
Sudah tiga hari sejak kejadian itu, sudah tiga hari juga Bella berdiam diri pada Edward. Meski masih tetap melakukan tugasnya tapi bicaranya menjadi irit. Paling cuma ya atau tidak kalau Edward mencoba mengobrol dengannya.
Hal itu membuat Edward frustasi. Para pegawai di perusahaan pun kena imbasnya bahkan Aron menjadi jengkel karena semua itu.
"semoga saja nyonya cepat baikan sama tuan, bisa hancur perusahaan kalau begini terus. Ah kenapa tuan menjadi sebodoh itu" batin Aron saat ini dia tengah mengantar Edward pulang ke Mansion.
"Aron apa kau punya solusi membujuk gadis bodoh itu ? berani beraninya dia bersikap dingin padaku herannya aku benar benar tidak tahan dengan itu" tanya Edward kepada Aron yang biasanya selalu punya seribu cara.
Aron berpikir keras menjawab pertanyaan Edward, kalau menaklukkan lawan bisnis dia memang ahlinya tapi tidak dengan perempuan otaknya mendadak buntu.
"Aron apa kau juga tidak tau? kenapa kau mendadak bodoh seperti itu?" Edward mendengus kesal melihat Aron hanya diam tak menjawab.
"hah...sedangkan kau yang suaminya tidak tau apa lagi aku" umpat Aron dalam hati. Setelah sekian menit memutar pikiran tiba tiba Aron mengingat sesuatu
"ah.. saya tau tuan tapi itu kalau tuan mau" ucap Aron tiba tiba.
"katakan...!!!" jawab Edward tak sabaran.
"bukankah besok anda akan pergi ke perusahaan keluarga nyonya Bella. Kalau tuan mengajaknya bertemu keluarganya dia pasti senang" jelas Aron yakin.
"yes...kau memang pintar biarlah kulepaskan dia sebentar memangnya dia bisa lari kemana. hahah...." Seketika Edward seperti mendapat angin segar. Dia tidak sabar bertemu Bella.
Akhirnya mereka tiba di mansion. jam sudah menunjukkan pukul 9 lewat. Edward langsung menuju ke kamarnya menemui Bella. Terlihat Bella sedang duduk disofa menonton televisi saat Edward masuk.
Melihat Edward datang dia pun segera menyiapkan air mandi dan pakaian tidur untuk Edward. Tanpa bicara sedikit pun setelah selesai dia pun berjalan menuju ranjang tanpa menghiraukan Edward.
"Bella kemarilah aku ingin bicara" ucap Edward sambil mengancing baju tidurnya lalu duduk dipinggir ranjang.
"aku mengantuk" jawab Bella singkat.
"oh baiklah sayang sekali padahal besok aku akan pergi ke perusahaan ayahmu" ucap Edward menggantung.
Mendengar itu Bella memicinkan telinganya dan melebarkan matanya "apa dia bilang perusahaan ayah" tanya Bella dalam hati penasaran.
"Rencananya aku ingin mengajakmu ke sana mungkin setelah pulang kau bisa singgah di rumah ibumu" kata Edward pura pura acuh. "tapi sepertinya kau tidak mau ya sudah tidak jadi" lanjut Edward cuek.
Bella mendengar itu senang bukan main kalau bukan karena dia dalam mode mengambek mungkin dia akan melompat kegirangan. Perlahan dia membalikkan badan menghadap Edward.
__ADS_1
"apa itu benar?" tanya Bella dengan mata berkaca kaca senang.
"tentu saja untuk apa aku berbohong! asalkan kau tidak marah lagi" jawab Edward selembut mungkin tangannya meraih rambut Bella dan mengelusnya lembut.
"tapi tuan haru berjanji tidak seperti itu lagi" ucap Bella dengan wajah sedih.
"aku berjanji sayang" jawab Edward. Bella mendengar kata sayang menjadi merona. Pelan pelan Edward mendekap Bella dan mulai menciumnya dan Bella pun tidak menolak ia mencoba menikmati seperti saran dokter. Dia pun menyadari kesalahannya sendiri.
"jangan marah seperti itu sayang aku tidak tahan" ucap Edward lembut sambil terus mencumbui Bella. Bella tidak menjawab dia mencoba membalas ciuman Edward. Malam panas bahagia pun berlalu dengan kemesraan.
********
Hari ini Bella bangun pagi sekali dia tidak ingin terlambat. Terlihat dia sangat cantik dengan gaun biru beludru dengan renda hitam tipis dibahu dan lengannya. Rambutnya tergerai indah dengan make up flowles.
Edward yang baru bangun saja terpanah melihatnya. "ah kenapa dia cantik sekali, kalau tidak sedang terburu buru aku akan memakannya sekarang" batin Edward saat Bella tersenyum manis ke arahnya.
Hari ini Bella tidak menangis lagi setelah kegiatan mereka semalam. Benar adanya dia harus membuka diri dan hatinya agar tidak tersiksa. Wajahnya merona mengingat itu. ah, dia masih ingat rasa itu, untuk pertama kali dia merasakan dengan benar nikmat yang di katakan orang orang. Dia tersenyum sendiri mengingatnya.
Setelah sarapan mereka pun berangkat, senyum manis secerah mentari tak hentinya terlukis di wajah Bella dari tadi membuatnya semakin cantik. Aron yang sesekali melirik ikut terhanyut melihatnya. Apalagi Edward sedari tadi terus menggemgam jemari Bella seakan tak ingin lepas.
Bella yang tak sabar langsung berlari. Edward hanya menggeleng kepala "ah, dia benar benar lupa akan statusnya sebagai nyonya Zhenghong yang anggung" Edward mendengus kesal. Aron hanya tersenyum tipis melihat itu.
"ayah.... kakek... kakak..." teriak Bella berlari tanpa menghiraukan high heelsnya.
"Bella..." sahut mereka bersamaan dengan cepat mereka berpelukan melepas rindu.
"ekhmmm..." Edward berdehem menyadarkan mereka.
"oh tuan muda maafkan kami. kami terlalu bahagia bertemu Bella" sahut kakek Kusuma kakek Bella.
"tidak apa apa" jawab Edward dengan senyum tipis dengan kaca mata hitam masih bertengger dihidung mancungnya.
"mari tuan muda silahkan...!!!" ucap Ayah Hendra. Arya hanya mematung tanpa ekspresi. Aron menatap tajam kearahnya.
Mereka pun mulai masuk ke dalam gedung. Bella sedari tadi bergelayu di lengan Arya membuat Edward kesal bukan main. Cemburu buta namanya Arya kan kakaknya Bella. Bella sangat dekat dengan kakaknya.
"kakak aku sangat merindukanmu..." ucap Bella sambil memeluk lengan Arya.
__ADS_1
"oh ya... kakak juga merindukanmu" sahut Arya tersenyum manis kepada adik kesayangannya itu.
Edward memutar bola mata malas melihat itu. "kalau dia bukan kakaknya dari tadi sudah kupatahkan lengannya itu. cih..." umpat Edward kesal.
Mereka pun tiba di ruang meeting. Terlihat para manager dan staf lain sudah mulai melakukan presentase. Suasana hening mencekam tidak ada suara selain moderator dan pembaca presentase mereka yang hadir seakan mematung bergerak pun takut.
Aura Edward dalam memimpin rapat memang selalu seperti itu. Kakek Kusuma saja tak banyak bicara apa lagi Ayah Hendra. Mereka tak ingin ada kesalalahan. Hanya Bella saja yang terlihat santai di sofa tak jauh dari meja tempat rapat.
Bella dengan santainya menaikkan kakinya bersila sambil memakan cemilan. Sesekali Sanjaya melirik Bella. "anak itu tidak berubah sama sekali bisa bisanya dia enak enakan makan di sana sedangkan kami disini mau mati ketakutan karena suaminya itu" kesal Sanjaya.
Setelah dua jam berlalu rapat pun selesai. Edward menghampiri Bella yang duduk di sofa.
"apa sudah selesai?" tanya Bella. Kakek dan Ayah pun ikut duduk sedangkan Aron dan Arya serta Sanjaya hanya Berdiri.
"sudah..." jawab Edward singkat sambil memeriksa ponselnya.
"bolehkan aku pulang, aku ingin bertemu nenek dan ibu?" tanya Bella dengan wajah memelas.
"baiklah aku akan mengantarmu" jawab Edward tanpa menoleh.
"tidak usah aku akan pulang dengan kak Arya, ya kan kak?" sahut Bella bersemangat.
Seketika Edward berhenti kemudian menoleh ke Bella lalu berganti ke Arya. Arya yang ditatap Edward menjadi gelagapan.
"ah iya kalau tuan muda mengijinkan" jawab Arya spontan.
"Tuan meeting dengan PT Pratama setengah jam lagi" kata Aron mengingatkan.
"baiklah ayo berangkat" jawab Edward sambil beranjak.
"Tuan muda kiranya makan siang dirumah bersama kami" kakel dengan sopan mengajak malan siang.
"mohon maaf tuan kusuma saya masih ada meeting. Mungkin nanti malam saja. Aron akan mengabari" jawab Edward dia menghargai kakek karena mengingat dia lebih tua.
"Permisi kami duluan" Aron pamit mewalili Edward. Mereka kemudian mengantar Edward sampai loby.
"Aku akan menjemputmu sebentar malam" ucap Edward kepada Bella sambil berjalan memasuki mobil.
__ADS_1