Cinta Karena Kewajiban

Cinta Karena Kewajiban
Menjalani Takdir


__ADS_3

Sudah seminggu ini Aira dan Anwar lebih banyak menghabiskan waktu bersama di kamar mereka, menjaga jarak dari ibu dan ayah agar tidak saling bicara. Mereka belum siap menyampaikan hasil dari kunjungan ke rumah paman.


Aira menyibukkan diri dengan administrasi sekolah dan tugas kuliahnya setiap keluar kamar hanya jika ada keperluan sebentar saja seperti mengambil minum buat suaminya atau makan ke dapur setelah makan saat di panggil ibu, Aira bergegas beranjak lagi ke kamar dengan alasan "maaf ya Bu,tugas Aira masih banyak,,,"


Pagi-pagi Aira mengerjakan rutinitas yang dilakukanya sehari dari bangun tidur, membersihkan kamar, membuatkan kopi dan sarapan pagi suami, mandikan Arsyad dan menyusui sampai Arsyad kenyang, membersihkan diri dan bersiap ke sekolah setelah menitip Arsyad ke ibu.


Pulang sekolah Aira ganti baju membersihkan badan yang berkeringat, menyusui Arsyad lagi karena sudah di tinggal selama 5 jam, cukup sekali minum susu formula dalam sehari bagi Arsyad yang memasuki 4 bulan seminggu lagi.


Setelah Arsyad di pangkuan Aira ibu pun pergi menyusul ayah ke sawah atau kebun di mana ayah bekerja. setelah Sifa pulang sekolah Aira pun asyik berkutat di dapur untuk menyiapkan makan malam. Sementara Arsyad bermain bersama aunty Sifa.


Sifa paling senang bawa Arsyad ke ruang keluarga buat nonton film kartun. bahkan masih sekecil itu Arsyad sudah senang matanya kena cahaya tv, bahkan sampai tertawa terkekeh dia kalau lihat tom Jerry saling kejar-kejaran. Sifa jadi senang liat ponakan kesayangannya.


"Mas, mau sampai kapan kita kayak gini terus, sih... ayah dan ibu pasti sedang mempertanyakan sikap kita sekarang..." Anwar merasa aneh dengan Aira yang pd merangkul lengannya dan mengelus punggung tangan Anwar seakan mereka pasangan yang saling mencintai.

__ADS_1


Biasanya kan selalu Anwar yang meminta Aira duduk menemaninya kalau lagi ngopi atau ada masalah yang mau dibicarakan itu pun Aira hanya bersikap cuek.


Tubuh Anwar seakan di aliri arus listrik menikmati sensasi itu, senang sekali dia. Memang ada kalanya sengsara membawa nikmat, pikiran nya jadi lebih tenang dan damai.


Seandainya waktu berhenti berputar biarlah Aira selalu seperti ini, menatap Anwar dengan penuh perhatian.


"Terus kita harus apa... menyampaikan penolakan paman ada dua resiko yang akan terjadi yang pertama harga diri mas dan rumah tangga kita akan hancur"


"Kadang mas mikirnya lebih baik kita beli saja tanah lahan perumahan dan kita tidak perlu berhubungan dengan mereka, dan kita pun rumah tangga kita pun akan bahagia tanpa pengaruh apapun..."


Anwar menyampaikan apa yang sedang di khayalkan sekarang dengan pandangan kosong menatap lurus ke luar jendela.


"Mas, selagi kita masih di daerah ini tidak akan ada urusan yang selesai tanpa mereka, bahkan jika kamu mau beli tanah pun itu urusan para paman pihak istri, kamu kan tahu tradisi kita..."

__ADS_1


"Memang sih sebenarnya aku nggak suka dengan tradisi yang seperti ini, itulah alasannya dulu aku nggak mau pacaran ataupun menikah sama orang sekampung... tapi _ _" akhirnya jati diri Aira keluar juga.


"Jadi, nyesel donk nikahnya sama mas?" Anwar menatap Aira.


"Enggak kok mas... itu kan sudah takdir kita yang harus dijalani.." Aira membetulkan niatnya lagi. tak ingin suaminya menilai negatif.


"Begitu donk jadi istri, kan mas jadi lebih semangat berusaha...


Sudah hampir hampir masuk waktu Ashar, sebentar lagi Aira akan memandikan Arsyad.


Aira mandi terlebih dahulu gantian sama suaminya. biar Arsyad nggak kena bau keringatnya lagi kalau di gendong habis mandi nanti.


Ternyata berumah tangga itu tidaklah mudah, banyak hal yang harus dijalani dan di perhatikan. Tidak hanya untuk kebutuhan makan, biaya, memiliki anak, kesehatan tapi juga kenyamanan lahir batin dan pencapaian tujuan hidup bersama yang dilandasi saling cinta yang mulai kini dirasakan Aira. Bagi Aira biarkan semua berjalan seperti air mengalir. rasa syukur akan membuat semuanya indah, asalkan dia dan Anwar saling percaya.

__ADS_1


__ADS_2