Cinta Karena Kewajiban

Cinta Karena Kewajiban
Permintaan Keluarga


__ADS_3

Hari ini di sekolah tempat kerjanya Aira mengadakan acara gotong royong bersama siswa. guru-guru mengawasi sambil berbicara antara satu dan yang lainnya. Aira memilih duduk di pangkal pohon besar bersama Bu Tia yang ia panggil dengan sebutan kak Tia.


Kak Tia sebaya dengan kakak kandungnya Iyan dan belum menikah. Kak Tia sangat cuek dengan laki-laki jadi dia tidak punya pacar yang serius. orang-orang di sekitar tidak berani membicarakannya. jika ada yang membicarakan tentang dirinya dan sampai di telinganya, maka ia akan menemui orang itu dan menyosornya dengan kata-kata yang pedas melebihi pedasnya samba lado.


Bu Tia sangat pandai dalam mengulik masalah orang apalagi yang pemalu kayak Aira. contohnya kali ini dia menanyakan sejauh mana hubungan Aira dengan Haris, apa saja yang Aira lakukan waktu pacaran sama Haris bahkan dia menanyakan bagaimana perasaan Aira yang menginap di rumah Haris.


Aira yang polos menceritakan semua kejadian selama menjalani hubungan dengan Haris, kak Tia yang tak pernah mengalami masa-masa seperti itu merasa geli sendiri. kemudian dia menggoda Aira lagi "ye, kamu Aira, yang sok lugu disini juga ada cadangan Tomi sama Bobi!"


"ah, kak Tia apaan sih. aku anggap mereka sebagai kakak, kok!" teriak Aira mendorong bahu Tia.


"masa kakak gayanya segitu amat" godanya "eh, tapi kayaknya Tomi beneran naksir sama kamu, lho!" tambahnya.


"jangan bikin ge er deh, kak" balas Aira yang sebenarnya juga tahu kalau Tomi pernah menyatakan suka sama dia.


"Aira, selama ini kan banyak cowok yang suka sama kamu, terus kamu nggak mau nikah muda, gitu?" kak Tia mulai bertanya serius


"Sebaiknya emang gitu sih, kak. daripada lama-lama seperti ini takutnya nanti, kebanyakan zina hati dan mata" Aira memutar-mutar bunga yang dipegangnya. Aira merasa nyaman bicara dengan Tia hingga dia membukakan semua rahasianya.

__ADS_1


"Lelaki seperti apa yang kamu tunggu, sih?" tanyanya seperti mengintrogasi tersangka saja.


"Aku akan menerima siapapun yang direstui ayah dan ibuku, kak" suara Aira pelan namun terdengar jelas di telinga Tia.


"Ah, kalau aku jadi kamu mah, aku akan menentukan sendiri calon suami ku" tegas kak Tia yang tidak suka dengan sikap Aira selalu pasrah dan mengalah.


"Ya, harus bagaimana lagi kak. aku tidak ingin


orang merusak nama baik keluarga" Aira seakan meminta pendapat pada Tia.


"Kata orang mah tak usah didengar, yang penting lakukan apa yang terbaik untuk diri kita!" Tia semakin kasihan melihat Aira.


_.._._._._._.._._._..'._._.._._._.._..._._.


Sore hari saudara laki-laki ibu Aira berkumpul di rumah. Aira heran ada apa ya, biasanya pamannya ke rumah jika ada masalah keluarga yang harus diselesaikan.


Ibu meminta Aira menghidangkan makanan cemilan dan minuman untuk paman dan ayahnya. ibu juga duduk diantaranya. setelah menghidangkan minuman Aira yang takut ikut campur urusan orang tua segera berdiri. tapi pamannya yang paling tua menghalangi.

__ADS_1


"Duduklah sebentar di sini!" pintanya "kami berkumpul disini atas permintaan ayah dan ibumu, karena seperti kata pepatah kecil anak ayah besar kemenakan paman" kata paman yang mana dia seorang penghulu dan pemuka masyarakat desa. semua orang patuh pada nasehat nya.


"Begini, karena kamu sudah kami anggap dewasa, kamu tentu tahu apa yang terbaik untukmu dan tidak merusak nama baik keluarga kita yang sangat disegani masyarakat. pertama-tama kami ingin bertanya, apakah kamu sudah mengikat janji atau memiliki calon sendiri?" dua paman yang lain adik ibu dan ayah menakurkan kepala sementara ayah menyandarkan kepalanya di dinding sambil menatap Aira penuh harapan.


"tidak, paman" Aira yang belum mempersiapkan diri refleks menjawab. tidak ada yang difikirkan Aira ketika itu selain memberikan Jawaban yang tidak membuat orang tua dan pamannya marah.


"Jika memang tidak ada. kami ingin tahu seandainya ada yang melamar mu, apakah kamu sudah siap menerima?" tanya paman dengan suara datar.


Aira tidak memberikan jawaban, karena jika dia menolak pasti semua yang duduk di lingkaran ini akan langsung memarahinya. jika ia menjawab setuju ia belum tahu laki-laki itu siapa orangnya. ditatapnya wajah ayah yang sayu sangat mengharapkan cepat punya menantu.


"Karena kamu hanya diam berarti kami anggap setuju, lagian calon suami itu seorang pekerja keras, dia sangat menyayangi orang tuanya yang pasti juga akan menyayangimu nantinya" nasehat paman.


"Berarti, dua minggu lagi keluarga nya bisa kami minta datang bertamu padamu, persiapkan dirimu sematang mungkin!" tambah paman Faisal adiknya ibu.


"Yah, tidak apa di percepat, karena hal baik harus disegerakan" ayah memberikan pendapat.


Tidak lama setelah itu mereka berbincang-bincang menyusun acara lamaran dari pihak laki-laki dan menutup pertemuan dengan kabar baik bagi mereka. tapi bagi Aira ini semua begitu sulit hingga tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ia meminta izin dan berlalu meninggalkan perkumpulan keluarga segera masuk kamarnya.

__ADS_1


Seperti biasa sebelum tidur Aira melakukan ibadah malam dulu dan sekarang di tambahkan dengan shalat istikharah meminta petunjuk agar diberi kebaikan atas keputusannya.


_._._._.._._._.._._._.._.._.._._._.__.


__ADS_2