
Di senja yang temaram
Ketika Mentari kembali memudar
Mengharap akan hadirnya seberkas sinar
Menghiasi malam yang semakin kelam
Duhai rembulan..
malam ku sepi tanpamu
tidurku tak lelap tanpamu
belailah aku dalam mimpiku
temani aku menyambut pagi ku.
***
itulah sepenggal puisi tanpa judul yang ditulis Aira pada lembaran diarynya, yang entah pada siapa ia tujukan. karena hati Aira telah hampa sejak beberapa bulan terakhir. ia sudah tak menghubungi Haris lagi akhir-akhir ini dengan alasan lebih fokus belajar namun tak dapat dipungkiri bahwa sebenarnya ia butuh seseorang yang tempat berbagi hati yang akan memberikan dukungan di saat ia merasa terbeban.
Hatinya sangat rapuh, dan tak mudah Terbuka pada siapa pun meski itu keluarga sendiri. tapi akhir-akhir ini ia mulai merasa nyaman dengan Bobi. meskipun Bobi belum menyatakan cinta, tapi keduanya sudah merasa terikat.
__ADS_1
Bagi Aira cinta bukanlah kata-kata yang harus diucapkan, namun sebuah pembuktian ungkapan melalui sikap perlindungan. dulu ia pacaran dengan Haris juga karena ingin melindungi Haris dari kemaksiatan dan sebaliknya Haris seringkali melindungi nya ketika ia di ganggu preman kompleks.
Dan sekarang tiba-tiba ada pula Bobi yang bersedia melindungi dan menjaga kenyamanan dirinya kapanp pun dia butuh. bagi Aira itu menunjukkan bahwa akan selalu hadir rembulan Ketika Mentari mulai bersembunyi.
Malam ini lengkap kembali pertemuan keluarga Aira, ayah dan ibunya menasehati dirinya di depan kakak dan adiknya. Mereka merasa tak nyaman dengan pandangan orang sekampung karena Aira yang sudah sepantasnya berkeluarga. berita Aira sering diantar Bobi sudah sampai ke telinga ayah ibunya. tapi Sifa yang sering boncengan dengan pacarnya pulang sekolah tak ada jadi masalah.
"Aira, kamu sudah beranjak dewasa, kamu harus mulai melihat masa depanmu!" ucap Ayah. ibu juga langsung menambahkan "lama-lama tak enak sama tetangga,!''
Aira dengan tatapan berkaca-kaca langsung menepis pembicaraan orang tuanya bahwa ia tidak pacaran dengan Bobi, ia meyakinkan kakaknya bahwa baginya Bobi sudah seperti kakak kandungnya kak Iyan. ia hanya merasa terlindungi oleh Bobi.
"iya, kami sebagai orang tua yakin dan percaya, namun tak bisa menghentikan praduga mereka" balas ibu.
"matahari sudah diujung senja, nak" kata-kata kiasan itu sangat di pahami makna oleh Aira bahwa ayahnya ingin segera anak gadisnya menikah
itulah yang ingin di tuliskan dalam buku diarynya.
Kakaknya yang merasa iba tak berdaya menatap Aira, sedangkan Sifa sibuk melihat media sosialnya.
Sejak saat itu Aira tak ingin lagi jalan sama Bobi walaupun dia memaksa. lagi-lagi hati Aira semakin trauma untuk menemukan lelaki untuk teman dekatnya. palingan hanya Tomi yang bisa membuatnya tertawa di sela-sela leluconnya menggoda Aira.
Iyan tetap berusaha memberi peluang pada Aira seperti suatu senja Aira ada keperluan ke rumah temannya, kakaknya memaksanya pergi dengan Bobi. jika tidak maka dia harus jalan kaki. mana jauh lagi.
ketika pulang hari agak sedikit hujan dan mereka berhenti di pos ronda. dengan refleks Aira merangkul bahu Bobi, kepalanya disembunyikan di dada yang lebar itu. dibalik keheranannya Bobi mendengar suara terisak-isak.
__ADS_1
Dengan jiwa pelindungnya, Bobi membiarkan Aira menangis di pelukannya sampai sepuas hati Aira.
"hei, kamu kenapa?" tanya Bobi sambil mengelus kepala berhijab.
"enggak, ada apa-apa!" jawab Aira yang merasa nyaman, serasa di pelukan kakaknya.
"terus, apa yang membuatmu menangis, Ra??" tanyanya lembut menyentuh dagu Aira. "apakah Iyan melarang mu dekat denganku?" sikap Aira membuat Bobi semakin penasaran. Aira hanya memberikan Jawa dengan gelengan kepala.
"nggak apa-apa, mungkin ini yang terakhir bagi kita. aku tak kan bertemu dengan mu lagi, kak" tangisnya memecah keheningan malam di bawah rintik hujan. Aira mengencangkan pelukannya dan dengan penuh kesadaran ia memberikan kecupan di pipi Bobi.
Bobi menggenggam erat kedua tangan Aira dan menanyakan dengan suara penuh kecewa "kenapa?" Aira memberikan alasan bahwa dia akan menerima siapapun pilihan orang tuanya yang akan menjadi jodohnya.
betapa terkejutnya Bobi dengan keputusan Aira, karena sesungguhnya ia sangat menyayangi Aira. di rangkulnya Aira erat dalam dekapannya begitupun Aira yang membalasnya. seakan mereka tak akan terpisahkan lagi.
Malam semakin larut, derasnya hujan menghapuskan hasrat yang tak mungkin lagi berlanjut. Aira mengajak Bobi pulang tak ingin ada warga yang beranggapan negatif pada mereka.
__._._.._._._._._.__..___._._._._._.__._._._._._._._._._._.
tambahan dari Author
maaf ya reader, nulisnya lama maklum ini baru pemula jadi harus menghayal dulu sambil nulisnya. lagian ini sedikit berhubungan dengan kisahnya author, jadi harus mengingat kembali..
doakan saja semoga author dapat melanjutkan ceritanya agar lebih seru lagi..
__ADS_1