
" apa tadi hukumannya?" tanya Bella yang tadi terlalu takut hingga dia langsung mengiyakan saja tanpa mendengar dengan baik. Namun berapa saat dia tersadar mengingat ada kata ranjang.
"apa kau tuli tidak mendengarnya? aku tidak akan mengulang kata kataku!" ucap Edward ketus sambil memakai pakaiannya.
"apa tadi dia mengatakan kalau aku harus terus tidur seranjang dengannya? apa aku tidak salah dengar, tapi sepertinya tidak dia memamg mengatakannya" pikir Bella dalam hati.
"tapi cuma tidur seranjangkan tidak lebih?" tanya Bella ragu, entah kenapa dia jadi takut sendiri membayangkan.
"memangnya kau berharap lebih, tapi maaf aku tidak tertarik dengan wanita sepertimu" jawab Edward berlalu keluar kamar.
"siapa juga yang berharap lebih, dasar sombong" kata Bella dengan kesal. Dia pun mengikuti Edward turun ke bawah untuk sarapan.
Sesampainya di meja makan dia pun mendudukan tubuhnya di kursi. Terlihat juga ada Aron kali ini dia juga ikut sarapan atas permintaan Edward.
"padahal aku mau menanyakan perihal sosmedku itu, tapi tidak jadi karena dia sedang marah marah. Aku harus menunggu waktu yang tepat" pikir Bella dalam hati sambil mengaduk aduk makannnya.
"Apa jadwalku pagi ini?" tanya Edward yang sudah menyelesaikan sarapannya.
"Pagi ini tidak ada pertemuan apa apa tuan. Kita hanya akan fokus memeriksa berkas yang kemarin belum selesai" jawab Aron. " Tapi jam 3 sore nanti tuan muda ada rapat dengan pihak hotel" tambahnya.
Edward hanya mengangguk tanda sudah mengerti. Dia pun bergegas keluar akan segera berangkat. Diikuti Aron dibelakangnya dan Bella dengan sigap pun ikut mengantar seperti biasa sampai di depan pintu.
"awas kau...! kalau sampai membuat kesalahan lagi" kata Edward kepada Bella dengan nada mengancam.
"saya tidak berani tuan" ucap Bella sambil membungkuk mencium tangan Edward. Edward pun menaiki mobil. Dan mereka pun berlalu.
Setelah mobil sudah tidak terlihat Bella pun melangkah masuk kembali ke dalam rumah. Dia melangkah menuju dapur, dia ingin mencari teman bicara. Terlihat Bu Marni dan pak Jo sedang menikmati teh dibelakang.
__ADS_1
"nyonya bisa saya bantu?" ucap Pak Jo langsung berdiri dari kursinya.
"Duduk saja pak bu, aku hanya ingin mencari teman berbicara. Bolehkan...?" Ucap Bella sambil duduk di kursi.
"tentu saja nyonya" ucap Bu Marni senang.
"sejak kapan Bu Marni dan Pak Jo bekerja disini?" tanya Bella.
"Sudah lama sekali nyonya. Sejak tuan muda menempati rumah ini" Jawab Bu Marni. Sedangkan Pak Jo sudah beranjak pergi dia sedang ada kerja katanya.
"oh ya bagaimana bisa Bu Marni dan Pak Jo bisa kerja disini?" tanya Bella kembali.
"Sebenarnya saya bekerja untuk Nyonya Besar. Saat tuan muda lahir nyonya besar kemudian menjadikanku pengasuh tuan muda dan ketika tuan muda memutuskan memiliki rumah sendiri Tuan Besar menyuruhku mengikuti Tuan muda." jelas Bu Marni mengingat kembali.
"Oh jadi dari kecil bu Marni memang merawat tuan muda?" ucap Bella
"terus Pak Jo bagaimana?" tanya Bella.
"Pak Jo itu supir pribadi tuan besar. Saat tuan menyuruhku mengikuti tuan muda, dia pun diangkat menjadi kepala pelayan di sini oleh tuan besar" terang bu Marni.
"Pak Jo dan Bu Marni seperti orang tua bagi tuan muda ya?" kata Bella tersenyum.
"yah kami sangat menyayangi tuan muda, dia juga sangat menghargai kami walaupun kami hanya pelayan." jawab Bu Marni. "kami tidak memiliki anak jadi kami merawatnya seperti anak sendiri" tambahnya.
"jadi bu Marni tidak punya anak?" tanya Bella.
"Sebenarnya kami memiliki anak perempuan. Tapi pada saat menginjak usia 13 tahun dia menderita sakit keras. Dan Allah lebih menyayanginya kami tidak bisa menolongnya bahkan Tuan dan Nyonya besar sudah berkeliling mengobatinya tapi Allah berkehendak lain." jawab Bu Marni sedih mengingat kembali putri satu satunya yang sudah meninggal.
__ADS_1
"Saya minta maaf bu. Saya tidak bermaksud mengingatkan kembali kesedihan bu Marni" ucap Bella ikut sedih mendengar cerita bu Marni.
"Tidak apa apa nyonya itu sudah lama berlalu. Saya sangat senang nyonya disini, kalau dia masih hidup dia seumuran dengan nyonya Bella"
"Benarkah? Kalau begitu anggap saja aku adalah anak bu Marni dan Pak Jo karena Bu Marni juga mengingatkan ku pada ibuku. Dia juga selalu memasakkanku seperti Bu Marni" ucap Bella dengan senang.
"baiklah kalau nyonya berkenan" Bu Marni tesenyum haru mendengar kata kata Bella. Dia seperti merasakan kehadiran anaknya kembali berada disisinya.
Mereka pun terus berbincang bincang sampai tiba waktu makan siang. Sesekali mereka tertawa sambil menikmat tehnya.
Bella bertukar cerita dengan Bu Marni. Bu Marni terlihat senang ketika Bella menceritakan masa kecilnya dulu dengan kakak dan adiknya.
Rasanya rindu Bella dengan keluarganya sedikit terobati apa lagi ibunya. Karena ini pertama kali Bella berpisah lama dengan keluarganya.
Bella dibesarkan di keluarga yang lengkap bahkan dia hidup di manja oleh keluarganya. Apa lagi kakaknya Arya dia sangat dekat dengan Bella. Arya bahkan selalu mengawasi setiap kegiatan Bella di luar rumah layaknya bodyguart. Terkadang Bella dibuat kesal karena itu.
Bella menghela nafas saat dia kembali mengingat kebersamaannya dengan keluarga. Canda ria saat di meja makan. Jimmi dan Rina yang selalu berebut makanan. Nenek akan terus mengomel karena itu. Tawa kakek yang menggema bahkan ketika kakek marah. Ayah yang selalu membela kalau ibu memarahinya.
Bahkan dia mengingat paman Sanjaya dan bibi Susi yang selalu saja bertengkar setiap hari. Selalu saja ada yang mereka ributkan. Entah itu Risya yang susah diatur dan sebagainya. Dia sampai merindukan kata kata ketus bibinya itu.
Bella tersenyum getir mengingat semua itu. Tak terasa air matanya kini membanjiri wajahnya. Dia seketika tersungkur di lantai memeluk kedua lututnya sambil menangis tersedu sedu.
"ibu....ayah....hiks...hiks....aku merindukan kalian" ucapnya tersedu sedu. "apa kalian sudah melupakan anak perempuanmu ini, aku ingin pulang ibu.... ayah datanglah kemari aku merindukanmu...haaa...ha....apa kalian tidak merindukan anakmu....hiks...hiks...." katanya sambil tersedu sedu.
Angin semilir menerpa wajahnya. Matanya sudah membengkak dan memerah karena menangis terlalu lama. Entah kenapa hatinya begitu rindu mungkin karena kesepian.
Setelah berapa saat berlalu kini air matanya sudah mengering dia sudah kelelahan. karena hari mulai sore dia memasuki kamar mandi. Dia mengisi bathup dengan air hangat dan menuangkan sabun cair sudah tersedia di situ.
__ADS_1
Bella mengayunkan tangannya di air yang telah diberi sabun membuat gelembung busa yang banyak. Dia pun segera masuk ke dalam bathup untuk berendam. Karena merasa nyaman akhirnya dia pun terlelap.