Cinta Penebus Hutang

Cinta Penebus Hutang
rasa sakit


__ADS_3

mobil melaju membelah jalanan kota petang itu. Buliran kristal bening tak hentinya mengalir di wajah cantik Bella.


Kenapa sesakit ini rasanya? bukankah ini memeng seharusnya terjadi dari awal. Bukankah semua ini memang hanyalah sesaat. Bella membatin menahan sakit dalam dadanya.


Bayangan video di ponsel Natasya masih jelas dalam ingatannya. Tadi dengan tangan gemetar dia mencoba melihat video itu.


Terlihat Selena tengah berada di sebuah apartemen. Dia berdiri di balkon dia mengarahkan kameranya ke depan. Menara Eiffel yang indah katanya dalam video.


Lalu sesaat terdengar suara di belakangnya. "kau menyimpan jazku dimana?" katanya.


degghh....


Sekali lagi jantungnya terasa berhenti berdetak. Tanpa melihat pun dia sangat mengenal suara itu. suara yang beberapa bulan ini menemani hari harinya.


Lalu Selena mengarahkan kameranya ke arah suara itu. Seperti dugaannya Edward terlihat hanya memakai bathrope dengan rambut masih basah.


"hai honey...! morning" ucap Selena dalam video dibalas senyum manis oleh Edward.


Buliran bening mengalir di wajah Bella dia tak menyadari kalau dia masih bersama Natasya. Bahkan dia menjatuhkan ponsel Natasya tanpa sengaja.


"are you okey?" Natasya pura pura peduli. "Selena bilang menurut Edward kau gadis yang baik dia tak sampai hati menyuruhmu pergi jadi dia menunggu kau mengalah"


Natasya benar benar pandai merangkai kata. Dia terus saja membicarakan Selena dan Edward tanpa mempedulikan perasaan Bella.


"ma...maaf aku harus pergi" ucap Bella dengan nada bergetar. Dia sudah tidak sanggup mendengar Natasya lebih lanjut lagi. Sekuat hati dia berjalan menuju mobil lalu pulang ke Mansion.


Senyuman manis Edward terlihat tulus tak dibuat buat. Membuat Bella sangat meyakini video itu.Setelah tiba di Mansion dia pun segera turun.


"nyonya anda baik baik saja" tanya mang Kardi sedari tadi dia memperhatikan Bella yang menangis.


Bella tak mampu berkata kata iya hanya menjawab dengan anggukan kecil lalu berjalan memasuki mansion.


Sesampainya dikamar tangis pecah tubuhnya luruh terduduk di lantai. Dia memeluk kedua lututnya menangkupkan wajahnya ke dalam.


Rasanya begitu sakit saat orang kau harapkan bersama orang lain. Dia baru menyadari ternyata dia sudah menyerahkan hatinya kepada Edward.


Bella terlena dengan kemewahan dan kelembutan Edward. Rayuan manisnya dan sentuhan mesra di atas ranjang.


Ternyata semua itu hanyalah semu belaka.


Dia pun bangkit membaringkan tubuhnya di ranjang. Bella meringkuk menangisi nasib pernikahannya. Karena lelah menangis akhirnya dia pun tertidur.


drrttt... drrrtt...


Entah berapa kali ponselnya berdering tapi tak dihiraukan oleh Bella. Terlihat nama Edward terpampang jelas di layar ponselnya.


Namun tubuhnya terasa kaku tak mampu digerakkan. Dia hanya menatap dengan buliran air mata kembali menggenang.

__ADS_1


Edward mengerang frustasi. sudah berapa kali dia menelpon Bella Namun tak diangkat.


"shitt.. !!!"umpatnya membanting ponsel.


setelah mendapat laporan dari mang Kardi kalau Bella menemui temannya dan pulang dengan keadaan menangis.


Sayangnya dia tidak bisa mendapatkan foto siapa yang ditemui Bella karena Natasya membelakangi kamera. Sepertinya Selena dan Natasya sudah menyiasati semuanya.


Edward segera menghubungi Bella namun tak diangkat oleh Bella. Dia pun menghubungi pak Jo sedangkan Bu Marni sudah melihat ke kamar Bella. Dia bilang Bella sedang tidur sudah dibangunkan tapi tidak mau bangun ucap Bu Marni.


Akhirnya Edward berhenti menghubungi Bella. Mungkin dia butuh waktu pikirnya.


********


Bella terbangun pagi itu dengan mata sembab karena menangis semalaman. Dia berjalan ke kamar mandi dengan lesu.


Dia mengisi bathup dengan air hangat lalu menuangkan Aroma terapi untuk menenangkan pikiran. Setelah merenung akhirnya dia memantapkan hatinya membuat keputusan.


Setelah selesai dengan ritual mandinya. Dia pun segera berganti pakaian.


"kau gadis yang baik Edward tak tega menyuruhmu pergi jadi dia menunggu kau mengalah" ucapan Natasya kembali tergiang di telinganya.


"baiklah aku akan mengalah dan pergi, memang seharusnya aku sudah pergi malah tak tau malunya aku malah menunggumu" batin Bella.


"Seharusnya aku menyadari dari awal posisi dan statusku. Aku bahkan membohongi diriku dengan terus berharap semua akan berlanjut tanpa perceraian, hiks...hiks ... aku benar benar bodoh" batin Bella.


Drrttt... drrrtt....


Terdengar ponsel Edward berdering. Seulas senyum terpancar di wajahnya tatkala melihat Bella yang menelpon.


"halo sayang..." ucap Edward menjawab teleponnya.


"halo...apa kau sibuk" tanya Bella dengan suara datar.


"tidak ada apa? kenapa bukan video call aku ingin melihatmu?" ucap Edward tersenyum.


Bella tersenyum getir mendengar perkataan Edward. "pandai sekali kau berkata manis padaku" batinnya.


"Bella apa kau masih disana?" tanya Edward karena Bella tak menjawab.


"kapan pulang?" tanya Bella.


"sedikit lagi pekerjaan ku belum selesai" jawab Edward.


"tuan muda saya akan pulang besok ke rumahku" ucap Bella pelan di mengumpulkan kekuatan mengutarakan kepada Edward.


Jantung Edward berdesir mendengar kata Bella yang kembali memanggilnya tuan muda.

__ADS_1


"pulang? baiklah kau boleh berkunjung kesana lagi besok aku mengijinkanmu" ucap Edward ragu.


"aku akan tinggal disana" jawab Bella. Dia tidak tau bagaimana mengatakan langsung ke Edward.


Edward terhenyak mendengar perkataan Bella namun dia mencoba menepis prasangka buruknya.


"kau ingin menginap disana? Baiklah aku mengijinkanmu tapi jangan lama" jawab Edward.


Bella terdiam sepertinya Edward belum mengerti arah pembicaraannya. "aku tidak akan pulang lagi" ucapnya.


"haha... sekarang kau pandai bergurau ya...! sudahlah jangan lama di sana oke! aku tutup dulu telponnya aku akan rapat sebentar lagi" Edward pun langsung memutuskan teleponnya.


Edward terpaku menerawang langit langit. Bukannya tidak mengerti arah pembicaraan Bella dia hanya tak sanggup membahasnya.


Sementara itu Bella menghela nafas panjang saat Edward menutup teleponnya.


Dia pun menghubungi Arya untuk menyuruhnya menjemputnya Besok. walaupun berat hati meninggalkan mansion. Tapi dia sudah tak sanggup lagi untuk tinggal.


"halo Bella" jawab Arya di seberang telepon.


"halo kak kau sedang apa?" tanyanya basa basi.


"aku sedang di kantor, tumben kau menelpon" tanya Arya heran.


"Kakak ada waktu besok?" tanya Bella kembali.


"ada memangnya kenapa?" tanya Arya lagi.


Lama Bella terdiam menyingkirkan keraguan di dalam hatinya.


"Bella kau melamun?" Arya tak mendengar suara Bella.


"bisakah kah kakak menjemputku besok aku sudah akan pulang" jawab Bella terbata.


Arya menghela nafas mendengar perkataan Bella. Akhirnya waktu ini pun tiba pikirnya.


"baiklah kau bersiaplah. Tunggu kakak menjemputmu." ucap Arya.


"ya kakak terima kasih" kata Bella.


"ya kau baik baik saja kan?" tanya Arya mendengar suara Bella sedikit bergetar.


"aku baik baik saja kak, kalau begitu aku tutu dulu telponnya" jawab Bella.


"baiklah sampai jumpa besok" ucap Arya mengakhiri sambungan teleponnya.


Bella berharap ini adalah keputusan terbaik untuknya.

__ADS_1


__ADS_2