Cinta Penebus Hutang

Cinta Penebus Hutang
Edward kembali


__ADS_3

seminggu telah berlalu hari ini Edward akhirnya kembali ke indonesia. Terlihat mobil memasuki halaman mansion.


Edward berjalan lesu memasuki mansion disambut oleh pak jo dan bu Marni. Edward mengedarkan pandangannya menelisik sudut ruangan dengan raut wajah kecewa dan sedih.


Tidak ada lagi istrinya yang biasa menyambutnya dengan senyum manis. Ah rasanya setiap sudut terasa terbayangi oleh Bella.


Perlahan dia menyusuri tangga menuju kamarnya. Dia membuka pintu lalu berjalan ke arah ranjangnya. Terbayang lagi kebersamaannya dengan Bella.


Bagaimana perlakuannya saat pertama kali Bella datang sampai dia jatuh hati pada sosok lembut itu.


Dia melihat foto pernikahannya, lama menatap wajah Bella. Lalu pandangannya beralih pada laci nakas yang sedikit terbuka. Lalu dia pun membukan.


Edward begitu terkejut melihat cincin pernikahannya. Lalu beralih pada kartu atm bahkan ternyata ponsel Bella masih di sana. Pantas saja di telpon tapi tidak bisa.


Edward kemudian melihat secarik kertas. Dia pun membuka lalu membacanya.


*untuk tuan muda....


saat kau membacanya aku tidak lagi di sana. Aku pulang ke rumah orang tuaku. Terimah kasih telah membantu keluargaku. Terimakasih untuk semuanya.


Waktu kita berlalu cepat dan inilah akhirnya. Berbahagialah.... kau cari kebahagiaanmu dan aku akan mencari kebahagiaanku...


Maafkan segala kekuranganku...


Bella*...


Setelah membacanya Edward meremas kertas itu dengan mata berkaca kaca. Bahagia... bagaimana bisa aku bahagia tanpamu? batin Edward dalam hati.


Edward membaringkan tubuhnya di kasur bahkan dia masih bisa mencium aroma Bella dalam kamar itu.


Sedangkan di tempat lain malam itu Bella terpaku menatap langit berbintang di balik jendela kamarnya.


Seminggu ini dia hanya mengurung diri di kamarnya. Dia begitu merasa kesepian bahkan ditengah canda tawa keluarga besarnya. Dia masih saja kesepian, bibir tersenyum namun di dalam hati merasa sedih dan kehilangan.


Dengan sekuat hati dia memendam kerinduannya kepada Edward berharap seiring waktu rasa itu terhapus dengan sendirinya.


**********


Keesokan paginya Bella masih saja termenung. Dia sedang duduk bersantai di taman belakang rumah.


"Bella makan dulu jangan cuma melamun" tegur nenek sedari tadi memperhatikan Bella.


"sebentar lagi nek,"jawab Bella belum beranjak dari kursinya.

__ADS_1


"kamu ini sudah siang loh ini kamu belum makan" omel nenek.


"iya iya nenek..." Bella pun beranjak tak ingin diomeli lagi.


Dia lalu mendudukan diri di kursi menghadap meja makan. Nenek sedari tadi terus meladeninya.


"nih tambah lagi lauknya ini kan masakan kesukaanmu" ucap nenek sambil mengambilkan lauk.


"wah... enak ya si nyonya ini udah bangunnya siang di layani pula, jangan manja kamu" celetuk bibi susi tiba tiba datang dari luar.


"kamu ini mulut tidak bisa dukontrol kalau bicara kebiasaan" tegur nenek kesal pada bibi susi.


"cuma mengingatkan saja bu kalau dia itu bukan nyonya muda lagi udah kembali ketempat semula" kata bibi susi dengan ketus.


Bella hanya diam tak berkata apa apa sedangkan ibu Sinta hanya menggeleng mengusap dada sabar memdengar perkataan bibi susi.


ting...tong....


tiba tiba terdengar suara bel di luar. Ibu Sinta pun bergegas keluar membukakan pintu.


"assalamu alaikum...."


"walaikum salam...." jawab Ibu Shinta sambil membuka pintu.


Setelah beberapa hari mengamati rumah keluarga Bella akhirnya ibu Marissa memutuskam untuk masuk. Dia sudah membuang jauh statusnya dan harga dirinya sebagai nyonya besar Antonio asalkam tujuamnya tercapai.


"nyonya...!!! silahkan masuk!" jawab ibu sinta yang tadi sempat mematung tak percaya nyonya besar itu datang kerumahnya.


"Mari nyonya silahkan...!!!" ucap Ibu Shinta mempersilahkan.


"terima kasih..." jawab ibu Marissa sambil mengedarkan pandangan ke sudut ruangan tersebut. Rumah itu terlihat asri walau tak sebesar mansionnya tapi cukup elit juga.


"maaf nyonya minum apa?" ucap ibu Sinta sopan. Walaupun mereka besanan tapi ibu Sinta masih sadar diri mengingat siapa ibu Marissa.


"tak usah repot repot bu, saya kesini cuma... ya kalau boleh ketemu Bella bu" jawab Ibu Marissa tak enak hati.


"oh.. tunggu sebentar saya panggilka." kata ibu Sinta sambil beranjak masuk memanggil Bell.


"Bella... ada nyonya besar mencarimu!" ucap ibu sinta pada Bella yang baru selesai makan.


"hah... masa sih bu..." jawab Bella kaget.


"iyya cepetan temuin..." ucap ibu Sinta mereka pun keluar diikuti nenek dan bibi susi yang penasaran.

__ADS_1


"ibu..." ucap Bella saat melihat Ibu Marissa.


"Bella sayang...! ibu merindukanmu..." ucap ibu Marissa langsung memeluk Bella erat.


"Bella juga rindu, ibu apa kabar...?" tanya Bella.


"tidak baik sayang, semenjak ibu dengar kamu pergi ibu jadi tidak tenang dan sedih" jawab ibu Marissa berlinang air mata.


"ibu..."Bella tidak tau harus bilang apa.


"kamu pulang yah... maafkan Edward sayang ibu tidak rela kamu pisah sana Edward" bujuk ibu marissa menangis.


"bu... Bella minta maaf tapi mungkin ini yang terbaik untuk kami" jawab Bella buliran air matanya sudah tak tertahan lagi.


"ayah dan ibu sudah tau semuanya! Tentang perjanjian konyol yang di buat oleh Edward, semuanya... Bella itu hanya hitam di atas putih bisa di hapus jika memang memungkinkan, ibu mohon kembalilah sayang..." bujuk Ibu Marissa menggengam tangan Bella meyakinka.


"maafkan Bella bu... walaupun semua ini mungkin tidak nyata tapi rasa sayang Bella untuk ayah dan ibu benar benar tulus bu, kalau Bella dan mas Edward berjodoh pasti ada jalan tapi mungkin ini sudah takdirnnya." jawab Bella dengan nada halus.


Sejujurnya hatinya begitu sakit dan kecewa mengatakan ini. Andai saja Edward sendiri yang datang memintanya kembali mungkin dia akan dengan senang hati kembali. Tapi kenyataannya lain mungkin saat ini Edward telah berbahagia dengan Selena batin Bella.


Ibu marissa hanya menangis sedih atas jawaban Bella. Dia juga tidak berhak memaksa ini hidup Bella.


"tapi kamu tetap anak ibu kan?" ucap Ibu Marissa membuat ibu Sinta dan nenek menangis haru atas ketulusan ibu Marissa.


"tentu saja bu..." jawab Bella sambil menangis.


"kamu masih maukan temani ibu jalan lagi seperti dulu..." kata Ibu Marissa seseguka.


"pasti bu... Bella akan temani ibu lagi tak ada yang berubah..." janji Bella untuk ibu Marissa.


"terimah kasih sayang..." ibu marissa kembali memeluk Bella erat.


Ibu Shinta dan Nenek ikut menyaksikan ikut menangis terkecuali bibi susi yang memandang iri atas kedekatan Bella dengan nyonya besar itu.


"kalau begitu saya pulang dulu yah... kapan kapan bolehkan kita kumpul lagi" ucap ibu Marissa.


"iyaa... boleh sekali kami sangat senang dengan hal itu..."ucap nenek.


"iya kabari Bella saja kalau ibu mau ditemani Bella" ujar ibu Shinta.


"terima kasih sudah mengijinkan Bella" jawab ibu Marissa.


Setelah berpamitan ibu Marissa pun pulang meski dengan hati kecewa tapi setidaknya Bella masih mau menemuinya dan dia yakin Edward dan Bella akan bersatu kembali. itu adalah naluri seorang ibu.

__ADS_1


__ADS_2