Cinta Karena Kewajiban

Cinta Karena Kewajiban
Kewajiban Bertambah


__ADS_3

Siang hari di rumah hanya ada Anwar dan Aira. ayah dan ibu ke sawah. Sifa sekolah sementara Iyan mengurus usahanya.


Aira duduk menyendiri di bangku kecil di belakang rumah, menikmati indahnya hamparan sawah yang bernuansa kuning keemasan.


Hari ini kewajibanku mulai bertambah dengan adanya bayi dalam rahim ku, aku harus kuat aku harus lebih fokus menjaga keutuhan rumahtangga ku. Aira bicara dengan diri sendiri.


"Sayang... ternyata kamu disini, ya" tiba-tiba Aira terkejut dengan kedatangan Anwar di belakangnya.


"Jangan panggil aku sayang..." Aira menjawab kesal.


"Ai, aku kan suamimu... ayah dari calon bayimu..." Anwar duduk di samping Aira "semua itu karena aku sayang kamu... seharusnya kamu senang Ai, dengan adanya bayi itu akan menjadi penguat hubungan kita"


"Ya,sudah mas. aku akan melakukan kewajiban ini semampuku" Aira meluruskan pandangan ke alam luas dan menjawab dengan suara halus, tapi Anwar mendengarnya.


"Ai, cobalah untuk menatap wajah ku sekali saja. kamu akan tahu betapa aku ikhlas mencintaimu..." Anwar memegang tangan Aira dengan lembut.


"Maaf mas, aku harus menghubungi kak Tia dulu" Aira berjalan masuk rumah dan Anwar pun mengikutinya.


Aira mengambil hpnya di atas meja rias,


#Kak Tia, minta tolong sampaikan pada kepsek ya, aku izin lagi, karena kurang sehat#


#Oke Ai, kurang sehat apa karena kamu sudah ngisi...#


#Ah, kak Tia ada ada saja... #

__ADS_1


#Ciee... yang katanya nggak cinta tapi ada hasilnya (ditambahkan caption tertawa)#


hpnya di taruh kembali ditempat semula.


Lemas juga tidak ada kerjaan... bikin bete aja kalau gini terus. gumam Aira sendiri.


"Ai, minta kopinya dong!" Anwar duduk di sofa berusaha membuat Aira tersenyum.


"Baiklah, tunggu sebentar" Aira menuju dapur. Aira kembali ke kamar dengan membawa nampan berisi segelas air dan juga gorengan buatan ibu.


"Nah, begitu dong sayang. itu namanya istri solehah. ayok duduk di sini" Anwar menepuk tempat kosong disampingnya. Aira mengikuti perintahnya.


"Mas, apa kamu nggak kepikiran untuk bekerja seperti ayah, atau hanya sekedar melihat sawah dan kebunnya saja?" tanya Aira.


Karena Aira kemaren mendengar ocehan tetangga tentang suaminya yang tidak pernah melihat sawah dan kebun ayahnya.


Anggota arisan bi Mus lagi ngumpul di teras rumahnya sambil ngerumpi. tak sengaja Aira mendengar saat akan pergi ke warung.


Bi ana "Mereka keluarga yang aneh ya, padahal sawahnya berhektar-hektar masa anaknya sudah berkeluarga tidak kebagian sedikitpun"


Bu Rima "Suami Aira itu kan punya usaha sendiri, jeng"


Bu ana "Ya, meski begitu kan menantunya itu tidak bekerja setiap hari, apa salahnya di ajak sekali sekali lho"


Bi Mus "oh ya, katanya Minggu depan Bu Lela panen padi yang dekat rumahnya lho, kita ikut ya.."

__ADS_1


"Ya, pasti dong" jawab yang lain bersamaan


flashback off


Anwar menyeruput kopinya, diam sejenak "mh... aku sekarang hanya ingin memikirkan kamu dan calon anak kita, Ai"


"Kamu tahu nggak mas, nanti orang bilang kalau kamu tidak dihargai di keluarga ini"


"Biarkan mereka bicara sesuka mereka, yang penting kita bisa membuktikan bahwa kita bahagia, sayang...." Anwar merangkul bahu Aira. dan mendekap kepala Aira ke dadanya.


"Jangan, mas..." Aira berusaha mendorong Anwar "aku nggak bisa nafas nih"


"Aku kan suamimu, Ai" Anwar membuka jilbab Aira yang hanya menundukkan kepala.


"ini masih siang, mas. jangan macem macem kamu" Aira berusaha melepaskan diri.


"Aira, jangan menolak. habis kalau malam kamu selalu mengigau memanggil nama Haris. sekarang coba kamu tatap aku Ai, aku ini Anwar, suami kamu" Anwar memegang kedua sisi pipi Aira. tapi Aira hanya melihatnya sejenak dan menutup matanya bertanda pasrah.


Setelah melakukan kewajibannya Aira segera membersihkan diri ke kamar mandi bergantian dengan Anwar. kemudian mereka melakukan sholat zhuhur bersama.


_


_


_

__ADS_1


_


maaf ya reader lama nggak up.


__ADS_2