
Manusia batu Anwar tetap duduk dengan tenangnya melihat Aira, Tomi, Risa dan kekasihnya Hendra beranjak keluar rumah Erni hendak membeli bakso di persimpangan yang tidak begitu jauh, hanya sekitar belasan menit perjalanan orang sedang pacaran, karena jalannya malu-malu gitu.
"Heh, kalau bawa anak gadis orang jangan lupa dijaga, tuh!" terdengar suara Erni berteriak keluar kamar disaat mereka melangsungkan kaki ke luar rumah.
"Tenang, dijamin aman kok, mbak" Tomi menggaruk kepalanya yang tak gatal. kemudian Hendra menambahkan sambil tertawa menepuk-nepuk pundak Tomi "haha, itu mah sudah dapat kode keras, bro".
Yang perempuan jalan duluan keluar, belum jauh mereka berjalan Hendra menarik tangan Risa agar berdampingan, sedangkan Tomi bersiap berjalan di samping Aira yang sendiri.
dasar Laki-laki ini kalau sudah berdua saling mendukung dan usil.
Aira menjadi tak nyaman, dia menoleh ke belakang. eh ternyata Risa sedang bisik-bisik entah apa yang mereka lakukan. sementara Tomi pun mundur dan meminta Hendra dan pasangannya yang duluan.
"Ternyata kamu tuh jinak-jinak merpati juga ya, Aira?" Tomi mulai menggoda tanpa mempedulikan yang depan mau apa.
"Apaan sih, kak. aku bukan seperti gadis lain yang bisa kamu godain sesukamu" Aira tak suka dengan kegombalan Tomi yang terkenal play boy di desa.
"Tapi ini beneran, Aira!" Tomi mengambil tangan kiri Aira, sontak Aira terkejut dan menarik tangannya. ia kan sudah di jodohkan dan mengharapkan pacar halalnya yang entah siapa.
"Aira, kamu kok begitu, kali ini aku benar serius. kalau tidak aku berani sumpah disambar petir!" Tomi mengangkat tangannya ke atas tanda dia tidak sedang bercanda.
__ADS_1
"Kakak lucu, ya. emang aku percaya sama play boy kayak kakak, ha?" Aira memukul bahu Tomi.
Namun Tomi tetap meyakinkan Aira bahwa ia sungguh-sungguh suka sama Aira, lagian Hendra dan Risa juga mendukungnya. tidak lama mereka sampai di warung bakso di mana Hendra dan Risa sudah menyiapkan tempat duduk.
Hendra di samping Risa, sedangkan di hadapan mereka Aira dan Tomi yang juga berdampingan. kalau Hendra dan Risa mah sudah biasa makan berduaan di sini, tapi Aira baru kali ini dan teman di sampingnya juga malu-maluin.
"Nih, tambahin cabe biar enak!" Tomi memasukkan setengah sendok cabe ke dalam mangkok bakso Aira.
sementara Hendra dan Risa hanya tertawa-tawa kecil saling memberi kode, mereka sengaja jadi mak comblang Tomi yang suka sama Aira.
"Hei, jangan aku nggak suka pedas, tau!" Aira memindahkan cabenya ke mangkok Tomi. Tomi makan dengan lahapnya tanpa basa-basi, tapi Aira hanya menghabiskan sebagian karena Tomi menambahkan saos sambal dua kali, jadi dia kepedasan.
"Kalian kayaknya sudah cocok deh, ya kan, sayang?" mata Hendra membidik Risa meminta persetujuan "ya, iya donk. cowok jahil sama cewek pemalu, kan bisa saling melengkapi" Risa menambah kok pakai penjelasan segala.
"Apa taruhannya, coba. ayo!" Hendra menantang sang Playboy.
"Eh, kak. aku bukan barang ya! ntar nggak usah ajakin aku lagi!" Aira benar-benar kesal kali ini.
"Maksudnya bukan gitu, Ra!" Hendra ingin menjelaskan namun gagal karena Aira telah pergi meninggalkan mereka di susul Tomi yang mengejarnya.
__ADS_1
"Aira" Tomi berusaha mengejarnya di jalanan desa yang mulai sepi. mungkin penduduk sudah bersembunyi dibalik selimut. setelah hampir dekat Aira Tomi menarik tangannya sehingga tanpa sengaja tubuh Aira terjatuh ke dada Tomi.
"Maaf. aku, bukan wanita murahan yang bisa kamu permainkan!" Aira berusaha melepaskan diri dari pegangan Tomi.
"Percayalah aku serius padamu, jangan dengar apa kata orang. hanya mereka yang mengejar ku, buktinya aku masih sendiri! kalau tidak percaya tanya Risa. sejak pertama masuk kuliah aku sudah jatuh cinta sama kamu" Tomi mengatakan isi hatinya yang lama terpendam.
"Aku, bukan perempuan yang percaya pada laki-laki!" Aira berontak.Tomi tidak membiarkan Aira melanjutkan kata-katanya "aku akan lepaskan, jika kamu bilang percaya padaku!" mengancam Aira.
"Ya, sudah. aku percaya!" sentak Aira. "hanya jika kamu katakan dengan sepenuh hati!" Tomi menawarkan kembali.
"Aku percaya sama kak Tomi!" dengan jelas Aira mengucapkan agar segera lepas dari dekapan lelaki yang bukan levelnya.
Tomi segera melepaskan kepala Aira dari dada bidangnya, "berarti kita jadian, donk?" tanyanya nyengir.
"Maaf kak, aku belum ada niatan pacaran. lebih baik fokus belajar dulu!" penjelasan Aira benar-benat tak dipercayainya karena selama ini belum pernah dia ditolak cewek.
Pintu rumah tempat aira menginap masih terbuka untuknya yang pulang sudah pukul 09.30 malam. Tomi segera pergi setelah memastikan bahwa Aira masuk ke dalam rumah dengan aman.
Di sepanjang jalan pulang kerumahnya, Tomi merasa lega telah menyatakan isi hatinya pada Aira. sementara Aira segera masuk kamar dan membaringkan tubuhnya dengan telentang, dipandangnya langit-langit kamar membayangkan kejadian malam ini, yang takkan pernah di lupakan seumur hidupnya. hanya rasa kantuk beratnya yang menghentikan lamunannya.
__ADS_1
_.._._._._.._.._.._.._._._._.._._._.._._.._._.
.