Cinta Penebus Hutang

Cinta Penebus Hutang
Maaf darimu


__ADS_3

Perlahan Bella membuka matanya, mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Tercium bau obat obatan khas rumah sakit membuat dirinya tersadar kalau dia tengah di rawat di rumah sakit.


"kau sudah sadar?" ucap Edward pelan sambil meraba dahi Bella mencoba mengecek suhu tubuh Bella.


Bella hanya terdiam menatap Edward, bayangan kejadian kemarin masih terlintas di benaknya. bagaimana kasarnya perlakuan Edward padanya, lalu dia meninggalkan kan dirinya begitu saja dengan tubuh yang menggigil kedingin akibat guyuran shower.


Bagaimana tersiksanya perasaannya sepanjang malam saat tiba tiba suhu tubuhnya meninggi bercampur perasaan dingin menderanya. Seluruh tulang belulangnya terasa remuk tak bertenaga.


Saat perasaan ketakutan melandanya menciptakan bayangan masa lalunya kembali terlintas. Bella meringkuk dengan tubuhnya yang gemetar. Entah mengapa kamar mewah itu terlihat berubah seperti hutan belantara dengan kolam penuh serangga dan gelap.


Mulutnya bahkan seakan terkunci rapat tak bisa digerakkan. Sekuat hati dia memanggil semua orang namun tak mampu tersampaikan. Buliran air mata menetes di wajahnya.


"Bella bagaimana perasaanmu?" tanya Edward yang melihat Bella hanya terdiam. "apa kau merasa baikan sekarang" tambahnya.


Seketika Bella tersentak dari lamunannya. Dengan terbata dia menjawab Edward.


"iy...iya sudah baikan" ucap Bella dengan suara gemetar.


"kau menginginkan sesuatu?" tanya Edward sejujurnya dia tidak tau harus berbuat apa.


"tidak ada...." jawab Bella lirih.


Edward menghela nafas menatap Bella yang masih terdiam. Beberapa saat kemudian pintu terbuka terlihat Arkhan dengan seorang dokter wanita yang menangani Bella dari tadi siang masuk serta perawat yang mendorong troli makanan.


"Selamat malam tuan muda...nyonya muda" sapa dokter itu.


"malam..." jawab Edward singkat.


"kami akan memeriksa nyonya Bella" ucap Arkhan mempersilahkan dokter itu. Dokter itu pun meminta izin.


"permisi nyonya saya akan memeriksa keadaan anda" kata dokter itu dengan sopan.


"silahkan..."ucap Bella pelan.


Dokter itu pun memeriksa Bella dengan hati hati tak ingin membuat kesalahan. Sekuat hati dia menahan tangannya yang gemetar apalagi dengan tatapan Edward membuat dokter itu semakin grogi seperti mempertaruhkan hidupnya menurutnya.


"keadaan nyonya sudah stabil, demamnya juga sudah turun hanya tekanan darahnya agak rendah, jadi saya akan memberi penambah darah dan ada sedikit obat penenang dengan dosis rendah agar nyonya bisa tidur dan istirahat" jelas dokter itu.


"terima kasih dok" ucap Bella mencoba tersenyum.


"sama sama nyonya" jawab dokter tersenyum.


"baiklah, perawat membawakan makan malam untukmu, harap di makan walau cuma sedikit supaya bisa minum obat" kata Arkan.

__ADS_1


"ya letakkan di situ saja biar aku yang membantunya" kata Edward.


"oke sus, letakkan di situ saja" perintah Arkhan. perawat itu pun meletakkan makanan di atas nakas.


" setengah jam lagi perawat akan membawakan obat untukmu" kata Arkan.


"kami permisi dulu nyonya, semoga lekas sembuh" pamit dokter itu sambil membungkuk memberi hormat pada Edward di ikuti perawat. Mereka pun segera keluar dari ruangan.


"apa kau bisa bangun bersandar supaya bisa makan" tanya Edward dengan lembut.


Bella pun pelan berusaha bangun, Edward membantunya menyusun bantal dibelakang Bella dan menaikkan sedikit brangkar.


Edward meraih nampan berisi makanan lalu mendudukkan dirinya disamping Bella. Lalu mulai menyuapi Bella. Bella hanya diam menuruti Edward membuka mulut dan mengunyah makanannya suapan demi suapan.


"sudah..." ucap Bella lirih, dia sudah merasa kenyang.


"kamu baru makan sedikit" kata Edward dengan wajah khawatir.


"tidak..." Bella menggeleng tanda sudah tidak mau makan lagi.


"ya sudah... ini minum air dulu" ucap Edward sambil menyodorkan segelas air. Bella pun meminum air itu sedikit.


Edward kemudian mengambil tissu lalu melap bibir Bella. Bella menatap wajah Edward sendu. Hatinya kembali terasa sakit saat mengingat kejadian itu. Semua tuduhan yang diberikan Edward, terdengar seperti hinaan ditelinganya.


"kau bahkan dengan santainya seakan tidak terjadi apa-apa kemarin tanpa merasa bersalah. Aku hanya berharap ucapan kata maaf darimu atas tuduhan yang kau ucapkan" lirih Bella dalam hati.


Edward menelisik wajah Bella, dia melihat ada sesuatu yang hilang diwajah itu. Wajah yang menyambutnya dengan senyuman tulus setiap hari. "aku harus mulai dari mana, aku bahkan tidak tau bagaimana meminta maaf," batin Edward.


Edward melihat Bella hanya terus diam tanpa berkata apa-apa. Ingin sekali rasanya dia memeluk istrinya itu menghujaninya dengan kecupan dan kata maaf namun entah mengapa tak bisa ia jabarkan.


Tak beberapa lama kemudian seorang pun masuk membawakan obat untuk. Setelah minum obat Bella pun kembali tertidur lelap.


***********


Bu Marni menyambut kepulangan Bella di Mansion, Terlihat juga ibu Marissa menyambut menantunya.


"hai sayang..." ucap ibu Marissa sambil merentangkan kedua tangannya memeluk Bella. Bella pun membalas pelukan mertuanya itu.


"ibu di sini...?" tanya Edward kepada ibunya.


"ya, tadinya ibu akan ke rumah sakit tapi Aron bilang Bella sudah akan pulang jadi ibu ke sini saja menunggu kalian" jawab ibu Marissa tersenyum.


"terima kasih ibu menyempatkan diri mengunjungi kami" ucap Bella kepada Ibu Marissa.

__ADS_1


"sama sama sayang, maaf ibu baru datang, ibu dan ayah sedang diluar kota kemarin" jawab ibu Marissa sambil memegang tangan Bella.


"tidak apa-apa Bu, Bella sedang ibu disini" ucap Bella tersenyum.


"ayah tidak ada?" tanya Edward.


"ayahmu masih di luar kota, hanya ibu yang pulang setelah mendengar Bella sakit" jawab ibu Marissa.


"oh .." jawab Edward.


"oh ya Bu Marni tadi sudah menyiapkan makanan untuk kalian sebaiknya makan dulu" ucap ibu Marissa.


Mereka pun segera beranjak menuju meja makan. karena jam memang sudah menunjukkan pukul sebelas siang.


"bagaimana perasaanmu sekarang Bella?" tanya ibu Marissa.


"sudah baikan bu" jawab Bella tersenyum.


"padahal ibu mengharapkan kabar bahagia dari kalian" kata ibu Marissa mencebik.


"kabar bahagia?" tanya Bella polos.


"sudahlah Bu, Bella baru saja sakit jangan membebani pikirannya dulu" sela Edward dia sudah tau kemana arah bicara ibunya yang dari dulu menginginkan cucu.


"kau ini selalu saja begitu" ucap ibu Marissa kesal.


Bella hanya menyimak percakapan ibu anak itu sambil menikmati makanannya. Setelah selesai makan siang mereka pun pindah ke ruang tengah bercengkrama.


"bagaimana pekerjaanmu di kantor" tanya ibu Marissa.


"semuanya lancar bu" jawab Edward singkat.


"apa ibu akan menginap disini? " tanya Bella kepada ibu Marissa.


"nanti ibu pikirkan" jawab ibu Marissa.


"ayahkan ada di luar kota dari pada ibu sendirian di rumah" ucap Bella membujuk.


"kau ini, ya sudah baiklah ibu menginap" jawab ibu Marissa. Sebenarnya dia memang akan menginap dia hanya menggoda Bella tadi. Bella mendengar itu tersenyum senang.


"kau sesenang itu..."ledek ibu Marissa.


"ya aku seperti bertemu ibuku" jawab Bella.

__ADS_1


"aku kan memang ibumu" ucap ibu Marissa. Mereka pun tersenyum senang. Edward ikut senang melihat Bella kembali tersenyum.


__ADS_2