
Iyan tidak suka dengan adik ipar yang umurnya bahkan lebih tua darinya itu, apalagi sejak paman menyampaikan tentang Anwar yang merupakan tulang punggung keluarganya. Iyan tidak rela adiknya tidak bahagia dengannya.
"biarkan dia saja yang pergi dari rumah ini, jika dia mau..." kata kata Iyan terucap begitu saja.
Sifa mendekati Aira, jengkel dengan Iyan. ibu menengahinya dengan halus "Iyan, kamu nanti juga bakal jadi suami orang lho.."
"kalau aku nanti, jadi suami untuk membahagiakan anak orang dan keluarganya, Bu..." Iyan melenggang masuk kamarnya tidak ingin melanjutkan perdebatan.
"Ya sudah, kami tidak ingin jadi orang ketiga dalam hubungan mu, lakukan yang terbaik untuk mu dan rumah tangga mu... sekarang sudah hampir magrib.." ayah menutup pembicaraan dengan melihat jam dinding.
**Anwar
"Bagaimana bisa kamu menghamili wanita yang tidak mencintai mu Anwar...?"sejak berangkat dari rumah kedua temanku tak henti-hentinya ngeledek aku mulu.
"Memiliki sudah lebih dari segalanya selebihnya bisa diatur" jawabku asal.
"Tapi topcherr juga dia, baru beberapa bulan. kalau aku dulu 2tahun menunggu buah cinta...haha" Dimas yang sedang memegang kemudi jadi curhat.
"Maklum aja Dim, kalau Anwar mah metik bunga sedang merekah... tidak kayak kita haha..." Riko dan Dimas menertawai ku, dan akupun ikut tertawa bangga.
__ADS_1
aku bisa melepas lelahku saat bersenda gurau dengan teman seprofesiku ini. Karena di rumah tidak ada yang bisa buatku tertawa, tawaku tertutup dengan kerasnya rasa segan terhadap keluarga istriku. kebebasanku hanya sebatas pintu kamar di rumah itu.
"Bro, kalau ini serius aku nanya nih, bagaimana strategi yang tepat untuk keluar dari rumah mertua.." aku berharap mereka tidak mengolok-olok ku lagi.
"Mengapa secepat itu?" Dimas dan Riko sama sama melotot kearah ku.
"Yah, kalian kan tahu aku hanya ingin hidup nyaman dengan istri dan calon anakku, di rumah itu aku tidak bisa berbuat apa-apa. kasih saran positif ya, secara kalian kan sudah pengalaman...?" aku menatap kedua temanku bergantian.
"Ya, itu gampang kalau kamu sudah punya rumah sendiri dan serius menjaga anaknya..'' Riko menjawab sesukanya saja, mana mungkin aku bisa punya rumah sendiri sekarang. aku menjadi tertunduk frustasi.
"Kalau memang itu untuk kebaikanmu dan istrimu, katakan saja pada mereka.asal jangan kamu ajak dia tinggal bersama orang tua mu, karena itu akan merendahkan paman.." Dimas menjelaskan dengan tenang.
akhirnya pukul 11.30 Anwar bersama keduanya sampai di pasar grosir kota, Dimas menghentikan kemudinya di depan toko langganan mereka.
Perut mereka sudah keroncongan karena belum terisi nasi sejak pagi. sebelum berpencar ke toko langganan masing-masing mereka makan bersama terlebih dahulu di restoran yang berseberangan dari tempat parkir mobilnya.
setelah mengantarkan catatan barang pesanan pada tiga toko grosir, Anwar pergi ke mesjid menunaikan shalat 4 rakaat Zuhur.
Saat keluar mesjid, di depan gerbang dia menyusuri pandangan ke depan di mana sebelah kiri dan kanan lorong berjajar toko toko besar, di hentikan pandangannya pada toko grosir pakaian wanita.
__ADS_1
sejenak ia terlintas dipikiran Anwar untuk membelikan beberapa baju buat Aira dan Anwar pun mampir di toko itu. karena tidak bisa beli satu, di ambil saja satu seri setengah lusin biar sekalian buat Sifa.
Anwar kembali ke tiga toko tadi secara bergantian mengecek pesanannya, setelah sesuai di mintanya pada tukang becak mengantarkan ke tempat parkir mobilnya.
"Kamu nih, sudah kayak ibu-ibu beli sayur aja, lamanya ke pasar" hardik Riko karena Anwar terlambat.
"Sorry bro..." Anwar segera membuka pintu belakang mobil Avanza milik Dimas yang siap tancap gas.
_
_
_
_
_
HAPPY READING...
__ADS_1