
Sungguh lama sekali perjalanan dari aula ke rumah, tidak seperti biasanya yang cuma 20an menit. Mungkin karena Tomi mengendarai motornya pelan sekali. akhirnya Aira merasa lega setelah Tomi menginjak rem dan mematikan motornya.
"Hati-hati turun, Ra..!" Tomi masih memegang stang kendali motornya.
"Iya, makasih ya, Tom!" Aira turun dengan pelan sambil memegang perutnya dengan satu tangan.
"Besok nggak usah masuk, biar Dona dan Siska yang membantu tugasmu atau kamu bisa chat di grup. nggak usah malu-malu!" Tomi dan Aira masih melanjutkan obrolan di depan rumah.
"Baiklah. Kalau begitu aku masuk dulu ya...!" Aira meninggalkan Tomi lebih duluan.
Aira menuju ke ruang dapur terlebih dahulu untuk mengambil air minum. "Gluk... gluk" akhirnya tenggorokan Aira yang kering sejak tadi menahan haus merasa lega. Kemudian Aira menuju kamarnya yang melewati ruang tengah.
"Kok sore sekali pulangnya, kak?" tanya Sifa yang lagi sedang menyetrika pakaiannya sambil menonton televisi.
"hm..." Aira menghirup nafasnya panjang "sejak tadi kakak menunggu tidak ada yang jemput, di telfon tidak ada yang menjawab. untung ada Tomi yang bersedia mengantar pulang, dek.." jelas Aira.
"Hp Sifa tadi mati, kak"
"Gpp kok dek, yang penting sekarang sudah tiba" Aira masih saja mengelus-elus perut besarnya. "kakak istirahat ke kamar dulu, ya!"
__ADS_1
"Iya kak. nanti biar Sifa yang membereskan pekerjaan rumah..." Sifa melanjutkan menyetrika pakaiannya juga pakaian ayah, ibu dan Iyan. karena sejak hamil besar Aira tidak bisa membantu melakukannya.
Di kamar.
"Ya ampun, mas... ternyata kamu ketiduran!" Aira terkejut melihat Anwar yang sedang menelungkup di tempat tidur. "kamu pasti lelah ya, mas"
Tanpa berpikir panjang Aira membaringkan tubuhnya yang lelah di samping Anwar, setelah membuka hijab dan mengganti pakaiannya dengan daster rumahan.
Kasihan kamu mas, kayaknya capek sekali mengurus pekerjaanmu. belum lagi harus mengantar dan menjemputku.
Aira menatap punggung yang menelungkup itu, tak lama matanya pun terpejam setelah beberapa kali mengganti posisi tidur. karena perutnya yang besar membuatnya kadang merasa tak nyaman apalagi ketika tiba-tiba terasa mengeras di bagian kiri atau kanan perutnya. bayi dalam perutnya begitu aktif gerakannya.
"Hah... bahkan kamu tidak membangunkan ku disaat kamu sudah tiba, Aira. jika kamu begini, aku ragu untuk bisa mempertahankan mu selamanya Aira" batinku. menatap Aira yang tidur menyamping membelakangiku.
Pantasan beberapa hari aku bermimpi sendalku hanyut di sungai, kata orang tua-tua itu pertanda akan melihat istri kita dengan orang lain. isyarat itu kini terbukti.
Meski dalam keadaan mengandung, kamu masih berani duduk berduaan bahkan dia merangkul bahumu. aku tahu bagaimana perasaan mu terhadap si ******** itu kasihmu habis, sayangmu tak lepas.
Menurutku kamu sebenarnya wanita baik bahkan terlalu baik, hingga kamu lupa bahwa kebaikanmu akan merugikan dirimu sendiri.
__ADS_1
Hah... sudah jam 04.10 aku mandi dan berwudhu ke kamar mandi. setelah berganti pakaian aku menunaikan shalat ashar dan berdoa seperlunya.
Tenggorokanku kering, perutku keroncongan. aku tidak mempedulikan makan siang ku demi untuk cepat pulang dan menjemput Aira dari tempat kuliahnya juga akan mencuci pakaian kotor kami berdua agar tidak terlalu menumpuk seperti kemaren.
"Untuk menghindari kekesalanku aku harus pergi tapi kemana" aku berpikir sejenak apa yang harus aku lakukan, kalau aku kesal dia akan drop lagi tapi aku juga tidak bisa sabar membayangkan kelakuannya bersama pria brengsek tadi.
lebih baik aku menghindar sejenak, 🤔
_
_
_
_
Happy reading guys...😘😘
Sorry ya readers up nya tidak terjadwal soalnya nulis sesuai mood author aja...
__ADS_1