Cinta Karena Kewajiban

Cinta Karena Kewajiban
Ke klinik (part 1)


__ADS_3

Untuk menghilangkan mual dan muntah Aira tertidur setelah dikasih minyak angin oleh Anwar. Ditatapnya wajah polos Aira sambil berdoa dalam hatinya " tuhan tumbuhkan lah rasa cinta dihatinya untuk diriku, hingga kami menua bersama"


Melihat Aira sudah tertidur, si sopir mengajak Anwar ngobrol santai karena dia tidak ingin penumpangnya merasa jenuh dan bosan. dia kan harus memberikan pelayanan prima pada penyewanya agar merasa nyaman dan akrab.


"memangnya sudah berapa bulan sih, bos?" si sopir membuka obrolan.


"sekitar 6 bulanan..." Anwar menjawab singkat.


"Hm... biasanya usg saat memasuki kehamilan 7 atau 8bulanan lho, bos...." si sopir heran. Meski umurnya lebih muda tapi ia sudah 2x mengalami hal seperti Anwar ini.


Anwar mengusap kepala Aira dan menjawab dengan sedih "Ya, itu bagi yang normal. kalau dia sering kelelahan dan tekanan darahnya rendah, kata dokter itu sangat beresiko. saya takut terjadi sesuatu padanya..."


"Ooh... istri saya waktu hamil kemaren juga kayak gitu, tapi kata dokter cuma pengaruh hormon kandungan. malahan dia juga sampai benci lho sama saya dan menjauh saat kami bersama.... hehe..." tawa humorisnya keluar memecahkan kegalauan Anwar.


"Aneh sekali wanita kalau lagi hamil..." Anwar menggeleng geleng kepala, tersenyum tipis.


"Ya, wanita hamil itu memang aneh, tapi itu kan karena kita juga... hehe.." tertawa lagi teringat bini dirumahnya kali...


Mereka saling berbagi cerita dan tertawa bersama, hingga mereka tak sadar sudah memasuki kota. Anwar membangunkan Aira supaya nanti Aira tidak lemas saat turun mobil.


"Ai... Aira... bangun, kita hampir sampai klinik.." Anwar mengusap pipi dan bahu Aira bergantian agar Aira tidak terkejut saat bangun.

__ADS_1


setelah 2x Anwar membangunkan, Aira mengangkat tangan dan memegang kepala dengan mengernyitkan dahinya.


"Minum dulu biar tidak pusing lagi..." Anwar memberikan botol minum pada Aira.


"Makasih mas,,," Aira mengembalikan setelah meminumnya sedikit. kemudian dia membetulkan hijabnya dan mengusap pipinya supaya tidak kelihatan lesu.


"hm.... Cari tempat makan dulu bro," Anwar melirik kiri kanan melihat gedung dan ruko ruko yang berjajar.


Di sebuah persimpangan si sopir berbelok ke arah kanan, "di resto yang dekat taman kota saja, biar lebih nyaman. juga lebih dekat dengan klinik"


"Terserah saja, yang penting istri saya senang..." kata Anwar menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. melirik Aira dengan ujung matanya.


Andre menginjak rem mobilnya setelah sampai di parkiran. Anwar mengajaknya untuk makan bersama, Andre menyetujui setelah melihat Aira tersenyum padanya tanda setuju dengan suaminya. mereka senang dengan Andre yang ramah dan suka bercanda.


"Baiklah kalau tidak menggangu..." katanya menganggukkan kepala setelah menekan remot mengunci otomatis pintu mobilnya.


Di restoran ini pengunjung bisa menikmati makan di dalam resto bisa juga diluar sambil menikmati udara segar taman. tapi Aira memilih untuk indoor saja, tidak ingin terkenang masa lalunya yang sering duduk sepulang sekolah bersama Haris.


Allahu Akbar....


Allahu Akbar...

__ADS_1


Setelah selesai makan terdengar suara adzan ashar menggema dari mesjid kota. mereka memilih untuk shalat di mushalla restoran saja.


Waktu sudah menunjukkan pukul 4, Andre dan Anwar sudah menunggu Aira dalam mobil. maklum perempuan kan biasa ribetnya.


"Tuh, dia keluar..." Anwar merasa lega melihat Aira ada di lobi restoran, Andre menginjak gas mobilnya menuju tempat Aira berdiri. setelah sampai Anwar membukakan pintu mobil buat Aira "ayok, Ai..."


Dengan wajah malasnya, Aira masuk ke dalam mobil dan duduk di tempat yang diduduki sejak dari desa. hanya 10menit mereka sudah sampai di parkiran klinik Bunda yang bertingkat tiga.


Karena sudah membuat janji dengan dokternya, Anwar bisa masuk tanpa mengikuti antrian. cukup dengan memberi kode, asisten dokter langsung memanggil nama Aira.


_


_


_


_


Happy reading...


Kasih semangat donk readers....

__ADS_1


__ADS_2