Cinta Karena Kewajiban

Cinta Karena Kewajiban
Aku disini namanya yang kau panggil


__ADS_3

Hari sudah semakin senja, matahari mulai bersembunyi dibalik bukit yang mengelilingi desa. Aira sudah siap memasak makanan untuk hidangan malam nanti. dia menunggu waktu magrib di depan televisi.


"kak, kok mas Anwar nggak kelihatan sejak tadi, mana dia?" tanya Sifa yang suka bercanda dengan kakak iparnya.


"ada urusan di tempat teman, katanya" jawab Aira sesuai yang dibilang Anwar sebelum pergi tadi.


"Jangan sampai dia pergi, gara gara kakak sok jual mahal, ya!" goda Sifa yang mulai centil.


"Dasar, kamu dek. kan sudah dibilang karena ada urusan, bawel" Aira menjambak Jambak rambut Sifa dengan gemasnya, haha mereka tertawa lepas. akrab sekali dua beradik.


"eh, eh. apaan sih, senja senja kok tertawa terpingkal-pingkal, tak baik tahu. ayo buruan wudhu sana!" ibu mengingatkan Aira dan Sifa. apabila sudah mendekati magrib seharusnya berwudhu, bersiap siap menunggu azan kemudian shalat bersama. tertawa di senja buta tidak baik. begitu kata ibu.


Di rumah Aira memang jarang sekali terdengar suara gelak tawa, karena mereka tidak suka bercanda. diantara lima orang yang ada hanyalah Sifa yang bisa menghidupkan suasana. tetapi kalau kelamaan bercanda, ayah atau ibu langsung menghentikan mereka seperti kali ini.


Usai shalat dan berdoa, seperti biasa mereka menyimpan peralatan ibadah dan berkumpul lagi di meja makan. tapi kali ini ayah menunda sebentar acara makannya. mata ayah tertuju pada satu kursi kosong.


"Ra, kemana suamimu?" tanya ayah pada Aira.


"katanya, ada urusan penting, yah!" jawab Aira sambil merapikan hidangan.

__ADS_1


"kamu sih, Ra. ditemani kek suami pergi" celoteh kak Iyan, perutnya sudah keroncongan.


"apa kata orang, kalau baru dua hari menikah saja, suami sudah tidak betah di rumah!" ayah menasehati Aira. "terus, apa dia bisa datang sebelum makan di mulai?" tambah ayah.


"tidak tahu, ayah. dia tidak mengatakan jam berapa akan pulang!" jawab Aira ragu ragu.


"tuh kan, gara gara kak Aira lagi, jadi telat kan makannya. ayo lah ayah, Sifa lagi banyak pr nih,!" rengek Sifa yang akan mengerjakan pr nya.


"Ya, sudah. sekarang kita makan. lain kali tanya dan cari tahu kemana suamimu, Aira. bagaimana kalau terjadi sesuatu dengannya, kan istrinya yang dipertanyakan orang!" ayah menjelaskan. akhirnya semua makan, tak ada lagi yang berani bersuara sampai makan usai.


_.._._._._.._._.._._.._._._.


Aira termenung di tempat tidurnya. ingin menuliskan sesuatu dalam lembaran buku diary namun tidak satu kalimat pun yang bisa dirangkainya.


Dibaliknya lembar demi lembar diary, tiba-tiba mata Aira melotot membaca tulisan dengan huruf besar semua, dia membaca tulisan yang bukan tulisannya itu perlahan, tidak ada yang salah dengan jodoh.


Tidak mungkin orang lain yang menulisnya, itu pasti tulisan Anwar. pikirnya. berarti Anwar telah membaca diarynya, mungkin dia sudah tahu isi hatiku. mungkinkah dia marah karena aku masih belum bisa melupakan Haris.


sebenarnya Anwar pria yang baik, keluarga nya juga ramah dan menghargai ku, dia sangat menyayangi keluarganya, dia juga pekerja keras. tak mungkin dia menyianyiakan hidupku.

__ADS_1


Aira berharap semua baik baik saja, ia tidak mungkin menjanda secepat itu, apa kata orang nanti pada ayah dan ibunya.


tok.. tok... Anwar mengetuk pintu kamar sebelum masuk, kemudian dia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan menggosok gigi. sebelum membuka kamar mandi di liriknya Aira yang sedang tidur. kelopak matanya bergerak, berarti dia pura pura tidur donk.


"hah.. hah.." Anwar mencium bau nafasnya sendiri dengan menahan telapak tangan di mulut kemudian menciuminya kembali. setelah dirasa segar dia berbaring di samping Aira.


Anwar menatap tubuh yang membelakanginya. meski tertutup dari ujung kaki sampai ujung kepala namun ia dapat melihat lekukan gitar spanyol seperti yang sering dikatakan pujangga. sekejap naluri lelakinya menyala. ah...


Ditariknya selimut, ditutupkan ke tubuh Aira pelan pelan, perlahan di sentuhnya kepala Aira yang berhijab. Aira menggeliatkan tubuhnya, merubah posisi tidur menghadap ke arah Anwar.


Anwar merasa yakin, kalau Aira sudah introspeksi diri selama kepergiannya hari ini. dengan percaya diri Anwar semakin merapatkan badannya, hingga wajahnya berpapasan dengan wajah Aira, dipandangnya setiap mil raut wajah Aira, muach diciumnya kening Aira dengan lembut.


Aira tidak menunjukkan reaksi apapun, sepertinya dia memang tidur pulas. Anwar sangat menikmati pemandangan di depannya, kali ini mulai dirangkulnya tubuh mungil Aira ke pangkuannya.


"bang Haris..." Aira mengigau menyebut nama yang Anwar lihat di hp dan diary. Anwar dengan terkejut melepaskan tubuh Aira dan menjauh ke tepi tempat tidur.


aku yang di dekatmu, mengapa namanya yang kamu panggil Ai?


Keluh Anwar dengan posisi duduk tersandar di kepala tempat tidur. jika kamu mencintainya, aku akan merelakanmu. apa artinya kita menikah tapi dihati kita ada orang ketiga.

__ADS_1


Di keheningan malam yang semakin larut, hanya terdengar suara nyanyian jangkrik dan kunang kunang , Anwar benar benar merasa kecewa, hingga dia tidak bisa memejamkan mata hingga subuh.


_._._.._._.__.._._._._._._._._


__ADS_2