
Matahari pagi mulai terlihat di ufuk timur. Sudah beberapa kali Bu Marni datang ke kamar Bella namun Bella tak kunjung bangun.
"kok nyonya belum bangun ya? tidak biasanya dia bangun siang begini" gumam Bu Marni harap harap cemas.
Setelah beberapa kali akhirnya Bu Marni kemudian memberanikan diri masuk melihat Bella yang sedang tidur.
"nyonya...! nyonya bangun sudah jam 9" ucap Bu Marni dengan hati hati.
"nyonya...!!!" panggilnya lagi namun Bella tak kunjung bangun dan tak ada pergerakan sama sekali. "kok ga bangun juga?" gumamnya lagi.
Lalu Bu Marni perlahan memegang tangan Bella. "astaga panas sekali" ucapnya lalu dia meraba dahi Bella. "ya Allah panas! sepertinya nyonya sedang sakit" Bu Marni pun segera bergegas turun memberi tahu Edward.
"Mana tuan Muda?" Kata Bu Marni yang melihat pak Jo diruang tengah.
"baru saja pergi Bu ada apa?" tanya pak Jo heran.
"itu pak sepertinya nyonya sedang sakit badannya panas sekali" jawab Bu Marni serius.
"astaga.... tunggu aku telpon Asisten Aron dulu" ucap pak Jo segera menelepon Aron.
Sementara itu Edward sedang berada di mobil dia menyandarkan tubuhnya di kursi sambil memejamkan mata. Wajahnya terlihat kusut dan gusar. Berkali kali dia membuang nafas kasar.
drrrtt.... drrrtt...
Tiba tiba ponsel Aron berbunyi Kemudian Aron pun segera mengangkat teleponnya.
"halo pak Jo" ucapnya dengan mata Masi h fokus ke depan.
"nyonya sedang sakit badannya panas tinggi" ucap Pak Jo di seberang telepon.
"apa??? aku akan telpon dokter untuk memeriksanya.
"baiklah!" tutup Pak Jo. Aron pun menutup teleponnya.
"tuan nyonya sedang sakit" kata Aron kepada Edward.
"sakit...??? apa dia benar benar sakit, panggil kan dokter untuk memeriksanya" jawab Edward hatinya menjadi khawatir namun rasa egonya menutupinya kecemasan nya. Dia pun tetap melanjutkan perjalanannya ke kantor.
"tuan muda apa anda tidak mau pulang melihat nyonya?" tanya Aron merasa khawatir mengingat kondisi Bella.
sejenak Edward berpikir namun hatinya tetap teguh. "tidak usah lanjutkan saja ke kantor." ucapnya.
Aron hanya menarik nafas panjang dia tak habis pikir dengan tuannya. Kenapa dia begitu egois dan naif jelas jelas ada rasa di dalam hatinya tapi tak pernah dia menyadari nya.
Sementara di Mansion Bella sedang diperiksa oleh dokter. Pak Jo dan Bu Marni dengan setia menungguinya.
__ADS_1
"Badannya panas sekali" ucap dokter wanita yang memeriksanya.
"jadi harus bagaimana dokter?" ucap Bu Marni khawatir apalagi Bella dari tadi belum sadar.
"saya sudah kasi obat penurun panas kalau tengah hari nanti belum sadar sebaiknya saya sarankan untuk di bawa ke rumah sakit." jawab Dokter itu.
"Baik dok akan saya sampaikan kepada tuan muda Edward" ucap pak Jo.
"ya sudah saya pamit dulu" kata dokter itu lalu bergegas pulang.
"mari saya antar dok" ucap pak Jo mempersilahkan. Dia mengantar dokter itu sampai di teras.
Sementara Bu Marni menjaga Bella. Tak henti hentinya dia mengompres Bella dengan perasaan cemas. Pasalnya baru kali ini selama tinggal di mansion Bella sakit.
Setelah dua jam berlalu Bu Marni tetap berada disisi Bella. Juga para pelayan saling bergantian sekedar menemani Bu Marni menjaga Bella. Pak Jo sesekali datang melihat keadaan Bella.
"bagaimana Bu apa ada perubahan?" tanya Pak Jo dengan wajah cemas.
"tidak ada pak! bagaimana ini?" Bu Marni semakin cemas. "tangan dan kakinya dingin sekali pak! tapi kepalanya panas sekali"
"apa ku telpon saja asisten Aron ya?" Pak Jo meminta pendapat Bu Marni.
"ya pak telepon sajalah pak sudah tengah hari tapi nyonya belum sadar juga" usul Bu Marni.
sementara itu Edward sedang berada di ruang meeting. Tiba tiba ponsel Aron berbunyi. Aron memeriksa ponselnya dia melihat nama pada layar ponselnya.
"tuan saya permisi dulu pak Jo menelpon" ucap Aron pada Edward. Edward hanya mengangguk lalu Aron pun segera keluar menjawab teleponnya.
"ya pak Jo?" ucap Aron.
"Nyonya Bella belum sadar juga kata dokter kalau tengah hari belum sadar harus di bawa ke rumah sakit" jelas pak Jo.
"jadi nyonya belum sadar? ya sudah bawa ke rumah sakit sekarang saya akan menyusul ke sana saya beritahu tuan muda dulu" Jawab Aron terlihat wajah kekhawatirannya.
Aron segera masuk kembali ke dalam ruang meeting Memberitahu Edward. "tuan nyonya belum sadar juga pak Jo akan membawanya ke rumah sakit sekarang" ucap Aron pelan kepada Edward.
Seketika Edward terkejut "apa? separah itu sakitnya kenapa baru bilang sekarang?" ucapnya panik.
"loh bukannya tadi tuan tidak peduli dari tadi di beritahu" batin Aron dia rasanya ingin memaki tuannya itu karena kesal.
"Kevin kamu handle dulu meetingnya! Aku ada urusan laporkan rinciannya padaku" perintah Aron bergegas.
Semua orang pun ikut berdiri memberi hormat dengan bertanya tanya hal besar apa yang telah terjadi sampai Presdir perfectionis itu meninggalkan meeting penting mereka.
Sementara di rumah sakit Bella sudah sampai beserta dengan Bu Marni dan pak Jo di ikuti para pengawalnya. Terlihat para petugas medis dan dokter sudah menunggu mereka karena sebelumnya sudah dikabari oleh Aron.
__ADS_1
Setibanya mereka langsung disambut sigap oleh dokter. Sesuai informasi yang mereka dapat Nyonya Antonio sedang sakit diperlukan perawatan membuat para dokter ahli langsung standby didampingi perawat terbaik di rumah sakit itu.
Tiba tiba seorang pria membela kerumunan perawat saat mendorong brangkar Bella yang belum sadar.
"Bella... Bellla....!!!" teriaknya khawatir matanya bahkan berkaca kaca melihat Bella.
"maaf pak Bu silahkan menunggu di luar dulu. kami akan memeriksa pasien dulu" ucap salah satu perawat.
"pak, apa yang terjadi pada adik saya Bella" tanya Arya pada pak Jo. Dia masih mengingat jelas wajah pak Jo yang dia tahu adalah kepala pelayan Edward.
"oh anda pak Arya kakak nyonya muda?" tanya pak Jo.
"iya pak saya kebetulan sedang mengambil hasil cek up kakek saya!" jawab Arya dengan wajah cemas.
"Nyonya muda panas tinggi dari tadi malam dan tidak sadarkan diri jadi kami membawanya ke rumah sakit" jelas pak Jo.
"apa... bagaimana bisa" Arya tambah cemas.
Beberapa menit Berlalu akhirnya seorang dokter keluar. Arya dan Pak Jo pun dengan sigap menghampiri dokter.
"bagaimana keadaan adik saya dok?" tanya Arya penuh kekhawatiran.
"pasien sudah sadar untuk hasilnya harus menunggu hasil lab, semoga saja nyonya Bella cepat membaik" ucap Dokter itu.
"boleh kami melihat nya dok?" tanya Arya lagi.
"ya silahkan saja!" jawab Dokter.
"terima kasih dok" ucap Arya dibalas anggukan oleh dokter itu.
"pak Jo bolehkan saya menemui adik saya" ucap Arya memohon pada pak Jo.
pak Jo terlihat berpikir keras lalu mengiyakan toh Arya adalah kakak kandung Bella tidak mungkin berbahaya pikirnya. Arya pun segera masuk kedalam ruang rawat Bella.
"Bella....!!!" ucap Arya menghampiri brangkar Bella.
"kakak...!!! hiks... hiks..." Bella memeluk Arya sambil menangis sesegukan.
"kenapa bisa sakit begini? wajahmu pucat sekali? apa penyakitmu kambuh lagi ga?" Arya menatap wajah Bella seksama.
"aku takut kak...!!! aku takut sendirian...! hiks...hiks...!!!" Bella menangis histeris seperti orang ketakutan.
"jangan takut kakak disini Kakak tidak akan meninggalkanmu." ucap Arya mengusap lembut punggung Bella sambil memeluknya.
"ya Tuhan apa yang dia lakukan pada adikku sampai penyakit ini kambuh lagi, ya Tuhan jangan terjadi lagi pada adikku" Batin Arya menahan emosi pikirannya kacau mengingat Edward yang bahkan tidak ada menemani Bella.
__ADS_1