Cinta Karena Kewajiban

Cinta Karena Kewajiban
Melahirkan (part 1)


__ADS_3

Meski dengan perasaan kurang nyaman berada di tengah-tengah keluarga mertuanya, Anwar tetap saja dengan totalitas melakukan kewajibannya sebagai seorang suami seperti membantu Aira mengambilkan makanan saat ia merasa lelah, membantu mencuci dan mengeringkan pakaian hingga mengangkat dari jemuran.


Hal ini dilakukan karena Aira sudah semakin susah bergerak dikarenakan perutnya yang semakin besar dan sesekali merasa nyeri di bagian perut dan pinggang. semakin hari rentang waktu nya semakin cepat.


Sejak pagi ini entah sudah berapa kali Aira meringis menahan rasa sakit dan nyeri di pinggangnya dan sakitnya pun semakin kuat. Anwar tidak ingin meninggalkan Aira dalam keadaan sakit dan dia sudah meminta asistennya untuk menghandel semua pekerjaannya untuk beberapa hari ke depan.


"Kamu nggak kerja hari ini, nak Anwar" ibu menyapa Anwar saat ia membuat kopi sendiri di dapur. Di rumah ini memang hanya ibu dan Sifa yang biasa ramah pada Anwar.


"Nggak Bu. Aira sudah tidak bisa ditinggal sendirian..."


"Apa Aira sudah mau melahirkan? apa dia sakit?"


"Katanya sakit di perut dan pinggang, Bu"


"Oo... kalau begitu selesai ini ibu akan menemani dan ibu akan di rumah saja.."


"Eh, gpp kok Bu. aku ada di sini, kok"


"Apa kamu tidak senang ibu akan menunggu cucu ibu lahir"


"Bukan begitu maksudku Bu..."


"Ya sudah, kamu tidak usah sungkan. aku ibu yang mengandung dan melahirkannya. ibu tahu apa yang dibutuhkan Aira saat ini..." ibu menyelesaikan pekerjaan dapurnya.


"Terimakasih, Bu..." Anwar pamit dengan secangkir kopi di tangan kanannya dan secangkir susu bumil ditangan kiri untuk di bagikan ke Aira.

__ADS_1


Sebelum meneguk kopinya Anwar memberikan minuman Aira terlebih dahulu.


"shhht....hah.." Aira meminum setengah gelas susu dan mengelap bibirnya dengan tisu.


"Bagaimana, apa rasa sakitnya sudah berkurang?"


"Bukannya berkurang tapi semakin sakit, mas.." Aira dan Anwar mengelus puncak perut yang terasa sakit.


"Sayang... jangan biarkan umi merasa sakit menunggumu, keluarlah dengan segera kami akan sangat bahagia dengan kehadiranmu, nak..." Anwar mencium puncak perut Aira dengan penuh perhatian dan harapan.


Ibu dan ayah yang ingin melihat anaknya tertegun di balik pintu menyaksikan kejadian di depan matanya. tidak ingin mengganggu tapi mereka juga tidak tahan melihat Aira tubuh lelah Aira menahan sakit.


"Ibu... ayah... hhhh...."


"Ayah, ibu maafkan semua salah Aira. Aira mohon doa dan ridho ayah dan ibu..." linangan air mata Aira membasahi pipinya.


"Jangan berkata demikian, nak.. kami selalu mendoakan yang terbaik untukmu..." ayah hanya diam membiarkan ibu bicara, karena ibu sangat memahami apa yang dirasakan Aira saat ini. ibu sudah 3 kali mengalaminya.


"Sebaliknya kita ke rumah sakit saja segera..." ibu dan Anwar sama sama memegang tangan Aira bersebelahan.


"panggil Iyan segera..." perintah ibu.


"Ibu, nggak usah. mas Anwar sudah meminta dokter Mita segera datang. Aira ingin melahirkan di sini saja, Bu..."


"hahh...." memekik menahan sakit sakit di bagian bawah perutnya terasa ada tekanan.

__ADS_1


"Nak, yang kuat ya... ayah akan menunggu di luar..."


"i_ya ayah, doakan Aira..."


"itu pasti Aira, semua akan baik-baik saja, kamu sungguh kuat seperti ibumu..." ayah menggenggam erat tangan Aira sebelum keluar kamar meninggalkan Aira yang akan melahirkan cucu untuknya.


"Huuh.... mas. aku merasa mau pipis..."


"Iya... pelan pelan saja ya, Ai..." Anwar memapah Aira ke kamar mandi sementara ibu melapisi sprei dengan alas plastik yang di lapisi dengan kain kain yang sudah di siapkan.


"Maaf saya terlambat, bagaimana dengan Aira?" dokter Mardani datang dengan nafas ngos-ngosan karena terburu buru dari rumah sakit.


_


_


_


_


Happy reading guys


Sorry up nya lama, author lagi sibuk nih


ikuti terus ya... tinggal beberapa episode lagi kita end

__ADS_1


__ADS_2