Cinta Karena Kewajiban

Cinta Karena Kewajiban
Melahirkan (part 2)


__ADS_3

Dokter Mardani akhirnya datang juga bersama seorang perawat untuk membantu proses melahirkan. Nafasnya ngos-ngosan karena bergegas sejak tadi, pasien yang ditangani di rumah sakit hati ini lebih banyak dari biasanya, namun tetap stabil. Namun khusus untuk proses melahirkan kali ini dia sudah janji pada Anwar dan Aira akan menangani secara intensif.


"hhuff..." Aira menghirup udara dan menghembuskan perlahan setelah keluar dari kamar mandi.


Dengan sigap dokter Mardani mengeluarkan peralatan medisnya dengan dibantu perawat yang bernama Mita.


"Tidurlah dengan miring ke kanan Aira. sebelumnya tolong tutup pintu kamarnya, Bu Lela" dokter Mardani memberi instruksi. dia memulai dari menggunakan stetoskopnya dilanjutkan dengan mengetes tensimeter digital. hingga melakukan pemeriksaan dalam yang ternyata sudah pembukaan 4.


"Coba sekarang buka pakaiannya dan tutup tubuhnya dengan selimut tipis, ya yang itu" Anwar dengan sigap melakukan instruksi dokter Mardani tanpa melepaskan pandangannya dari Aira.


"Mas, kalau ini sakit sekali mas. kalau terjadi sesuatu tolong maafkan aku ya, mas" Aira meremas lengan Anwar. kali ini sangat sakit sekali.


"Yakinlah semua akan baik-baik saja... kita akan menggendong anak kita bersama..." Anwar pun merasa takut dan cemas. dihapusnya keringat di wajah Aira.


"Mas, aku serasa mau buang air besar, ini mendesak sekali..."


"Benarkah.... ayo sekarang sudah waktunya" dokter memasukkan tangannya ke balik selimut tipis yang membalut Aira sementara Aira berpegangan kuat ke pundak suaminya sambil berusaha mengejan kuat.


satu....


dua...


tiga....


"Ayo Aira, sekuat kuatnya..." dokter memberi aba-aba.


"Eeak....eak..." Terdengar suara tangisan setelah dokter Mardani mengeluarkan tangannya sambil menggendong bayi yang baru lahir dari kandungan Aira.


"Al_ham_dulillah... pukul 12:45" dokter menyebutkan waktu lahirnya. dokter memasukkan tangannya lagi ke bagian dalam Aira untuk mengeluarkan plasenta bayi.


"Mita.. cepat bersihkan, jangan biarkan kedinginan..." Mita mengelap lendir lendir yang menempel di tubuh si bayi dan ibu menyiapkan keperluan nya.

__ADS_1


"Dok bagaimana bayinya?" Anwar tidak sabar menunggu.


"Sehat... bayi laki-laki, berat 3,2 kg tinggi 49cm s,ilahkan di di azankan..."


Anwar menarik tangannya lembut dari bawah kepala Aira, pergi berwudhu dan menggendong buah hatinya untuk pertama kali dan mengarahkan menghadap kiblat "Bismillahirrahmanirrahim"


"Allahuakbar...2x"


"Ahshaduanllailaa hailallah...2x"


......


......


Ritual terakhir Anwar membisikkan doa ke telinga bayinya sebelum dikembalikan ke perawat.


Perawat menidurkan bayi di samping Aira.


_._._._._.


Ibu Aira yang sejak tadi dilanda kecemasan sekarang merasa lega. tak henti-hentinya dia mengucap syukur dalam hati dan mulutnya. ia begitu bahagia melihat cucunya lahir dengan selamat dan kondisi yang sangat sehat.


Dengan penuh semangat ibu memberi kabar baik itu pada ayah, Sifa dan Iyan yang menunggu di ruang tengah.


_._._._._.


Akhirnya lelah dan sakitnya Aira terobati sudah dengan hadirnya seorang bayi laki-laki di hadapannya. Kini ia begitu sangat plong sekali serasa lepas dari beban yang beratnya ratusan kiloan.


"Tidurlah kamu masih lelah..." Anwar mendekapnya.


"Jangan biarkan Aira bergerak dulu, biarkan saja tidur telentang dalam beberapa jam" bantah ibu

__ADS_1


"Ambilkan dia makan segera, dia masih lemah karena energinya terkuras habis tadi. dan jangan bergerak selama 2 jam ke depan"


Dokter Mardani dan perawat Mita memasukkan kembali peralatannya kedalam bag setelah dicuci dengan air hangat.


"Ya sudah, besok kami akan datang lagi untuk memandikan bayi sampai 4 hari ke depan."


"Makasih dok"


"Makasih dok"


Aira dan Anwar berucap bersamaan.


Setelah dokter pergi tinggallah Anwar beserta istri dan anaknya. dengan penuh syukur diciumnya kening Aira dengan lembut dan cukup lama sekali.


"Terimakasih sayang... telah menghadirkannya dalam hidupku, begitu besar pengorbanan mu untuknya..."


"Jangan katakan itu, dia juga hidupku aku yang melahirkannya, mas"


"iya, mas setuju dia adalah hidup kita yang harus kita jaga dan besarkan bersama, Ai"


Semoga kamu akan menjadi penguat hubungan papa dan mamamu, nak. Anwar membatin.


_


_


_


Happy reading...


jangan lupa tinggalkan jejak ya readers...

__ADS_1


__ADS_2