
Sekarang Aira bukan anak pingitan rumah lagi, mulai pagi ini ia akan bekerja sebagai pengajar anak-anak sekolah dasar. dia akan berdiri di depan anak-anak sambil berceramah memberikan nasehat dan penjelasan sesuai materi yang telah di tentukan dalam kurikulum sekolah.
Pagi-pagi sekali Aira sudah bangun, merapikan tempat tidur dan segera ke kamar mandi. Hampir tiap pagi Aira selalu shalat di mesjid yang tidak begitu jauh dari rumahnya, hanya dalam waktu belasan menit berjalan kaki. Aira berjalan dalam keheningan pagi. sesekali ia menoleh pada orang-orang yang berjarak hitungan meter darinya sambil tersenyum kecil menyapa para tetangga yang juga jemaah mesjid.
Para tetangga tak merasa heran melihat Aira berjalan sendiri, karena dari dulunya memang begitu. jangankan akrab dengan tetangga dengan saudara perempuan satu-satunya saja dia bagaikan langit dan bumi.
"Kasihan Aira, ya. anak orang kaya tapi tidak kuliah di kota. itu si Welna yang ayahnya jadi pekerja sawahnya bisa kuliah, lho'' Telinga Aira mendengar tetangganya bergunjing sepulang dari mesjid.
"Iya, ya. orang tuanya nggak kayak kita. padahal jaman sekarang orang kalau bertemu, pasti tanyanya, berapa orang anaknya, dimana kuliahnya?, nggak nanyain berapa hektar tanahnya. ya kan!" celoteh Bu Mus tetangga Aira dimana anak perempuan nya yang sama lulus dengan Aira melanjutkan pendidikan di kota. "walaupun dia nilainya biasa dan biaya seadanya tetap menjadi mahasiswa" tambahnya.
Kuping Aira jadi panas mendengarnya, namun ia tetap berusaha sabar dan segera mengucap astaghfirullah sambil terus melanjutkan perjalanan. para tetangga memang suka menggunjingkan keluarga Aira, tetapi kalau berhadapan langsung dengan orang tuanya, mereka menunjukkan rasa segan, apalagi giliran ngutang, lunak gigi daripada lidahnya.
"duluan ya, Bu!" sapa Aira pada tetangga yang berjarak lebih kurang delapan meter di belakangnya. "hhe, iya nak Aira'' balas mereka dengan wajah tanpa dosa.
Di rumah, ayah sedang duduk di ruang tengah menikmati rokok dengan segelas kopi panasnya sambil menonton pengajian pagi di televisi, ibu mengerjakan pekerjaan dapurnya sedangkan Sifa masih tidur.
"boleh dibantu, Bu!" Aira menawarkan diri.
"boleh, itu kupas bawang merah dan jahenya" jawab ibu sambil membalik gorengan ayamnya.
"nanti sore kamu yang masak, ya. soalnya ibu menunggu pekerja lembur menyelesaikan pekerjaan nya," pinta ibu
"ya, Bu. aku mau masak tahu kecap kayak yang diajari bi Tuti. bolehkah?" tanyanya.
"boleh, lihat saja bahannya di kulkas ya!"
__ADS_1
"iya, Bu!" Aira merasa bersemangat kembali setelah beberapa bulan tak bersama ibunya.
Setelah semua selesai Aira beranjak pergi ke kamarnya. mengambil handphone dan mencari nomor tujuan yang akan dihubunginya. Tut...tut.. tak lama terdengar suara yang ditujunya.
"hallo, assalamu'alaikum" sapa Aira
"waalaikumsalam, Ai. bagaimana kabarmu?" balas Haris.
"baik, kok. Abang, gimana sholatnya" tanya Aira
"howah.. aku baru bangun. kamu tak lagi membangunkan ku, Ai..." menggoda
"maaf, aku..." Aira tak sanggup melanjutkan takut Haris tak enak nantinya.
"Bang, bagaimana Herlin dan keluarga pak RT?"
"ya, sudah kalau nggak mau. titip salam sama Bu RT saja!" pintanya
"pikirkan saja tentang dirimu, calon ustazah?" dia ingin tahu bagaimana Aira
"bang, aku disini ngajar di sekolah, Jumat Sabtunya kuliah" menjelaskan
"ada yang ganteng nggak, teman kamu di sana?" mulai cemburu
"astaghfirullah, bang. Ai tidak ada kepikiran buat itu. yang penting sekarang, Ai akan melanjutkan pendidikan sambil ngajar. itu saja kok" Aira berusaha meyakinkan Haris. dipandangnya cincin di jari manisnya.
__ADS_1
"aku percaya kamu, Ai."
"ya, sudah. Ai mau siap-siap pergi sekolah, ya. assalamu'alaikum" Aira menutup obrolan begitupun Haris membalas salam kembali.
Pukul tujuh Aira keluar dari kamarnya, ia memakai seragam kerja berwarna ghaki dengan handbag ditangannya. ayah yang melihat anaknya yang cantik itu senyum menggeleng-gelengkan kepala sambil menghembuskan asap rokoknya.
"Sifa! tolong antar kakak, ya!" pintanya
"ya, kak" jawabnya yang juga akan berangkat sekolah
"kami sekolah dulu,yah!" ucap mereka sambil bersalam bergantian. ayah mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju.
Ayah merasa senang melihat Aira yang mulai tidak terlihat lagi tangis dan murungnya. Aira memang sangat pendiam dan patuh jika ia menginginkan sesuatu dia takut meminta , sifatnya berlawanan dengan Sifa yang selalu ceria, ngomong sesuka hatinya saja apapun yang dimintanya selalu ada. dia bisa ngeles jika ia juga bekerja.
*anak cengeng ayah sudah beranjak dewasa*
Dari jam setengah delapan sampai dengan jam satu siang Aira berada disekolah. Baginya sangat mudah untuk mendekati anak-anak sd karena dia sudah terbiasa sejak dekat dengan Herlin.
Guru-guru yang lain pun merasa senang dengannya. jika ada kelas yang gurunya tidak hadir maka Aira menggantikan nya bergiliran dengan dua teman honornya yang lain. Aira merasa cocok berbagi cerita dengan teman kerjanya Bu Tia, kakak kelasnya waktu SMA dulu. dia juga tahu kalau Aira pacar anak pak RT di komplek, karena mereka kost di komplek yang sama dengan gang yang berbeda. Bu Tia orangnya suka blak-blakkan kalau bicara, tapi hatinya baik, kok.
Jam istirahat belajar, para guru berkumpul di ruang guru. mereka menggunakan waktu setengah jam untuk makan bekal yang dibawa dari rumah, menulis administrasi pembelajaran, jajan di kantin sekolah sambil bercerita untuk menjalin silaturahmi agar lebih mengenal lebih dekat lagi.
Pulang sekolah Aira diberi tumpangan naik motor Buk Tia, buk Tia juga tahu kalau Aira tidak bisa mengendarai motor, bahkan dia juga tahu bagaimana Aira dalam keluarga juga siapa saja mantan Aira. sepertinya buk Yati tahu banget ya!! tapi Aira merasa nyaman dengan Aira.
_._._._._._._._._._._._._._._._._._._.._._.__.._._._._._._.
__ADS_1
BERSAMBUNG