
Bella terbangun di pagi hari, dia mulai menggeliatkan tubuhnya. Setelah dirasa cukup kekuatannya dia pun beranjak menuju kamar mandi.
Setelah selesai dengan ritual mandinya, dia pun segera berpakaian. Dia memoles wajahnya dengan make up natural tak lupa pelembab bibir membuat wajahnya semakin cantik dan manis. Dia pun memutar mutar tubuhnya memastikan penampilannya sudah pas.
Dia pun keluar kamar bermaksud ingin menemui Edward yang dia kira ada di ruang baca. Terlukis senyuman di wajahnya namun segera hilang ketika dia membuka pintu namun yang dicari tidak ada.
"tidak ada? lalu dimana dia?" guman Bella sambil menutup kembali ruangan itu.
Bella pun turun ke bawah untuk sarapan. Seperti biasa semua sudah siap di meja makan. Dia pun langsung mendudukan tubuhnya di kursi. Namun bukannya makan dia malah mematung.
"apa nyonya menginginkan makanan lain akan kami buatkan" ucap bu Marni karena melihat Bella tak menyentuh makanannya.
"ah tidak usah, aku hanya tidak berselera" jawab Bella.
"hmm... bu Marni apa tuan muda sudah pergi ke kantor?" tanya Bella sebenarnya dari tadi dia sedang menunggu Edward.
"Loh apa nyonya tidak tau? tuan kan sedang ke luar kota kemarin" jawab Bu Marni. Dia pikir Bella tau jadi dia pun tidak memberi tahunya.
"apa...???" Sahut Bella tak percaya, bagaimana bisa dia tidak tau. Entah kenapa hatinya menjadi sakit, Dia langsung menaruh asal sendok dan garpu yang dia pegang. Lalu dia pun berlari ke atas.
Bella menghempaskan tubuhnya di kasur, hatinya kecewa bagaimana bisa Edward pergi tanpa memberitahunya. Apa dirinya memang tidak ada artinya bahkan pelayan lebih tau. Setidaknya dia menelpon atau memberi kabar padanya.
**********
Sementara itu Edward tengah berkutat dengan laptop dam berkas menumpuk belum lagi masalah lainnya.
brakk
Edward melempar salah satu berkas yang ada ditangannya. Dia benar benar kesal, kemarahannya sudah memuncak. Petinggi perusahaannya di sana adalah dalang kekacauan ini. Sudah dua hari tanpa istirahat jangankan tidur, makan siang saja terlewatkan.
"apa mereka sudah di amankan?" tanya Edward merasa kesal.
"Sudah tuan, semuanya telah diamankan" jawab Aron.
"Bagus, segera isi jabatan yang kosong dan ingat jangan sampai salah menempatkan orang, aku tidak mau kesalahan seperti ini terulang lagi" tegas Edward.
"Baik tuan dalam seminggu kedepan semua perangkat akan terisi penuh" jawab Aron yakin.
"Kalau sudah stabil tempatkan Lee disini untuk mengawasi sampai semua benar benar stabil" Perintah Edward dengan tegas.
Setelah malam tiba mereka pun kembali ke Resort tempat menginap mereka. Edward membaringkan tubuhnya di ranjang. Pikirannya menerawang. Rasanya dia ingin cepat pulang, entah kenapa ada rasa seperti itu.
__ADS_1
Untuk pertama kali perjalanan bisnisnya itu dia merasa seperti itu. Pikirannya tertuju pada istri cantiknya di rumah sudah berapa hari dia berpisah dengannya. Dia bahkan tidak sempat menghubungi Bella karena terlalu sibuk.
Malam ini rencananya dia akan menelpon Bella. Dia pun meraih ponselnya dan menekan nomor Bella.
tutt...tutt...tuttt...
Satu panggilan tidak terjawab oleh Bella. "kemana dia? apa dia sudah tidur?" pikir Edward dia melirik jam masih menunjukkan pukul 9 sepertinya belum terlalu larut pikirnya. Dia pun mencoba menelpon ulang namun sudah ke tiga kali Bella tetap tidak mengangkat membuat Edward menjadi kesal. Dia pun menelpon pak Jo untuk menanyakan.
"halo tuan" ucap Pak Jo diseberang telepon.
"Bella ada dimana? kenapa kutelpon tak diangkat" tanya Edward kesal.
"nyonya di kamar tuan, tidak kemana mana sejak pulang kuliah" jawab Pak Jo.
"lalu kenapa dia tidak mengangkat telponnya?" tanya Edward.
"hmm.. anu tuan mungkin ehmmm..." Pak Jo jadi ragu mengatakannya.
"katakan ada apa?" Edward curiga dengan gelagat Pak Jo.
"itu tuan mungkin Nyonya kesal karena tuan pergi tidak memberi tahunya, dia selalu menanyakan anda" Pak Jo menarik nafas semoga dia tak salah bicara batinnya.
"benarkah? baiklah suruh Bu Marni memberitahu dia untuk mengangkat telponnya" titah Edward.
tok tok tok
Bu Marni mengetuk pintu kamar. "nyonya saya boleh masuk?" tanya Bu Marni.
"Masuk saja" ucap Bella terdengar lirih.
Bu Marni pun masuk lalu memberitahu "nyonya tuan menelpon anda dari tadi, tolong diangkat katanya" ucap Bu Marni.
"ya baiklah" Bella terdengar malas karena masih kesal.
"kalau begitu saya permisi nyonya" kata Bu Marni dibalas anggukan oleh Bella. Beberapa menit kemudian Edward pun kembali menelpon.
drrrtt...drtttt...
Bella memandang ponselnya yang sedang berbunyi entah mengapa hati dan perasaannya jadi campur aduk. Setelah berapa detik terpaku perlahan dia pun mengangkat telponnya.
"Halo...!" terdengar suara Edward diseberang sana. Bella terpaku mendengarnya entah mengapa dia merasa rindu dengan suara itu padahal baru beberapa hari.
__ADS_1
"Ha...halo...!" jawab Bella dengan sedikit bergetar menahan perasaannya.
"kenapa tidak mengangkat telponku?" tanya Edward.
Beberapa detik berlalu namun Bella tidak menjawab entah kenapa matanya memanas ingin mengeluarkan cairan beningnya. " a...aku...hanya...hiks..." Bodohnya dia sudah tidak mampu menahannya.
"hey kenapa suaramu aneh? hmm... aku alihkan ke video call ya! ok..."Edward seperti mendengar sesegukan "apa dia menangis" batinnya. Dia pun mengalihkan ke sambungan Video call untuk memastikan lagi pula perasaannya tidak tenang setelah beberapa hari tidak memandang wajah manis Bella.
Bella menerima panggilan video call Edward. Dia mengalihkan wajahnya agar tidak ketahuan menangis. Dia terlalu gengsi tapi matanya tidak bisa diajak kompromi air matanya terus saja meleleh.
"kenapa tidak memperlihatkan wajahmu? apa kau sedang menangis?" Edward pura pura bertanya padahal sudah jelas sekali terlihat kalau Bella memang menangis. Bella hanya terdiam bibirnya mendadak kaku.
"kalau diam berarti betul kan? siapa yang berani membuat istriku yang cantik menangis hemm?" Rayu Edward menggoda.
"aku tidak menangis kok...!!!" ucap Bella tegas tapu baru saja beberapa detik air matanya tumpah "hiks...hiks..." dengan susah payah dia menghapus air matanya tapi tak bisa terhapus.
Edward malah tersenyum manis melihatnya "sayang maaf aku tidak memberitahumu kalau aku pergi, aku pergi mendadak karena hal penting" Edward berbicara dengan lembut.
Bella terus sesegukan dia tidak mampu mengutarakan isi hatinya. Rasa egonya membuatnya terdiam.
"Aku sampai disini sudah tengah malam aku mau menelponmu tapi aku tidak ingin mengganggu tidurmu" tambahnya lagi.
"tapi aku tidak terganggu kau saja yang tidak punya waktu" ucap Bella ketus masih dengan mata sembabnya.
"oke aku salah, sorry...!!!" ucap Edward dia bahkan mengedipkan matanya menggoda Bella.
"Baiklah aku memaafkan tuan muda" ucap Bella lirih.
"bisakah jangan memanggilku tuan lagi" ucap Edward serius "aku kan suamimu"
"ha...? lalu aku harus panggil apa?" tanya Bella bingung.
"entahlah yang lebih akrab" jawab Edward yang terus memindai wajah Bella kalau saja jarak dekat dia sudah pasti sudah pulang. "sayang atau honey misalnya"
"tidak aku malu..." ucap Bella dia mulai tersenyum.
"hahaha... kau lucu sekali wajahmu memerah" Edward tergelak. "baiklah! panggil saja seperti bagaimana ibumu memanggil ayahmu! bisakan?"
"ehmm... mas! apa begitu?" Bella terlihat ragu mengucapkannya.
"yah kedengarannya bagus, itu saja" jawab Edward tersenyum senang.
__ADS_1
"baiklah tu... eh mas" Ucap Bella malu malu.
Edward begitu gemas melihat wajah Bella merah merona. Rasa lelahnya berhari hari seakan terhapus melihat senyuman Bella yang manis. Sepertinya sebuah rasa telah timbul di hatinya. Entah kapan rasa itu datang yang pasti rasa itu semakin besar seiring waktu.