Cinta Karena Kewajiban

Cinta Karena Kewajiban
Harapan


__ADS_3

Anwar yang sedang memapah Aira menuju kamar terkejut saat melewati ruang tengah. tadi mereka pikir semua orang dirumah sudah tertidur tapi tidak. beberapa pasang mata menatap tajam siap membunuh mereka. yang akan menjadi sasarannya adalah Anwar.


Dengan sigap Anwar mengendalikan diri, otaknya berfikir mempersiapkan kata untuk menjelaskan pada keluarga yang terkenal dengan segala aturannya. masih untung cuma keluarga intinya kalau sampai ikut campur para pamannya akan lebih rumit lagi.


"Mh... maaf ayah, ibu dan Iyan... kami tidak membaca salam kami pikir sudah tidur tadi..." Anwar dan Aira mendekat ke Sofa dimana orang tua dan kakaknya duduk.


"Duduklah..." satu kata ayah tidak bisa dibantah.


Aira memegang lengan Anwar duduk dan mencubit pangkal lengan Anwar, berharap suaminya lebih baik mengalah pada keluarganya. Anwar menahan rasa sakitnya tidak ingin menambah masalah yang semakin rumit.


"Hm... bagaimana hasil pemeriksaannya nak..." suara lembut ibu bertanya mendahului bertanya langsung ke intinya untuk meminimalisir masalah.


Aira mengeluarkan amplop kuning dari mini bagnya, melihatkan foto hasil pemeriksaan kandungannya " ini Bu, bayi dalam kandungan Aira sehat Bu, hanya hb Aira yang rendah kata dokter dengan minum obat teratur insyaallah akan baik baik saja,,, mh..." menyunggingkan senyum bahagia pada semua.


"Saya minta maaf ayah, ibu dan iyan, saya tidak bermaksud membuat semua khawatir..." Anwar merenggangkan duduknya dari Aira

__ADS_1


"untuk saat ini kami maafkan, tapi lain kali kalau ada apa-apa dengan Aira, kamu harus izin dulu..." tegas ayah yang hanya dibalas Anwar dengan anggukan.


"Ya, sudah ayah. aku sudah mau ngantuk nih.." Iyan berdiri dari duduknya segera masuk ke kamarnya yang berlawanan arah dengan kamar Aira.


Ayah pun berdiri menepuk lembut bahunya Anwar "Yang penting kamu jaga anak dan istrimu dengan baik, kami mau tidur dulu..."


ayah dan ibu pun masuk ke kamarnya.


**Anwar


Jam dinding di kamar sudah menunjukkan pukul 12.30 malam, tapi mataku tidak bisa diajak kompromi dengan tubuhku yang lelah ini. aku duduk bersandar di tempat tidur dengan satu tanganku ku gunakan untuk bantal Aira. ku tatap langit kamarku yang datar.


Di rumahku yang kecil selalu dihiasi canda tawa dan kehangatan. ayahku tidak pernah memberi aturan pada kami berempat beradik tapi kami bisa teratur sendiri, meski kekurangan uang, palingan dia menasehati kami untuk bersabar dan bersyukur dengan apa yang kami punya. ayah selalu berjanji akan mengusahakan yang terbaik buat anak anaknya yah meski akhirnya aku putus sekolah dan harus bekerja tapi aku tidak menyesal. karena aku bisa bergaul dengan banyak orang di kota yang bahkan lebih kaya dari orang tua Aira.


Nasehat ayah membuatku bersemangat untuk bekerja keras hingga aku bisa memiliki usaha sendiri dan bisa membiayai hidupku dan keluargaku.

__ADS_1


"hah... " ku usap wajahku berulang kali, namun bayangan kerasnya aturan keluarga Aira tidak bisa hilang dari benakku apalagi paman Aira yang memintaku untuk bercerai setelah dia melahirkan nanti. mereka menikahkan anaknya tapi tidak ingin melepaskan untuk kumiliki. bahkan Aira pun tidak pernah mengatakan cinta padaku. yang selalu aku dengar darinya hanya kata "kewajiban sebagai istri"


Ku tatap wajah Aira yang sudah tertidur pulas di sampingku, aku usap pipinya dan kucium keningnya yang tak berhijab, aku bersyukur hari ini dia tersenyum dan memelukku tanpa ku minta. apalagi dia akan memberiku seorang bayi lucu yang akan memberi kekuatan hubungan kami nanti.


oh tuhan... aku memohon padamu untuk memudahkan rezeki padaku hingga aku dapat membawa istri dan anakku, bahagiakan lah mereka dengan apa yang aku punya.


Anwar memegang bagian bawah perut Aira sambil berdoa, hingga ia terlelap dengan sendirinya.


_


_


_


_

__ADS_1


Happy reading guys...


Sebenarnya author ingin menulis lebih dari ini tapi.....


__ADS_2