
Keadaan dan masalah yang sedang melanda rumah tangga Aira yang belum genap dua tahun menjadikannya terpuruk dan jadi kepikiran sehingga batinnya tak tenang. Hal itu pun berpengaruh pada Arsyad yang masih bayi yang mempunyai ikatan batin yang kuat dengan sang ibu.
Bayi seperti Arsyad memang lebih peka terhadap orang-orang di sekitarnya. Setiap Aira gelisah dan banyak pikiran Arsyad selalu saja menangis keras-keras dan mengamuk, hingga susah ditenangkan meski di kasih mainan ataupun di tetekin Aira. bahkan Sifa dan ibu sampai bersenandung sambil mengayun Arsyad dalam pangkuannya.
Setelah berbulan-bulan ayah memperhatikan keluarga anaknya dan sering mendiskusikan dengan ibu timbul rasa kasihan ayah terhadap anak, menantu dan cucunya.
Menurutnya menantunya mungkin sedang memperjuangkan masa depan anak dan cucunya yang harus didukungnya.
Malam ini setelah makan malam, ayah meminta semua anggota keluarga berkumpul di ruang tengah.
Ibu dan Aira pun telah menyiapkan minuman dan camilan di atas meja agar tidak diganggu Arsyad yang sudah mulai lincah berputar dan tengkurap.
Makanan dan minuman adalah sesuatu yang bisa menghangatkan dan mengakrabkan suasana acara kumpul keluarga. Karena meskipun tinggal dalam satu atap tidak bisa setiap hari mereka berkumpul dengan anggota yang lengkap dan bercengkrama seperti ini.
Arsyad dengan riangnya membalik-balik badanya dari telentang hingga tengkurap sampai telentang lagi dan berputar seperti jarum jam di tengah-tengah keluarga yang menggoda dan mengajaknya bercanda.
" Mau membahas lamaran kak Iyan ya, yah...." Sifa yang baru duduk berceloteh.
__ADS_1
"Apaan sih kamu, dek..." kesal Iyan menatap kesal Sifa
"Kan kemaren.... Ups...." Sifa menutup mulutnya karena semua mata terbelalak ke arahnya.
"Sifa kebiasaan kamu... Ayah saja belum bicara..." tegur ibu yang duduk disampingnya.
"Benar kata ibu Sifa, biasakan mendengar orang tua terlebih dahulu..." nasehat ayah yang ditujukan bukan hanya untuk Sifa seorang tapi untuk semua anggota keluarganya.
"Maaf, ayah...."
"Iyan.." ayah memanggil iyan yang langsung mendongakkan kepalanya menghadap ayah " Apa benar kamu sudah punya rencana?"
" Ya sudah kalau begitu, tidak masalah kalau mau secepatnya juga tidak apa kalau niat baik memang harus disegerakan..." ayah diam sejenak sebelum melanjutkan pembicaraannya
"Setelah ayah perhatikan dan pertimbangkan bersama ibu kalian, tentang masalah Aira yang tidak mendapat persetujuan dari para paman kalian maka ayah dan ibu berinisiatif agar Anwar dan Aira membangun rumah di samping rumah kita saja"
"Karena tanah di samping masih hasil keringat ayah dan ibu, tidak ada yang akan mempermasalahkan selain kalian berempat, dan bagaimanapun harta milik wanita dibawah kuasa laki-laki yang disini nantinya hanya Iyan yang akan menentukan sebagai satu-satunya putra kami"
__ADS_1
"Bagaimana menurutmu Iyan, apakah kamu akan mendukung pendapat ayah demi ponakanmu?" ayah bertanya setelah menjelaskan situasi dengan rinci.
Iyan pun setuju dengan pendapat ayah lagian Arsyad juga sudah tujuh bulanan sekarang. Begitupun dengan Anwar juga akan mengikuti saran dari ayah yang menurutnya tidak perlu banyak urusan kesana kemari.
Akhirnya sesuai keputusan ayah, minggu depan Anwar sudah bisa mengukur lokasi dan langsung membangun pondasi yang menurut perkiraannya pembangunan rumah akan diselesaikan dalam jangka waktu sebulan.
Aira melihatkan senyum kecilnya pada keluarganya karena merasa lega dengan keputusan ayah yang berarti bahwa ia masih akan selalu dekat dengan keluargan. Sebagai ungkapan terima kasih dan syukurnya. Aira pun merangkul Sifa dan ibu kemudian bersalaman pada ayah dan Iyan saudara laki-laki satu satunya yang sangat di seganinya.
-
-
-
-
-
__ADS_1
Maaf reader lama up datenya, mungkin karena like n' comment cuma sedikit membuat author jadi kurang PD nulisnya...