
Kehamilan Aira sudah hampir tujuh bulan, dengan kondisi kesehatan yang kurang mendukung, Aira harus libur mengajar sampai kesehatannya pulih kembali setelah melahirkan nanti. Hanya pertemuan tutorial kuliah yang bisa diikutinya setiap Sabtu dan Minggu.
Sebenarnya Anwar memintanya untuk berhenti saja dari pekerjaannya itu, tapi Aira menolak karena itu cita citanya menjadi seorang guru. Aira bersedia melakukan apa saja yang diminta Anwar tapi tidak untuk berhenti dari kuliah dan mengajar.
Hari-hari Aira terasa sangat membosankan hanya di rumah saja, dia tidak suka semua orang mencemaskan dirinya. yah... tapi harus bagaimana lagi.
"Hah... sudah pukul 8.10" Aira terkejut berteriak melihat jam dinding di kamar. disibaknya kain gorden jendela ke samping agar udara segar memasuki kamarnya. di ambil jilbab instan berwarna hitam dan segera menemui ibu didapur.
"assalamu'alaikum Bu..."
"waalaikumsalam. eh... sudah bangun. itu Anwar sudah membelikan bubur kacang hijau untuk sarapanmu..."
"hm..." Aira menyingsingkan lengan bajunya ingin membantu ibu mencuci piring.
"Ra... jangan. biar ibu saja..."
"gpp kok ibu, ini kan tidak berat kok..." Aira melanjutkan cuciannya. ibu pun sudah selesai memasak.
"ibu mau kepasar. kamu mau ikut sama ibu?"
"Tadi Mas Anwar minta tolong menitipkan ke ibu saja, maaf ya Bu kami bikin ibu repot..." Aira merasa tidak enak, sudah berkeluarga masih saja menambah beban ibunya. di keluarkan beberapa lembar uang ratus ribuan dari sakunya.
"Ini kebanyakan nak. ambil saja biar kamu simpan buat tabunganmu..."
__ADS_1
"Tapi Bu, ntar mas Anwar nya kan jadi nggak enak sama ibu dan ayah..."
"gpp, ibu sudah cukup senang melihat dia bisa membahagiakan anak gadis ibu..." ibu menatap Aira dari ujung kaki sampai kepala. senang membayangkan bahwa sebentar lagi dia akan menjadi nenek di usianya yang masih kepala empat.
"ya sudah, ibu mandi dulu ya..." meninggalkan Aira yang melanjutkan mencuci piring dan menyimpan di lemari dapur. setelah itu memakan sarapannya yang sudah disiapkan Anwar sebelum berangkat kerja.
Ibu telah pergi dengan diantar Iyan, ayah ke kebun da Sifa sekolah. hanya dia sendiri di rumah, untuk mengusir rasa sepinya, Aira menikmati acara ftv siang bersama cemilannya.
Hampir mendekati Zuhur baru ibu pulang dari pasar bersama Iyan. Aira membantu menyimpan belanjaan ibu di lemari dapur kemudian makan siang. sementara ibu membersihkan daging dan lauk yang kemudian disimpan di freezer.
Setelah semua selesai Aira kembali ke kamar untuk sholat empat rakaat dan berdoa kepada Allah. usai sholat Aira merapikan kembali mukenah dan sajadahnya di tempatnya. kemudian membaringkan tubuhnya.
**Aira
Kata kata ibu selalu terngiang di telingaku, membuatku merasa bersyukur menjadi istrinya. dia selalu sabar menerimaku apa adanya belum lagi keluargaku yang merumitkan hidupnya.
semoga tuhan selalu melindunginya dan memudahkan rezekinya demi aku dan anak kami.
tok...tok...tok...
suara ketukan pintu kamar membuat Aira membuka matanya, dielus-elus sekitar perutnya dan menenangkan diri dulu. karena kalau langsung bangkit dari tidur akan membuat kepalanya pusing.
"siapa, pintu tidak dikunci..." Aira sedikit berteriak. sambil berdiri pelan. dia terkejut saat menoleh ke arah pintu ternyata suaminya yang sudah pulang. "cepat sekali pulangnya mas..."
__ADS_1
"Kalau kamu nggak suka, aku bisa pergi lagi kok..." guraunya.
"Bukannya gitu, kamu nggak usah mengorbankan kerjamu untukku..." Aira menyalami dan mendekatkan punggung tangan Anwar ke keningnya.
"Apa artinya semua usahaku tanpa kamu dan anak kita..." menunduk mencium gundukan besar perut Aira dari balik dasternya.
"jangan lama-lama mas, geli tahu..."
"Sayang baik baik di sana ya, jangan menyakiti ibu... ayah akan menemuimu nanti ya..." Anwar memegang dengan kedua tangannya memberi kode agar Aira mau.
"Sudah mas..., aku capek sudah lama berdiri nih..." Anwar menuntun Aira duduk di sofa ingin bercengkrama bersama untuk melepas lelahnya.
_
_
_
_
Happy reading guys...
yang banyak jempol dan komentnya donk biar author lebih semangat lagi up nya...
__ADS_1