Cinta Penebus Hutang

Cinta Penebus Hutang
Pengobatan Kakek


__ADS_3

Di rumah sakit tempat kakek dirawat terlihat beberapa dokter dan perawat sudah dari tadi hilir mudi kesana kemari di ruang perawatan kakek. Beberapa ada yang tengah memindahkan peralatan kesehatan.


"apa yang terjadi dengan ayah?" ayah Hendra dan Arya terkejut ketika mereka baru saja kembali dari kantin rumah sakit untuk sarapan.


"mereka bilang operasi akan dilakukan siang ini dan kakek akan dipindahkan di ruang VVIP rumah sakit" jawab ibu Shinta yang sedari tadi pun bingung mendengar pemberitahuan dokter.


"apa bagaimana bisa kita kan belum mengurus administrasinya ayah?" tukas Arya lebih heran.


"benar, ayo kita tanya pihak rumah sakit apa yang sebenarnya!" jawab ayah Hendra sambil berjalan tergesa gesa menuju bagian administrasi.


"ayo ayah" sambung Arya mengikuti ayahnya.


Setibanya disitu dia pun segera bertanya kepada dokter dan perawat yang berjaga.


"Dokter, kami keluarga dari pasien atas nama Pak Kusuma. apa yang terjadi sebenarnya? kenapa ayah saya dipindahkan?" tanya ayah Hendra kepada dokter.


"Begini pak bukankah semua biaya pengobatan telah dilunasi jadi kami akan segera melakukan operasi siang ini." jawab dokter menjelaskan.


"sudah dilunasi? tapi siap yang membayarnya?" tanya Arya lebih bingung.


"iya pak dan untuk masalah itu saya kurang tau" jawab dokter." lebih baik bapak segera pulang untuk menyiapkan segala keperluan" sambungnya.


" ya sudah dokter. Permisi dan terimah kasih banyak,"ucap Ayah Hendra kemudian berjalan kembali ke ruang rawat.


"ayah, kira kira siapa yang membayar biaya rumah sakit kakek?" tanya Arya.


"ayah juga tidak tau, mungkin ada dermawan yang baik hati" jawab ayah mengira ngira.

__ADS_1


"entahlah bahkan dipindah ke VVIP, itu fasilitas terbaik disini akan sangat mahal biayanya." ujar Arya masih bingung.


"semoga saja ini pertanda baik." kata nenek sudah sedikit lega karena kakek akan segera ditangani.


Beberapa jam berlalu akhirnya tibalah waktu operasi kakek. Kini mereka sedang menunggu panggilan dari pihak rumah sakit. semua anggota keluarga pun hadir ingin menunggu kakek kecuali Risya dan Rina yang dari dulu memang tidak suka mengurus urusan keluarganya. Mereka lebih mementingkan urusannya sendiri.


Bella sedang duduk di samping ibu dan nenek. Dia terus melamun memikirkan semuanya.


"ternyata mereka benar benar menepati janjinya membayar pengobatan kakek. syukurlah...!" batin Bella sedikit lega disela kekhawatirannya.


Tak menunggu lama perawat pun sudah datang menjemput kakek menuju ruang operasi. semua berjalan mengikuti brankar kakek yang didorong oleh perawat. Terlihat nenek tak henti hentinya meneteskan air mata cemas dan takut.


"nenek, kakek pasti bisa melewatinya kakek kan orangnya kuat" Bella memberi semamgat kepada neneknya. Nenek kemudian tesenyum kecil sambil mengangguk.


Ibu Shinta yang mendengar pun ikut mengusap usap punggung nenek sambil mengangguk menengkan nenek yang khawatir.


"dokter bagaimana keadaan ayah saya?" Hendra dengan sigap langsung bertanya penuh harap.


"alhamdulillah pak. semua berjalan lancar pasien akan dipindahkan ke ruang rawat dan kita akan menunggu setelah melewati masa kritis semoga pak Kusuma bisa siuman." jawab dokter menjelaskan.


"alhamdulillah. Terimah kasih banyak dokter." ucap Ayah Hendra sangat lega mendengarnya. Dan semua yang mendengar pun ikut merasa tenang. kakek pun dipindahkan ke ruang rawat.


Setelah itu mereka pun masuk ke ruang rawat kakek. Terlihat paman Sanjaya dan bibi Susi pun sudah akan pulang ke rumah.


"ibu, kami pulang dulu yah aku akan menyuruh jimmy mengantarkan pakaian dan makanan untuk kalian." kata bibi Shinta pamit kepada nenek dan nenek pun mengangguk. tak lama setelahnya telepon Ayah Hendra pun berbunyi.


"Halo...! asisten Ferdi. ada apa?" tanya ayah Hendra.

__ADS_1


"begini pak pihak Zhenghong telah mengajukan akuisisi kepada perusahaan pak." asistan Ferdi menjawab.


"apa? bukankah itu sedikit terburu buru aku tidak rela melepaskan perusahaan begitu saja." ayah Hendra sangat terkejut.


" begini pak mereka memberi kebebasan kita akan tetap mengelola perusahaan di bawah pengawasan Zhenghong. saya rasa ini lebih baik pak daripada kita harus menutupnya." asisten Ferdi memberi penjelasan.


" benarkah? tapi kenapa bisa begitu?" Ayah Hendra bertanya ulang.


"entahlah pak, sebaiknya bapak segera datang karena pihak mereka mengajukan meeting secepatnya siang ini." ucap asisten Ferdi.


"baiklah saya segera kesana" ayah pun menutup telponnya.


" apa yang terjadi ayah apakah ada masalah?" tanya Arya sedikit khawatir.


"Zhenghon mengajukan akuisisi. mereka ingin bertemu secepatnya" jawab ayah Hendra.


" apa tidak ada cara lain lagi ayah? itu artinya kita benar benar melepaskan perusahaankan." Arya tidak setuju.


^^^"mungkin ini lebih baik nak. setidaknya mereka memberi kebijakan, kita boleh mengelola kembali perusahaan di bawah pengawasan Zhenghong" jawab ayah "tidak ada salahnya bernaung di bawah mereka apalagi Zhenghong adalah perusahaan raksasa."^^^


"benarkah? tapi rasanya sangat aneh dari yang kudengar presdir Zhenghong orang yang sangat teliti dan tegas. baru kali ini ada kebijakan seperti itu biasanya perusahaan yang mereka akuisisi akan dihancurkan untuk dimulai kembali dengan bisnis lain" Arya merasa heran.


"entahlah ayah pun merasa heran. sebaiknya kita datang ke perusahaan untuk mendengar lebih jelas. mereka mengajukan meeting siang ini!" ucap ayah Hendra.


Mereka pun segera menuju rumah sakit setelah memastikan keaadan kakek. Bella yang mendengar percakapan ayah dan kakaknya pun segera paham semua telah terlaksana.


"sepertinya setelah pengobatan kakek mereka beralih ke perusahaan" pikirnya dalam hati.

__ADS_1


" tapi bagaimana kalau ayah dan kakak tau tentang perjanjian itu apa mereka akan setuju? pasti ayah akan sangat marah apa lagi kakak. tapi semuannya sudah terlanjur terjadi." Bella menghela nafas memikirkannya.


__ADS_2