
Siang ini hanya ada Anwar dan Aira di rumah.
Aira sibuk bersih bersih rumah, sementara Anwar sedang duduk dengan segelas kopi di depannya. tok...tok...tiba-tiba mereka mendengar ada yang mengetuk pintu.
Tanpa pikir panjang Aira bergegas membuka pintu, tak biasanya ada tamu siang siang begini. pikirnya.
"Assalamu'alaikum, Anwar ada?" tanya pria yang menggandeng istrinya dengan mesra.
"waalaikumsalam, ada. silahkan masuk!" Aira mempersilahkan tamunya masuk. ternyata mbak Ami yang meriasnya waktu menikah. suami Ami adalah sahabat baiknya Anwar, mereka memiliki bisnis yang sama.
"silahkan duduk mbak, Aira ke belakang sebentar!" Aira pamit ke belakang mengambilkan minum dan cemilan buat tamu suaminya.
"heh, senang amat nih pengantin baru!" Dimas menggoda Anwar.
"senang apaan, kan tahu sendiri..." jawab Anwar dengan nada lemas. namun melihat Aira datang membawa minuman Anwar menghentikan perkataannya yang hampir menceritakan kekecewaannya pada Dimas dan istrinya.
"Yuk, mbak, mas Dimas minum dulu!" Aira berbasa-basi sambil duduk di samping Anwar. mereka duduk di kursi yang sama. Aira teringat kata ibu bahwa seberat apapun masalah rumah tangga tapi harus bersikap manis di depan orang lain.
"nggak usah repot-repot, Aira" jawab mbak Ami yang sudah menganggap Aira sebagai adiknya.
"biasa saja mbak. kok anak anak nggak di ajak sih, mbak?" tanya Aira
"takutnya mengganggu nanti, ini kan acara nya mas Dimas yang katanya belum sempat ketemu sama Anwar....." Ami kelepasan bicara.
"mh... terus gimana nih ceritanya bisnisnya, bro?" tanya Dimas memotong pembicaraan istrinya.
__ADS_1
"istirahat dulu buat sementara, karena ayah Aira, ingin saya mandiri. ya, kalau join terus mau makan apa ntar anaknya. kamu kan tahu sendiri persentase hasilnya gimana?" Anwar menjelaskan.
"Kamu sangat beruntung sekali Aira, nanti usaha suamimu pasti cepat maju dia sangat berpengalaman dalam berbisnis" Dimas dengan penuh semangat memberikan dukungan pada Aira dan Anwar.
"Tapi untuk saat ini, ada masalah yang lebih penting dari bisnis" Anwar menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Pada awalnya memang kalian akan merasa canggung, tapi lama lama juga biasa nanti malahan semakin nagih, ya kan, mi?" Dimas membalikkan pertanyaan, tangannya dilingkarkan ke pinggang Ami.
"benar tu Aira... laki laki emang gitu, banyak maunya" Ami asal menjawab supaya pembicaraan lebih hangat.
"kan semua tergantung wanitanya juga, kalau wanita baik, mencium telapak kakinya pun kami laki laki pasti bersedia" tambah Dimas
sambil tertawa-tawa kecil. membuat yang mendengarnya terkagum-kagum. oh...ya...
Kedua pasangan Dimas dan Ami bercerita tentang kehidupan rumah tangga, sesuai pengalaman yang mereka jalani selama delapan tahun.
Anwar merasa termotivasi dengan cerita sahabatnya, tanpa sadar dia juga telah memperlihatkan kemesraannya dengan memainkan jari jari tangan Aira di atas pahanya. Aira pun kelihatan sangat menikmati perlakuan Anwar terhadapnya.
"ehm...ehm..." Dimas pura pura batuk melihat tingkah sahabatnya, katanya Aira tidak mau di dekati, ini kok pasrah saja dianya.
Dimas mencolek istrinya " kayaknya kita harus segera pamit nih mi. tidak boleh mengganggu waktu mereka lama lama!"
"iya, nih. anak anak sudah kelamaan ditinggal. kami pulang dulu ya, Aira.!" pamit Ami sambil berdiri dari tempat duduknya dengan diikuti suaminya.
"terimakasih sudah datang ya mbak....." Aira dan Anwar mengikuti tamunya berdiri. mbak Ami dan suaminya sangat menginspirasi menurut Aira. ia merasa bersyukur sekali memiliki suami Anwar.
__ADS_1
"Yang, sabar menghadapi Anwar ya, Ra!" bisik Dimas memberi kode keras pada Aira.
Anwar dan Aira menemani tamunya sampai ke teras, mereka sangat senang dengan tamunya. "jangan lemas terus dong, bro. nikmati saja waktu berdua!" Dimas menggoda sebelum tancap gas.
Setelah kendaraan Dimas keluar dari halaman rumah, Anwar merangkul bahu Aira masuk ke dalam rumah kembali. seakan-akan mereka pasangan yang bahagia.
"Mereka itu, sangat bahagia ya, Ai. kira kira kita bisa juga nggak ya, menghabiskan waktu bersama kayak mereka!" Anwar meminta pendapat Aira.
Aira hanya membalas dengan menyunggingkan senyum kecil di bibirnya. dia merasa deg degan dengan tingkah Anwar yang suka menyentuh bahu dan tangannya kalau lagi di depan orang lain.
Mengingat tidak lama lagi Sifa pulang sekolah, Anwar ingin menikmati waktunya yang tinggal sebentar itu. tanpa basa-basi lagi di angkatnya tubuh Aira yang beratnya hanya empat puluh enam kilo.
Jantung Aira berdegup semakin kencang, Anwar menggendongnya masuk ke kamar, dikuncinya pintu kamar dan meletakkannya di tempat tidur. Aira ingin menolak, tapi takut nanti Anwar ngambek lagi dan pergi keluar. jika suaminya pergi lagi maka keluarga nya akan menyalahkan Aira lagi seperti dua hari lalu.
Aira bangkit untuk duduk, resah dan gelisah menghantui pikirannya, Anwar dengan santai duduk di samping Aira mengusap kepalanya dan mendekapkan ke dada, nalurinya semakin tak terkendali.
dengan perlahan di usapnya pipi Aira yang halus. dirangkulnya tubuh Aira sangat erat seakan tak kan dilepas lagi, dengan rakusnya Anwar ***** bibir Aira. membuat Aira tidak bisa bisa bernafas. ketika Anwar memainkan lidahnya, tiba-tiba "ah..... Anwar meringis kesakitan, lidahnya digigit Aira.
"Ai, kamu ingin membunuhku..." Anwar belum melepaskan Aira dari pangkuannya.
"nggak mas, aku nggak ada maksud menyakitimu....." Aira melingkarkan tangannya ke leher Anwar.
Anwar senyum senyum sendiri merasa puas, karena dia pikir Aira masih polos, belum mengerti apa apa.
"Aku buka hijabnya, ya" Anwar menarik hijab Aira keatas setelah Aira menundukkan kepalanya tanda setuju. rasa penasaran Anwar perlahan mulai terjawab "kamu cantik sekali, Ai..." bisik Anwar.
__ADS_1
Anwar memainkan bibirnya di sekitar telinga Aira, hembusan nafas Anwar membuat Aira menggeliat geliatkan tubuhnya sambil sesekali mendesah, semakin keras desahannya Anwar semakin bersemangat menciumi bagian telinga hingga ke leher Aira. Anwar meninggalkan stempel kepemilikannya di leher putih Aira.
Tubuh Aira terasa lemah, tidak berdaya untuk menolak setiap sentuhan dan ciuman yang diberikan Anwar. hanya desahan Aira yang sesekali terdengar membuat Anwar semakin agresif memainkan jemarinya hingga dia berusaha membuka pakaian Aira.