Cinta Karena Kewajiban

Cinta Karena Kewajiban
Arsyad Rahman


__ADS_3

"Bayiku yang mungil, penyemangat hidup mama dan papa..." Anwar mengusap pipi bayi yang di letakkan mengapit di ketiak Aira agar dia merasakan panas tubuh ibunya dan merangsang air susu untuk makanannya. bayi yang masih belum membuka matanya sejak lahir itu menggerak-gerakkan mulut kecilnya.


"Sayangnya papa... pasti mau mimik ya atau mau nama dulu, yaa...." Anwar mengedipkan ujung matanya ke arah Aira, meminta persetujuan.


"Memberikan nama adalah hak nya mas..." Aira menatap pasrah.


"Bagaimana kalau ARSYAD RAHMAN artinya laki-laki yang sangat cerdik dan penyayang..." Anwar menatap Aira dan bayinya secara bergantian berharap ada respon dari kedua orang yang sangat dicintainya.


"Bagus juga semoga ia sesuai dengan namanya di saat besar nanti... aamiin..."


"Amiin..." Anwar mengusap kedua telapak tangan ke wajahnya.


"Oeak...eaak...eeaak....." tiba-tiba bayi Arsyad menangis hingga kedengaran ke seluruh isi rumah. semua yang ada di sana berlari masuk ke kamar Aira.


"Kenapa di biarkan menangis bayinya, nak...." ibu sedikit berteriak karena kaget.


"Si dedek lapar mungkin Bu..." Sifa menyela ibunya, melihat Aira dan Anwar yang hanya bengong tak tahu harus berbuat apa.


"Ya sudah, coba tetekin dulu bayimu Ra. Anwar bantu Aira bersandar dengan bantal..." Bu Lela menggendong bayi Arsyad dan memberi petunjuk pada anak dan menantunya. karena ini yang pertama tentunya Aira dan Anwar perlu bimbingan.

__ADS_1


walaupun sebenarnya Anwar merasa canggung di depan orang tua dan saudara Aira, tapi ia berusaha membiasakan diri. Anwar mengangkat punggung Aira dan menyusun beberapa bantal untuk sandaran Aira agar dapat menyusui Arsyad dengan nyaman.


"Mimik dulu ya, sayangnya oma..." Aira melengkungkan siku lengannya menerima bayinya dari gendongan Bu Lela.


"Namanya Arsyad, Bu..." Aira menyusui bayinya dengan sangat hati-hati "isht...." Aira menjerit menahan sakit saat pertama Arsyad menghisap ****** susunya.


"Tahan nak, awalnya memang sedikit sakit dan ngilu tapi nanti juga biasa, kamu harus sabar kalau tidak, bisa-bisa nanti anakmu harus pakai susu tabung..."


"Insyaallah Aira bisa Bu, Aira mau menyusuinya seperti ibu menyusui Aira dulu" rengek Aira.


Semua yang ada di sana fokus memperhatikan Aira dan bayinya termasuk ayahnya. Di saat-saat seperti ini rasa malu hilang sudah berganti dengan haru. sampai-sampai setetes air bening membasahi pipi ayah tanpa di sadari sekarang ia sudah menjadi seorang kakek di usia yang masih kurang satu tahun menuju setengah abad.


"Tuh kan Bu, benarkan yang Sifa bilang... hehe" Sifa berceloteh memecah suasana hening memperhatikan Arsyad mimik.


"haha..." mereka tertawa bersama melihat wajah Aira yang merah merona seperti tomat matang karena malu sama Sifa.


Arsyad sudah berhenti menyusu, ibu memindahkan kembali tidur di samping Aira sementara Anwar membantu Aira untuk tidur telentang kembali karena Aira masih lemah dan butuh istirahat yang banyak.


"Ya sudah, kamu tidur dulu ya, Ra. ibu mau masak dulu. Anwar kamu jaga Aira dan kalau nanti basah panggil ibu segera buat ganti popoknya..."

__ADS_1


"Baik Bu... makasih ya Bu..."


"Jangan sungkan-sungkan begitu..."


"hm..." Anwar hanya bergumam tak mampu berkata-kata.


"Ayo Sifa biarkan kakak mu istirahat dulu..." ibu memegang bahu Sifa.


"Sifa, masih pengen lihat bayi Arsyad dulu, Bu..." sungut Sifa.


"Kalau sudah seminggu kamu boleh kok menggendongnya..." ibu menarik Sifa keluar mengikuti ayah yang sudah berjalan ke pintu kamar...


_


_


_


_

__ADS_1


Happy reading...


sorry ya readers up nya lama, author lagi boring....


__ADS_2