
Arya kembali mengingat masa lalu yang menakutkan, kala itu kakek memiliki perkebunan. Dihari libur keluarga mereka selalu ke sana. Ada sebuah vila di tengah perkebunan yang di kelilingi pepohonan rimbun dan hutan masih hijau.
Hari itu ada jamuan di vila, berkumpulnya keluarga besar mereka. Bella kecil terlihat berlari sambil bermain dengan temannya. Memainkan berbagai permainan seperti petak umpet.
Bella kecil berlari masuk ke dalam perkebunan. Dia terus berlari sampai dirasakannya teman temannya tidak dapat menemukannya. Dia menunggu sejam dua jam namun tak juga ada yang mencarinya.
Sampai sore hari telah tiba.
Bella menatap sekeliling mulai gelap awan hitam berkumpul di atas menandakan akan turun hujan. Rintik rintik hujan perlahan turun. Bella menatap seksama sekeliling nya yang terasa asing ditambah gelap dan hujan.
Dia baru menyadari dia berlari terlalu jauh rasa takut pun melandanya. Badannya gemetar ketakutan dan kedinginan diterpa hujan deras. Dia berjalan mencari tempat berlindung. Namun naas saat melewati sebuah kolam kakinya terpeleset dan jatuh kedalam kolam.
Semua anggota keluarga mendadak di panik mengetahui Bella tidak ada. Mereka terus mencari keberadaan Bella. Ibu Shinta terus menangisi anaknya begitu pula nenek. Semua orang berpencar mencari Bella.
Sayup-sayup terdengar suara memanggil namanya. Bella yang tadi berpegangan ada ranting sudah tidak kuat lagi. Badannya menggigil ditengah hujan deras dengan badan sebagian berada dalam air.
Suara yang tadi sayup-sayup kini terdengar jelas dia melihat cahaya senter kesana kemari. Bersamaan tangan kecilnya pun sudah terlepas dari ranting yang dipegangnya.
" Bellaaaa....!!!"
Karena kejadian itu Bella dirawat sampai berminggu-minggu di rumah sakit. Menurut dokter terdapat banyak cairan dalam paru paru nya akibat kedingin diterpa hujan dan tercebur ke kolam, ditambah mentalnya sedikit terguncang akibat ketakutan yang dialami nya.
Beruntung Bella diselamatkan tepat pada waktunya terlambat sedikit saja sudah tidak tertolong lagi. Mulai dari kejadian itu Bella sering sakit, tiba tiba badannya akan demam dan tidak sadarkan diri kalau terlalu kedinginan. walau tiga tahun terakhir tidak pernah kambuh. tapi ternyata saat ini penyakit itu kini datang lagi.
"tenanglah kakak bersamamu" Tak henti hentinya Arya mengucapkan kalimat itu sambil memeluknya adiknya itu.
"aku tidak sanggup kak... bawa aku pergi!! aku ingin pergi...!! aku sangat lelah...!!!" Bella menangis histeris.
"ya adikku aku akan membawamu pergi. Bersabarlah sedikit lagi, tinggal sedikit lagi kita akan bersama lagi. Kakak berjanji padamu" kata Arya berlinang air mata. Dia begitu marah pada dirinya yang tidak bisa menjaga adik perempuannya itu.
Sementara itu Edward dan Aron pun telah sampai di rumah sakit. Mereka langsung menuju ruang rawat Bella.
ceklek
__ADS_1
pintu ruangan terbuka Edward pun segera masuk. Dia menatap Bella yang tegah berbaring di brangkar dengan ditemani Arya yang duduk di samping brangkar. Bella kembali tertidur setelah dokter memberinya obat penenang saat dia terus menangis histeris.
"kau di sini?" tanya Edward kepada Arya.
"ya, saya kebetulan sedang mengambil obat untuk kakek, dan melihat Bella tadi" jawab Arya. Dia berusaha sekuat tenaga meredam kemarahannya kepada Edward mengingat siapa Edward.
"oh..." Edward mendekati Brangkar menatap Bella yang terlihat pucat. "apa aku berlebihan tadi malam?" batin Edward.
Tiba tiba dokter datang setelah mengetahui kalau Presdir mereka datang berkunjung.
"Selamat siang tuan muda," ucap dokter sambil membungkuk memberi hormat diikuti para perawat.
"bagaimana keadaannya" tanya Edward.
"Sepertinya nyonya tidak tahan terlalu dingin ada cairan diparu parunya membuatnya demam. Belum lagi dia seperti ketakutan" jelas dokter pelan tak ingin salah bicara.
"jadi maksud dokter dia sakit karena kedinginan?" tanya Edward tegas.
"iy...iya sepertinya begitu tuan" jawab dokter terbata.
"penyakit? apa benar?" Edward beralih menatap Arya meminta penjelasan.
"iya benar. Bella tidak boleh masuk dingin. Dulu dia bahkan tidak boleh mandi terlalu lama apalagi kehiujanan.Sewaktu kecil dia pernah kecelakaan tercebur ke kolam sejak itu dia tidak boleh kedinginan" jawab Arya menjelaskan "tapi sudah tiga tahun terakhir penyakitnya tidak pernah kambuh lalu kenapa bisa kambuh"
Edward kembali tersadar teringat kejadian malam tadi. Tadi malam dia mengguyur Bella di kamar mandi dengan air dingin tanpa sehelai benang pun ditubuhnya lalu meninggalkannya begitu saja.
"apa dia sakit karena perlakuanku tadi malam" pikir Edward dalam hatinya. Dia sangat menyesalkan kejadian itu. Entah setan apa yang telah merasukinya hingga ia tersulut Emosi.
"tapi keadaannya sudah stabil hanya saja sepertinya dia ketakutan" jelas Arkhan.
"lakukan yang terbaik" ucap Edward lirih. Matanya terus menatap wajah Bella. Wajah yang menghiasi hari-harinya. Ada rasa sakit melihat Bella terbaring tak sadarkan diri apalagi semua terjadi karena dirinya.
"baik saranku jangan meninggalkan nya sendirian. Jangan sampai dia terbangun tidak ada orang disampingnya terutama dirimu" ucap Arkhan menatap tajam ke arah Edward.
__ADS_1
"aku akan menemaninya. kalian boleh keluar" kata Edward tegas.
Aron menarik nafas kasar ingin rasanya dia memaki tuannya itu meneriakinya kalau ini semua terjadi karena dirinya. Dia seperti kesetanan tadi malam.
Semua pun keluar termasuk Arya dengan berat hati meninggalkan adiknya. Namun dia juga tidak berhak tinggal disitu. Dia pun segera keluar.
Arya menata Aron dengan tatapan tajam. Aron pun membalasnya.
"kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Aron.
"apa yang kalian lakukan pada adikku?" Arya malah balik bertanya dia sudah tidak mampu menahan Emosi yang ada di dalam hatinya.
"tidak ada. Ini terjadi begitu saja, kami pun sangat mengkhawatirkan nyonya Bella." jawab Aron.
"adikku tidak akan sakit jika tidak ada penyebabnya" ucap Arya penuh penekanan.
"maaf pak Arya ini juga diluar kendali kami" jawab Aron.
"ku ingatkan pada anda tuan Aron, kontrak pernikahan itu tersisa tiga Minggu lagi kuharap tuan muda memegang janjinya mengakhiri semua ini sesuai perjanjian" ucap Arya dengan tegas.
"anda tenang saja pak Arya tuan muda tidak pernah mengingkar janji, akan kusampaikan padanya" tegas Aron.
"baguslah kalau begitu." jawab Arya."kalau begitu saya permisi tolong jaga adik saya selama tiga Minggu ini" tambahnya.
"anda tenang saja lima bulan lebih telah berlalu dengan baik anda tidak usah mengkhawatirkan tiga Minggu kedepannya" ucap Aron lantang.
Arya pun meninggalkan rumah sakit. Walau hatinya terasa berat pergi tapi dia menahan diri untuk tidak berbuat gegabah. Tinggal sedikit lagi akan berakhir pikirnya.
Aron menatap kepergian Arya. Dia mengeluarkan ponselnya menelpon seseorang.
"halo... bagaimana?" tanyanya pada seseorang ditelepon.
"bagus kirimkan semua buktinya padaku secepatnya" perintah Aron dengan tegas.
__ADS_1
Dia pun memutuskan sambungan teleponnya.