Cinta Karena Kewajiban

Cinta Karena Kewajiban
Memenuhi kewajiban 1


__ADS_3

Makan malam keluarga telah usai, seperti biasanya ibu dan Aira sibuk kembali membersihkan meja dan mencuci peralatan makan yang kotor. Sifa kali ini tidak ikut bekerja.


"Sifa nggak ikut ya, Bu. soalnya Sifa harus belajar, minggu depan ujian naik kelas" Sifa pergi ke kamarnya


"Ya sudah, sana belajar" ibu memerintahkan Sifa pergi.


"Yang semangat belajarnya ya dek," Aira mengerdipkan matanya, karena dia tahu itu hanya alasan Sifa saja. Aira sering melihat Sifa hanya main game dan chating tanpa menjauhkan buku dari bantalnya.


Namanya juga anak muda, yang fasilitasnya cukup.


Sementara ayah dan Anwar duduk santai di ruang tengah. Sedangkan Iyan sudah pamit keluar rumah, maklum anak muda sukanya nongkrong malam sambil ronda.


Setelah selesai dengan pekerjaan di dapur, Aira dan ibu menuju ruang tengah dimana ayah dan Anwar sedang asyik ngobrol, sesekali ayah menyeruput rokoknya. Anwar pun demikian. kemudian mereka berbicara lagi sambil tertawa kecil. tanda bahagia.


"haha... memang setiap usaha itu butuh keterampilan dan keyakinan, sama juga dengan petani. lihat mereka yang tidak yakin dalam berusaha tidak ada hasilnya, gagal panen terus...." ayah sedang asyik menguliahi menantunya.


"Karena itu ayah, saya ingin tetap melanjutkan usaha saya, agar lebih baik lagi." Anwar mengutarakan isi hatinya di depan ibu mertua dan istrinya.


Sebenarnya ayah Aira menginginkan Anwar bisa mengikuti jejaknya sebagai petani sukses di desa, tapi Anwar tidak bisa menuruti kemauan ayah.

__ADS_1


Alasannya Anwar tidak bisa meninggalkan usahanya yang sudah susah payah dia bangun. delapan tahun Anwar menjadi anak buah Usman, sebelum bisa membangun usaha sendiri. usahanya benar benar dari nol.


"Sebenarnya bagus juga pekerjaan kamu sekarang, saingan juga belum banyak. kami sebagai orang tua selalu mendoakan yang terbaik di masa yang akan datang" ayah tidak ingin terlihat memaksakan kehendak.


"Hhm... sebenarnya ayah ingin melepaskan hutang kami sebagai orang tua" ayah berbicara dengan tenang. "dulu kami pernah berjanji akan memberikan modal untuk suami Aira, ya kan, Bu. Aira juga tahu itu" ibu dan Aira hanya manggut-manggut kepala menyetujui perkataan ayah.


"Kalau itu kehendak ayah dan ibu saya tidak bisa menolak, tapi sebagai pendatang di keluarga ini, saya ......" Anwar tidak melanjutkan kata-katanya, karena dia tidak tahu harus berkata apa.


Aira juga pernah mengatakan itu sebelumnya, tapi Anwar tidak menanggapi nya, takut di nilai mengharapkan harta orang tua Aira.


Memang aku tidak sekaya kalian, tapi aku menikahi putrimu bukan karena harta.


Anwar menatap Aira menunggu tanggapan dari istrinya. Aira memegang lutut Anwar, "nggak apa-apa mas. ini kan bukan hutang, ya kan, ayah??"


"Tidak, kalian tidak akan berhutang sepeserpun. kami hanya ingin memenuhi janji kami" ayah menguatkan pernyataannya. "Kalau begitu, ayah anggap kalian menerimanya. besok kita lanjutkan lagi, ya."


Ayah menutup obrolan malam ini, kemudian beliau meninggalkan tempat untuk shalat isya kemudian masuk kamar. begitupun Anwar dan Aira.


"Ai, sebenarnya saya segan dengan keluarga mu, apa kata mereka nantinya" Anwar berjalan menuju kamar dengan memegang pundak Aira.

__ADS_1


"Ah, jangan khawatir mas. ayah dan ibu tidak bermaksud apa-apa. itu memang janji ibu, kalau tidak percaya tanya saja ke bibi Tisya. beliau juga mendengarnya waktu itu" Aira malahan semakin semangat membayangkan banyak pelanggan di toko yang membeli dagangan suaminya.


"Tapi sungguh Ai, ini bukan tujuan aku menikahi kamu..." cuup.. Anwar mencium kening Aira agak lama penuh kasih sayang.


"Aku percaya itu mas, semua tentang mas sudah ku dengar dari bibi Tisya dan kak Erni. oh ya, katanya mas rajin ngaji tengah malam juga" Aira ingin mengalihkan pembicaraan.


"Ternyata diam diam kamu suka, ya!" Anwar berbaring di tempat tidur diikuti Aira.


"Bibi sudah menceritakan semuanya, bahkan kamu juga pernah hampir nikah sama kak Wesi yang bidan itu kan, tapi bibi nggak mau bantu..." Aira membuka tabir masa lalu Anwar yang minta di comblangi bi Tisya. "padahal dia suka lho, sama kamu mas... hehe"


"Itu mah, dia yang suka sama aku. tapi sayang aku nya suka sama kamu, Ai" Anwar mendaratkan ciuman lagi di pipi Aira.


"Kasihan dia ya, mas. padahal dia cantik, bidan lagi, tapi suaminya kok tega meninggalkannya" Aira meluruskan badannya.


"Jangan suka membicarakan orang lain, nanti ku gigit bibirmu" Anwar tidak suka membicarakan mantannya yang sudah menjanda itu.


"Tapi benar kok mas, kemarin waktu kita berpapasan di jalan, kayaknya dia kesal denganku" Aira sempat cemburu karena Wesi memegang tangan suaminya kemaren.


"itu perasaan kamu saja, Ai. aku hanya mencintaimu dan tidak punya waktu memikirkan perempuan lain" Anwar menindih tubuh Aira yang kecil. tidak sabar lagi ingin menghabiskan malamnya dengan wanita yang sangat dicintainya. meski meronta dan menangis pun Aira tetap akan menyerah.

__ADS_1


yah, walaupun cinta itu belum didapatkan dengan seutuhnya. kepatuhannya saja sebagai istri sudah cukup.


__ADS_2