
Bel tanda pulang sekolah berbunyi, semua guru dan siswa meninggalkan kelas menuju ke gerbang sekolah. ada yang langsung berjalan pulang dan ada yang menunggu jemputan.
Hari ini terasa aneh bagi Aira, biasanya Anwar sudah siaga menunggunya di gerbang, kok kali ini tidak kelihatan puncak hidungnya.
kemana dia ya. kenapa tidak memberi kabar. untungnya Tia belum pulang, jadi Aira bisa boncengan.
Tia yang suka kepo merasa curiga dan menanyakan ada apa dengan hubungan mereka, apa Aira membuat suaminya tersinggung.
Aira meyakinkan Tia bahwa tadi pagi masih baik baik saja. Anwar masih mengantarnya seperti biasa.
sesampainya di depan rumah Aira turun dari motor dan mengucapkan terima kasih. Tia tidak lupa mengingatkan Aira agar menjaga suaminya baik baik dan melakukan kewajiban sebagai istri.
seperti sudah pengalaman saja, nikah saja dia belum.
Sesampainya di rumah Aira memperhatikan ruang tengah yang kosong. kemudian menuju kamar, kenapa pintu kamar tidak tertutup...
Pelan dan tetap tenang Aira berjalan ke tempat tidur mendekati Anwar yang ngigau memanggil manggil "ibu..ibu.. sa..kit... Aira melihat wajah suaminya pucat dan berkeringat, di pegang keningnya, panas sekali.
Aira tidak punya pengalaman menangani kasus seperti ini, dia buru buru mengambil hp dan mengabari ayah dan ibunya agar segera kembali ke rumah membantu mengobati suaminya.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih, mas. tadi masih baik baik saja. kenapa panas sekali ... hiks hiks. Aira memegang tangan kanan suaminya sambil menunggu ayah dan ibunya datang.
Pintu di luar terdengar terbuka, mungkin ayah dan ibu sudah pulang. mendengar Aira menangis Sifa yang baru pulang sekolah memasuki kamar kakaknya yang pintunya terbuka.
"Kak, ada apa dengan kak ipar...?" tanya Sifa cemas.
"Kakak juga tidak tahu, dek. tadi saat kakak datang. kakak melihat mas Anwar sedang mengigau kesakitan dan memanggil manggil ibu beliau..." Aira tidak tahu harus berbuat apa.
"Sambil menunggu ayah, kita kompres dulu ya, kak..." Sifa mengambil tindakan.
Sekitar satu jam ayah dan ibu baru sampai di rumah, karena dia harus mengontrol buruh kerjanya terlebih dahulu.
Semua anggota keluarga berkumpul di kamar Aira, mengelilingi Anwar yang sedang terbaring. ayah berpikir dengan tenang mencari pengobatan alternatif agar tidak ada yang tahu kalau Anwar sedang sakit, termasuk paman paman Aira apalagi pihak keluarga Anwar sendiri.
"Tidak usah Iyan, terimakasih. aku nggak apa-apa ayah. jangan mencemaskan aku..." Anwar menatap semua yang duduk di sekitar ranjangnya, tak ingin merepotkan mereka. kemudian dia menundukkan wajahnya.
Mendengar ucapan Anwar Iyan tidak jadi pergi. namun dia tetap merasa kasian melihat adik ipar yang di panggilnya mas itu. laki laki mana yang bisa menahan gejolak kejantanan nya, melihat istrinya siang malam tanpa melayani kebutuhan jasmaninya....
Iyan menatap ayah, kemudian pindah ke ibu. tatapan matanya penuh makna, dia sebagai anak laki-laki yang sudah dewasa pasti mengerti apa yang dirasakan adik iparnya sekarang.
__ADS_1
"Apakah sejauh ini hubungan kalian baik baik saja?" pertanyaan ayah mertua membuat Anwar kaget, segera dipegangnya tangan Aira dan meletakkannya kedada "iya, ayah... semua baik baik saja....
Aira pura-pura tersenyum bahgia di depan keluarganya. membiarkan Anwar mencium punggung tangannya. memperlihatkan kemesraan mereka.
"Ayah, ibu dan Iyan maaf telah mebuat cemas. aku hanya demam biasa saja. nanti juga sembuh sendiri..." Anwar meyakinkan keluarga Aira.
"benar, kayaknya panas tubuh kak ipar mulai normal..." Sifa mengambil termometer yang tadi di selipkan di ketiak kakak iparnya.
" Kalau begitu istirahatlah, jika terjadi sesuatu katakan saja... ayo kita keluar !" semua keluar meninggalkan Anwar dan Aira.
Aira mengusap dada suaminya, berharap dia sehat kembali seperti sedia kala. "Kenapa kamu sampai kayak gini mas, aku kan jadi cemas... hiks... hiks
"apa kamu benar-benar ingin tahu, Ai.... " Anwar menahan suaranya "aku tidak yakin...
"Mas, sungguh aku mencemaskan dirimu, tadi pagi kamu baik baik saja. tapi mengapa tiba-tiba kamu jadi sakit...hiks." Aira mendekapkan kepalanya ke dada bidang Anwar.
"Ai, kamu tidak perlu memikirkan aku. kamu tak kan pernah tahu dan tak perlu tahu... hhh...
"Mas, maafkan aku... aku tahu kamu berusaha melindungi ku, tapi tidak pernah berterima kasih... hiks..hiks Aira menangis di pelukan suaminya.
__ADS_1
"Jangan berkata seperti itu, aku bertanggung jawab untuk melindungi mu, Ai.. aku hanya butuh dimengerti olehmu..." Anwar mengusap kepala Aira dalam pelukannya. seakan tak ingin terpisahkan Anwar mendekap Aira sangat erat.
"Aku tidak sanggup menahan gejolak ini, Ai..." kali ini suhu tubuhnya sudah mulai turun. berada di dekat Aira membuatnya lebih nyaman. semua beban dan hasratnya terkendali meski hanya dengan satu kecupan bibir saja.