
Keesokan harinya di sekolah Aira berusaha mencuri-curi waktu Tia buat curhat, akhirnya pada jam istirahat Aira bisa memberi tanda "kak, Tia. aku ada sesuatu, nih!" bisik Aira tak ingin terdengar guru lain yang ada diruangan itu.
"ada apaan sih, Ra?" tanyanya biasa saja. "sssst, jangan keras-keras!" pinta Aira " sambungan kemaren, tapi janji jangan bilang ke siapapun, ya,kak!" Aira memohon.
"tenang, aku jamin aman, kok. terus ada apa denganmu?" mereka bisik-bisik berdua sambil melihat sekeliling agar tidak ada yang curiga. jika ada yang melihat ke arah mereka mereka segera alihkan pembicaraan.
"Ternyata benar kak. aku akan dijodohkan" kata Aira pelan. "hah.." Tia terkejut tak bisa menahan suaranya sehingga semua orang menatap mereka. Tia yang pintar segera mengalihkan "apa benar teman sekolah kita?" dengan suara keras seolah-olah mereka sedang membicarakan temannya.
Setelah suasana aman mereka melanjutkan kembali. Aira menceritakan kejadian di rumahnya tadi malam dengan panjang sekali tapi ketika Tia bertanya siapa lelakinya, Aira pun menjawab tidak tahu. karena orang tuanya belum menyebutkan namanya. yang jelas dia seorang pebisnis.
_._._._._._._._.._._._._.__.._._._._._._
Di tengah kesunyian malam. Aira memandang cincin pemberian Haris. dia membayangkan saat-saat bersama Haris yang begitu indahnya. ingin rasanya ia kabur lagi ke kota dan menemui Haris, menangis di dekapannya. tak ingin menuruti kemauan keluarganya.
Haris mungkin saja bersedia menerima dan menikahinya tapi bagaimana dengan keluarganya yang akan menjadi buah bibir warga. kalau keluarga tidak merestuinya nanti, otomatis dia tidak akan pernah bisa kembali dan bertemu orang tuanya. apalagi pamannya yang sangat berpengaruh dan disegani warga desa, bisa hilang wibawanya.
"Tidak mungkin" lirih Aira dalam lamunannya.
ia tak mungkin mencoreng nama baik keluarga dengan keputusan konyolnya. lagian belum tentu juga dia akan selalu bahagia dengan Haris.
Aira mengambil hpnya dari atas meja kecil dekat tempat tidurnya. sambil menelungkup kan tubuhnya dia berusaha menulis sms dengan bahasa yang tidak akan membuat Haris kecewa, dia ingin memberi tahu Haris soal perjodohannya.
Hanya selang waktu beberapa menit, hp Aira terdengar berdering, Haris langsung menghubungi setelah membaca SMS kekasihnya. "ya, assalamu'alaikum, bang!" Aira memberi salam
"waalaikumsalam, Ai. kamu jangan bilang mau, Ai. terus bagaimana aku yang selalu sabar menunggu, ingat janji kita" Haris bertubi-tubi meyakinkan bahwa dia sangat menyayangi dan mengharapkan Aira.
"Aku, tak berdaya. terus aku harus apa, bang?" hatinya makin hancur membayangkan wajah Haris yang tak pernah kecewa.
__ADS_1
"Aku kan pernah bilang, kapanpun keluarga mu siap, aku akan datang dengan orang tuaku!" jelas Haris yang menantang Aira.
"Tapi, sekarang sudah terlambat, bang. keluargaku sudah membuat janji dengan keluarga lelaki itu!" Aira melepaskan tangisnya pada Haris. "aku tak sanggup, menentang ayah ibu!"
"Ya, sudah. jika itu keputusanmu. semoga kamu bahagia dengan pilihan orang tuamu Ai,
Aku sayang kamu" Haris memutuskan satu pihak tanpa salam pada kekasihnya.
Aira tahu habis ini Haris pasti tidak akan menerima panggilan nya lagi dan menuliskan chat di wa *jangan dihapus nomor aku ya, bang. please!* Haris memberikan balasan singkat *iya*
Aira tak henti membayangkan bagaimana sosok calon suaminya nanti, apakah dia sebaya kak Iyan, ya. apakah dia akan menerima kekurangan Aira. apakah mungkin dia bisa memahami dan melindungi nya. lamunannya terhenti ketika matanya terpejam yang dia tak tahu entah jam berapa.
_.._._._._._._._._._._.._._.__.._._._._.__.._.__.
Ketika mengerjakan tugas kelompok yang terakhir. mereka membuat resume modul PPKn yang terdiri dari dua bab. mereka membagi kerjasama satu bab bagian Risa dan Hendra dan yang satunya lagi kerja Tomi dan Aira. seperti biasa yang mengurus keluarga cukup dituliskan saja namanya dalam anggota kelompok nanti nilainya nyusul.
"Sini gantian, dasar ratu pelamun" kata Tomi memberikan kertas doble folio dan mengambil modulnya.
"Nggak, lanjutkan saja. mending pelamun dari pada penyamun yang nyari harta karun, nggak dapet-dapet" balasnya gantian Aira memukul kepala Tomi dengan ujung jarinya.
"cie, hajar Ra. biar tahu rasa dianya!" balas Hendra. Risa pun tertawa geli melihat tingkah laku mereka.
"Awas ya, nanti aku bisa dapatin kamu, lho!" tantang Tomi dengan mengedipkan mata usilnya. Aira kalau sudah ditembak kayak gini tak keluar lagi jurusnya. hanya senyum kecil saja. dan melanjutkan menulis.
Giliran Aira yang menulis Tomi membaca kata yang salah, yah untung Aira pintar tidak menuliskannya. "hah, mulai lagi kan?" tandas Aira yang juga suka dibikin kesal.
"Benar kok, aku baca ini, nih coba lihat buk!" perintahnya pada Aira agar melihat buku yang dibuka di atas pahanya yang sedang bersila.
__ADS_1
Refleks Aira mencoba membaca ulang, ternyata Tomi mengerjai dia lagi di remasnya kepala Aira hingga jilbabnya berantakan.
"Emang dasar kamu Yo, Tom. makanya jangan kelamaan jomblo!" Hendra mulai risih melihat mereka. dia saja yang sudah di lampu kuning bakal segera nikah libur semester nggak segitu amat sama Risa.
"Kerjain tugas lho tuh, kamu punya pengawal. kami manusia bebas, hahaha" tertawa terbahak bahak bersama.
Tanpa sadar kalau ada yang memperhatikan mereka dari ruang tamu yang sejajar dengan tempat mereka. tapi mereka tidak peduli. mereka ingin tertawa lepas apalagi bagi Aira tertawa menghadirkan semangat baru.
Dia yang duduk di ruang tamu adalah Anwar si bujang lapuk yang selalu langganan konsultasi cari jodoh ke bi Tisya. entah mengapa dia masih duduk sendiri di sana setelah dibuatkan kopi oleh Aira tadi sebelum belajar.
"Tak terasa ya teman, hari Senin kita sudah ujian. hanya sebentar waktu satu semester!" Tugas mereka tinggal satu paragraf tapi Tomi ingin memperpanjang waktu dengan kelakar.
"tuh, kesambet apaan, Lo?" Risa mencemoohnya. "biasalah sayang, jomblo banyak pikiran!" tambah Hendra mengedipkan mata geli.
"ini mah, maunya serius lho" tak ingin bercanda. "kok nggak percaya, sih!" matanya melotot.
Aira dan Risa segera merapikan buku dan menggabungkan lembar Doble folio. Tomi sama Hendra masih saja berdebat. "terus, apa maksud kamu, tom?"
"Berarti kerjasama terakhir, donk!" balasnya. "bagaimana kalau kita begadang?" tanyanya minta pendapat.
"Kamu, pakai begadang segala, nih sudah jam 08.30 tahu?" Hendra mendorong meja tulisnya ke Tomi
"Gue lapar, bro. tapi tenang aku yang traktir, kok" ajaknya yang disetujui Hendra dan Risa. Aira diam takut nanti jalan sendiri pulangnya.
Risa yang diberi kedipan mata pacarnya menjanjikan akan mengantar Aira pulang.
lagian penghuni rumah sudah mengizinkan Aira selagi dalam jalur aman.
__ADS_1
._.__.._._.__..._.._.._