baik baik saja"
"Dan kamu Iyan jangan begitu sama suami adikmu, dia sekarang lebih berhak atas Aira. kamu kan juga laki laki..." ibu memukul pelan bahu Iyan. meredakan amarahnya dengan sabar.
"ayok makan... nanti kalau kita yang sakit kak Aira tidak akan sanggup merawat kita semua..." canda Sifa memecah suasana yang tegang.
Ibu mengisi piring di depan ayah dengan nasi, lauk, sambal, sayur dan kerupuk dan juga untuknya sendiri. sedangkan Iyan dan Sifa mengambil sendiri sendiri. mereka makan dengan tenang karena saat makan tidak boleh bersuara apalagi bicara.
Setelah makan, ayah dan Iyan beranjak ke ruang tengah karena di sana mereka dapat merokok dan menikmati acara televisi. sementara Sifa dan ibu merapikan meja, menyimpan makanan yang tidak dimakan dan mencuci piring dulu. setelah semua selesai baru bisa berkumpul bersama.
Sampai jam 9malam mereka menunggu Anwar dan Aira belum juga tiba. ayah mengajak sholat isya dulu dan berdoa dengan khusyuk.
Anwar membangunkan Aira setelah mobil berhenti di halaman rumah mereka. Anwar memapah Aira turun dari mobil sampai masuk rumah. kebetulan pintu tidak dikuci. setelah Aira duduk di kursi tamu Anwar keluar lagi mengambil barang-barang yang tertinggal di mobil, Andre membantu mengangkat barang belanjaan mereka.
"Makasih ya bro,,," Anwar memberikan beberapa lembar uang ratus ribuan pada Andre.
"Sama sama, bos. lain kali kalau ada perlu calling aja ya..." Andre berjalan meninggalkan Anwar menaiki mobilnya dan menginjakkan pedal gas mobilnya dan memutar kemudi menuju rumahnya.
__ADS_1
Anwar mengira bahwa orang tua dan saudara Aira sudah tertidur karena ini sudah pukul 10lewat, dengan santai ditutup dan dikuncinya pintu utama rumah itu. di ajaknya Aira masuk ke kamar.
Ups.... mereka terkejut dengan tatapan beberapa pasang mata saat melewati ruang tengah. Anwar dengan sigap mempersiapkan ekspresi wajah santainya, karena ia tahu akan diinterogasi.
_
_
_
_
happy reading...
hai... readers yang budiman..
jangan lupa like and comment ya...
__ADS_1