
Baru dua hari satu malam saja berada di rumah neneknya, Arsyad sudah kelihatan nggak betahnya. Semua itu terlihat dari tingkahnya yang sering rewel dan menangis mengamuk dengan kaki menendang-nendang ke udara.
Tadi malam saja orang serumah dibuatnya begadang karena Arsyad yang sering bangun dan ngompol, dan kalau ganti popok malah nangis sekuat-kuatnya. Aira berusaha memenangkan dengan menyusui kemudian menggendongnya gantian dengan Anwar juga Bu Aisyah yang mahir mendendangkan lagu Nina Bobo penghantar tidur.
Arga pun harus telat berangkat sekolah akibat kesiangan bangunnya. bergegas Arga menemui kakak sulungnya ke ruang depan "Kak, pinjam motor kakak ya, udah telat nich..."
"Kakak rencananya mau ke toko nanti, dek,..." dengan berat hati Anwar menolak permintaan adiknya sambil meminum kopi buatan ibunya.
"Mas, hari ini Arga sekolahnya cuma sampai jam sebelas kok..., boleh yaaa...." gayanya mengiba.
"Mas, kalau mas pergi gimana Arsyad nya nanti rewel lagi,...?" Aira yang duduk disampingnya sambil menggendong Arsyad merajuk. Tak rela ditinggal bersama adik ipar yang lebih tua darinya.
"Kan ada nenek Arsyad yang temenin nanti... biar nenek nya juga dekat sama cucu dan menantunya, Anita dan Rita juga ke sini nanti..." Aira jadi makin risih perasaannya karena selama menikah ia belum begitu dekat dengan keluarga suaminya.
"ck,,Nih istrinya siapa sih, kok nggak belain aku banget..." berdecak dalam hati Anwar.
"Lagian mas bisa siang nanti ke tokonya kok, bawa aja motornya tuh, ga. cepetan nanti makin telat lho..." Aira mengalihkan pembicaraan sambil memberikan pecahan lima puluh ribuan ke tangan Arga dan memberikan kunci yang kebetulan diletakkan di dekatnya.
Arga bergegas menuju Aira dan menerima uluran tangan kakak iparnya "makasih ya kak, kak Aira paling baik pokonya deh..." pujinya sambil keluar rumah.
__ADS_1
"Langsung pulang ya dek...." teriak Anwar. Aira yang senang sendiri melihat wajah suaminya manyun karena nggak dibelaian
"Kayak nggak percayaan banget sih, mas... sama adik sendiri kok gitu..." Aira merasa lega.
****
"oeeaakk....... oeeaakkk....... oeeaakkk..." pekik Arsyad sampai kedengaran sama tetangga, entah ada apa dengannya sejak kemaren setiap menangis selalu memekik ke telinga dan menendang-nendang kakinya ke udara, dengan marah kepalan tangannya pun dimasukkan ke mulut.
Aira jadi cemas ngeliatnya, "nggak biasanya Arsyad nangis kaya gini" gumam Aira yang tak mampu di ucapkan, takut keluarga suaminya marah ntar. Aira harus benar-benar menjaga kata yang keluar dari mulutnya,
ia sangat tidak ingin keluarga Anwar beranggapan negatif padanya, karena itulah yang selama ini ditakuti nya, seperti yang telah terjadi antara suaminya dan pamannya.
"Mengapa dia tahu isi hatiku..." tanya hati Aira.
"Cup.... cup... anak pintar jangan nangis... kangen ya... sama aunty Sifa.... udah mau bobok di ayunan ya..." Anwar mengayun Arsyad dalam gendongannya. setelah hampir sejam baru bisa tenang Arsyad nya.
"Ai, kayaknya kita harus balik lagi..." Anwar berdiskusi sambil menggendong bayi Arsyad di ruang tengah.
"Kenapa mas, kan baru sehari kita bawa Arsyad, " tanya Aira pura-pura bodoh, padahal sebenernya dia pun memikirkan hal yang sama dengan Anwar.
__ADS_1
Aira merasa tak nyaman harus nginep di rumah mertua tapi ia tidak bisa membantu memasak atau pekerjaan lainnya malah merepotkan orang tua saja yang seharusnya diringankan dari pekerjaan apapun. itu menurut Aira.
"Apa.... kalian mau pulang... enggak bisa gitu, lho...kan aku masih kangen sama cucuku..." ibu yang sedang mengatur hidangan sarapan pagi jadi marah...
Aira hanya diam, menyerah pada keputusan suaminya.
"Kasian Arsyad nya Bu, nangis terus. takutnya malah sakit nanti..." Anwar tidak menoleh ke arah ibu.
"ooh... nggak apa-apa juga, lagian disini memang tidak nyaman..." ibu kecewa.
Aira hanya diam saja tak berani menatap kedua orang di depannya sama sama kecewa dengan kata yang telah terucap....
_
_
_
_
__ADS_1
Happy reading guys..