
Malam panjang melelahkan telah berlalu. Bella terbangun menggeliat merasakan sakit disekujur tubuhnya. Apalagi area intimnya seperti ada luka besar disana. Kakinya serasa habis lari maraton. seluruh badannya terasa habis dilindas mobil truck. Itu perumpamaan ya gays kalau betul mah sudah mati kan. Matanya membengkak karena terlalu banyak menangis.
Bella menoleh ke arah samping dilihatnya Edward dengan tubuh polos dan seketika Bella pun melihat tubuhnya di bawah selimut tubuhnya sendiri pun tanpa sehelai benang. Mendadak wajahnya merah merona mengingat kejadian tadi malam. Dia tidak bisa menjabarkan perasaannya.
Terlihat pergerakan dari Edward dia mulai membuka mata sambil mengangkat tangannya meletakkannya diatas kepala. Dia menoleh kearah Bella.
"kau sudah bangun?" tanyanya sambil meraih rambut panjang Bella yang sudah duduk di atas ranjang. Bella hanya terdiam menunduk dia merasa malu malu atas kejadian tadi malam. Bella lalu bergerak turun dari ranjang namun baru saja selangkah dia merasakan sakit di bagian intinnya.
"aduuhhh...." ucapnya tidak sadar karena perih dia hendak meraih kimononya yang sudah terenggok di lantai.
"kau kenapa?" tanya Edward langsung bangun menatap Bella.
"sa...sakit" jawab Bella terbata.
"sakit? kau sakit apa?" tanya Edward lagi dengan mata menelisik sambil meraba dahi Bella.
"bu...bukan! it..itu yang sakit" Jawab Bella dia malu menyebutnya.
"itu? itu yang ma..." Kata kata Edward terhenti dia baru mengerti yang di maksud Bella. Dia kemudian segera turun memakai celananya kembali.
Dengan perlahan Bella turun meraih kimononya dan memakainya. Edward yang melihat Bella berjalan dengan aneh membuatnya bertanya.
"kau mau kemana?" tanyanya pada Bella.
"aku mau ke kamar mandi" jawab Bella sambil berjalan tertatih mengimbangi rasa sakitnya. Dia pun masuk kamar mandi mendudukan tubuhnya di closet untuk buang air.
"ahhh ... perihnya...ahhh... sakit..." tanpa sadar dia berteriak kesakitan. Edward yang mendengar masuk melihat.
"kau kenapa?" tanya Edward.
"perih.." jawab Bella meringis. Edward hanya mematung dia tidak tau harus apa.
"coba mari kulihat?" tanya Edward serius sedangkan Bella terkejut saat Edward akan membuka pahanya.
"tidak mau aku malu" kata Bella sambil mengapit pahanya dengan kuat.
"apa? kau malu? hahaha...."Edward tertawa kuat "aku bahkan sudah menyentuhnya, ya sudah terserahlah..." dia pun keluar.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Edward sudah rapi dengan kemejanya. "pasangkan dasiku!" perintahnya kepada Bella yang sudah duduk di sofa dia terasa enggang untuk berdiri.
"bisakah tuan duduk saja disini aku akan memasangkannya" jawab Bella sambil terus meringis.
"apa terlalu sakit, sebaiknya aku menelpon dokter untuk memberimu obat" kata Edward sambil duduk disamping Bella.
"jangan...tidak usah itu memalukan" jawab Bella. "lagian aku malu kalau ditanya bagian mana yang sakit. aku harus bilang apa"
" ah... Arkhan saja" jawab Edward sambil meraih ponselnya.
"dia laki laki aku tidak mau" ucap Bella mulai kesal.
"tenang saja hanya meminta Obat dia tidak akan menemuimu" Jawab Edward sambil menelpan menunggu Arkan mengangkatnya.
"Halo...tuan muda yang terhormat, ada angin apa kau menelponku" terdengar suara Arkan.
"Kau dimana?" tanya Edward.
"tentu saja di rumah sakit, ada operasi sebentar lagi. ada apa?" tanya Arkhan heran tidak biasanya Edward menelpon.
"obat? sakit? kau sakit apa?" Arkhan malah heboh bertanya ulang.
"Bukan aku yang sakit tapi Bella" jawab Edward.
"Bella? dia sakit apa?" Arkhan bertanya kembali memuat Edward merasa kesal.
"kau ini banyak sekali pertanyaan berikan saja obatnya...!!!" pekik Edward sudah kesal.
"bagaimana aku mau meresepkan obat kalau tidak tau sakit apa. kau ini bodoh sekali" Arkhan tak kalah kesalnya.
"berani sekali kau mengataiku bodoh....!!!" Edward menjadi Emosi.
"ya sudah maaf!!! jawab dulu Bella sakit apa" tanya Arkhan lagi.
Edward tidak tau harus bilang apa, dia menoleh ke arah Bella. Bella yang merasa malu dengan cepat menggeleng tanda tidak mau bibirnya bergerak mengatakan "tidak usah" setengah berbisik.
"ahm... dia ada... sedikit terluka! rob..." dia menghentikan kata katanya kalau Arkhan dengar kata robek mungkin dia akan terbang kemari untuk meledeknya. "ah... dia tergores katanya sedikit sakit dan perih" Edward berbohong mencari alasan lain.
__ADS_1
"luka? haaa... jangan jangan... kau melukainya di bagian lain! akhirnya kau melakukannya. hahaha... "Arkhan tertawa terbahak bahak.
"kirim obatnya sekarang atau kau yang aku kirim ke antartika. kau mengerti...!!!" teriak Edward penuh penekanan.
"ba...baik tuan muda segera dikirim" Jawab Arkhan terbata sambil gemetar lalu menutup telponnya.
"antartika... ya ampun bagaimana bisa dia setega itu. Dokter setampan diriku ke antartika bisa bisa diperebutkan beruang kutub" Arkhan bergidik ngeri.
"ah apa dia bilang tadi obat meringankan rasa sakit. jadi penasaran luka apa yang diderita Bella. apa luka malam pertama. hahaha...." dia kembali terbahak membuat para perawat yang melayanininya di luar ruangan terperanjat.
"apa Dr. Arkhan baik baik saja" tanya salah satu perawat.
"entah mungkin kesambet pasien yang baru meninggal kali" jawab perawat yang lain.
"ihhh...serem...!!!" jawab mereka bersamaan.
Semetara itu Bella sedang memakaikan Edward dasi. Dia memasangkan sambil duduk tak ingin terlalu bergerak.
"apa kau akan masuk kuliah hari ini?" tanya Edward.
"aku masuknya sore" jawab Bella sambil merapikan leher kemeja Edward.
"kau bilang sakit?" tanya Edward.
"ku harap akan berkurang setelah minum obat" jawab Bella berharap Arkhan benar benar memberinya obat dan benar saja tak butuh waktu lama, orang suruhan Arkan suda datang membawa obat. Bella pun segera meminumnya.
"aku pergi dulu" kata Edward sambil berjalan keluar kamar "istirahatlah...sampai jumpa sebentar malam" lanjutnya dengan seringai licik penuh arti.
Bella terperanjat mendengar kata malam. Wajah nya kembali merah merona. Terlintas kegiatan panas mereka tadi malam. "ada apa dengan diriku kenapa tubuhku menjadi murahan seperti ini...oh ya ampun apa aku terkena sindrom aneh? kenapa wajahku terasa panas bukankah itu terlalu sakit kenapa harus di ulang lagi." Bella membatin.
Dia kemudian beranjak menuju kamar mandi. mengisi bathup dengan air hangat kemudian dia berendam menghilangkan rasa aneh dalam dirinya. Terlintas ucapan Arya dibenaknya.
"jangan biarkan dia menyentuhmu" kata kata itu terngiang ngiang.
"kak Arya maafkan adikmu yang bodoh! aku sudah melanggar kata katamu kak! aku menyerahkan diriku sendiri, aku bahkan tidak menolaknya seakan akan bibirku berkata tidak tapi hati dan tubuhku seakan akan telah berkhianat dia membuatku terlena" batin Bella entah dia sedih atau bahagia semuanya bercampur menjadi satu.
Dia pun menikmati berendamnya dengan memejamkan matanya mengistirahatkan pikirannya yang berkecamuk. Dia tidak membayangkan semua ini terjadi pada dirinya.
__ADS_1