Cinta Karena Kewajiban

Cinta Karena Kewajiban
Demam karena Aira


__ADS_3

"Mas,,, tunggu sebentar, ya. aku mau ganti pakaian dulu dan mengambil makanan" Aira merenggangkan pelukan suaminya.


"Aku tidak butuh makan asalkan selalu berdua denganmu..." Anwar menggombal dan mencium kepala Aira dengan lembut.


"Aku nggak mau kamu sakit lagi, mas. sudah sore begini kamu pasti belum makan siang.." cemas "cuma sebentar..." Aira bangkit membuka pintu lemari, mengambil baju kaos lengan panjang dan rok panjangnya kemudian masuk ke kamar mandi untuk ganti pakaian.


Meski sudah memasuki minggu pernikahan Aira tidak berani mengganti pakaian di depan suaminya.


Aira keluar kamar mandi,melihat suaminya masih duduk tersandar di tempat tidurnya. dia bergegas ke dapur ingin mengambil sepiring nasi plus lauk, sambal dan sayur.


"Ra, ini tambahin mata sapinya, ya" ibu harus lebih siaga dengan Aira yang belum mengerti apa-apa dalam melayani suami "lakukan yang terbaik untuk suamimu, kalau tidak dia bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik darimu..."


Ucapan ibu menakutkan saja. "hmm..." Aira kerepotan memegang piring berisi makanan dan segelas air putih.


"kamu bisa, kan?" ibu cemas melihat Aira yang kerepotan.


"Iya, Aira bisa kok bu" Aira berjalan ke kamar dengan kedua tangannya membawa makanan untuk suaminya.


Gelas berisi air putih ditaruhnya di meja kecil samping ranjang. Aira duduk berhadapan dengan Anwar siap menyuapinya makan.


"Dimakan ya, mas...!" Aira memasukkan sendok pertama ke mulut Anwar.


"hah.. jangan banyak banyak, Ai..." Anwar jadi susah menelan, Aira menyuapinya satu sendok penuh.

__ADS_1


Kayak anak kecil saja pakai di suapi segala. dasar lelaki.


"Kamu juga makan sekalian, Ai.." berbasa-basi.


"Mas, saja duluan. aku belum lapar" berusaha menolak.


"Kamu juga harus makan Ai, sini aku suapi ya.." Aira yang patuh membuka mulutnya menerima makanan yang disuapi Anwar.


Seperti dalam sinetron romantis saja mereka makan sepiring berdua, minum segelas berdua. saling bertemu pandang dan menatap penuh kehangatan.


Makan malam pun mereka lakukan dalam kamar, ayah memberikan toleransi pada mereka, bahkan Sifa membantu mengantar makanan untuk kakak iparnya.


Anwar sangat senang melihat Sifa yang suka bicara apa adanya, parasnya yang lebih dewasa dari umurnya bahkan lebih dewasa dari Aira. hidupnya bebas tanpa beban.


"Jangan membandingkan, mas... " Aira mencubit perut Anwar yang sedang merangkulnya.


"Benar kok, mas perhatikan Sifa jauh beda dari kamu Ai..." hanya ingin menggoda Aira


"Semua orang bilangnya begitu, kadang aku jadi sedih sendiri... hiks" Aira sedih bila mengingat perbedaan itu.


"Aku tidak bermaksud membuatmu sedih Ai, aku mengatakan apa yang aku lihat saja..." menghibur Aira, merangkul Aira dalam pelukannya dan mencium kepala Aira yang tidak berjilbab.


"Apa kamu sudah merasa baikan, mas?" menanyakan keadaan suaminya, disentuhnya kening yang tidak panas lagi.

__ADS_1


"Mas baik baik saja, jangan cemas. besok juga normal kembali" memainkan tangan Aira di dadanya, tangan yang satunya dijadikan sandaran Aira.


"Kamu, belum menjawab pertanyaan ku, mas. mengapa kamu sakit tadi, mas...?" penasaran dengan suaminya yang demam tiba tiba.


"Aku demam sama kamu Ai..." mendekap Aira semakin erat "aku tidak bisa menahan lebih lama, itu akan menjadi penyakit...


Anwar berbisik dan memainkan bibirnya pada daun telinga Aira "Dasar kamu mas..." Aira berusaha melepaskan pelukannya, tapi tangan suaminya begitu kuat. "geli,,, mas...


"Ai, coba kamu pikir deh, teman sebaya aku sudah pada punya anak, malahan anak mereka sudah besar besar. aku juga butuh keturunan Ai,,,, " kali ini Anwar tidak mau gagal lagi


"Apalagi aku anak tertua di keluarga ku, kedua adikku saja anaknya sudah sekolah... " Anwar memohon dengan halus.


"Siapa suruh terlambat kawin.." memukul tengkuk suaminya.


"Itulah jodoh, kita tak pernah tahu... tapi sejak bertemu denganmu, aku seperti melihat masa depanku Ai..." mengalihkan ketakutan Aira sambil tetap bercerita tangannya menggerayangi tubuh Aira, membuat Aira semakin deg degan namun tak mampu menghindar.


"ahh mas..." Aira sesak nafas dengan *****bibir Anwar "nikmati saja, Ai. lepaskan nafasku ke hidung..jangan lupa baca doa." Anwar menuntun Aira membaca doa yang dihafalnya dari buku "rahasia rumahtangga sakinah"


Anwar membuka seluruh pakaian Aira dan membuangnya ke lantai. setelah mencium leher Anwar mengamati dua gunung kembar yang putih mulus dengan puncaknya kecoklatan membuatnya tak ingin melewatkan kesempatan ini. dia mencium lebih lama sampai Aira mengerang "aah... jangan..


semakin Aira merintih, Anwar semakin agresif memainkan bibirnya, hingga ke ***** Aira yang berambut tipis... tidak puas dengan memainkan lidahnya, dia memasukkan benda tumpulnya ke **** Aira hingga Aira menjerit kesakitan.


hanya beberapa kali goyangan keluar masuk dia terkejut melihat darah keluar dari *** Aira hingga mengotori sprei tempat tidur. Anwar segera menghentikan aksinya, dan tidur kelelahan dengan memeluk tubuh istrinya dalam balutan selimut.

__ADS_1


__ADS_2