Cinta Penebus Hutang

Cinta Penebus Hutang
Malam pertama yang tertunda


__ADS_3

Mohon bijak dalam membaca.


Mengandung materi dewasa.


21+


Happy reading.....


*********


Bella menatap keramaian kota sepulang dari kampus. Rasanya ingin sekali memperpanjang hari ini. Berharap malam tak akan datang. Kata kata Edward seakan terngiang ngiang ditelinganya.


"sudahlah Bella terima takdirmu, ini setimpal dari semua yang kau dapat, keluargamu sudah hidup bahagia" ucap Bella pada dirinya sendiri.


Setelah beberapa menit Bella pun sampai di Mansion. Dia berjalam memasuki rumah. Terlihat bu Marni menyambutnya.


"selamat datang nyonya, apa nyonya mau saya menyiapkan makanan?" tanya Bu Marni.


"tidak usah bu, saya sudah makan tadi di kampus" jawab Bella sambil berjalan menuju tangga.


"baiklah kalau begitu, selamat beristirahat!" ucap bu Marni "oh ya nyonya, sebentar akan ada orang salon memberi perawatan spa di ruang spa pribadi anda" sambungnya.


"loh siapa yang menyuruh?" tanya Bella heran.


"Asisten Aron tadi menelponku mungkin tuan muda yang menyuruh" jawab Bu Marni.


"o ya sudah" Bella berlalu menaiki tangga menuju kamarnya.


Dia menghempaskan tubuhnya di ranjang sambil mengguling gulingkan badannya.


"kenapa dia menyuruhku spa?" batin Bella tak karuan. Entah kenapa kalau mengingat Edward seperti wajah dan tubuhnya memanas. Dia pun mencoba memejamkan mata.


Sekitar jam 3 sore orang dari salon sudah datang dengan berbagai produknya. Mereka menunggu Bella di ruang spa. Tak lama Bella pun datang ke ruang spa.


"oh jadi ini nyonya Antonio ya?" bisik pegawai spa.


"pantas saja dia sangat cantik" ucap yang lainnya.


"dia bahkan tidak memakai make up" yang lain ikut berbisik.

__ADS_1


Bella memang tidak memakai make up apa apa. Hanya memakai dress rumahan yang santai. Walaupun begitu wajahnya cantik alami.


"selamat sore nyonya kami dari salon membawakan paket spa dari produk kami yang disebut Perfect Honeymoon"


"honeymoon....?" Bella terkejut mendengar kata itu.


"Benar nyonya. jika anda berkenan kami akan segera memulainya" ucap pegawai spa itu.


"baiklah aku akan berganti pakaian" ucap Bella kemudian berganti pakaian.


Mereka pun mulai melakukan tugasnya. satu pegawai wanita itu di atas kepala Bella, satunya sedang mengoles lulur di punggung Bella yang putih dan satunya lagi di kaki Bella.


"nyonya kulit anda sangat bagus, disalon mana anda sering perawatan?" tanya pegawai salon.


"ah saya tidak pernah perawatan di salon, saya terbiasa merawat diri sendiri" jawab Bella jujur.


Merekapun terkagum kagum melihat kulit Bellah yang putih bersih dan mulus bak porselin.


Tak lama kemudian Mereka pun selesai dari luluran sampai mandi ala spa. Tak terasa malam telah tiba jam sudah menunjukkan jam 8 membuat Bella semakin deg degan tak karuan.


Suara mobil terdengar dari luar menandakan Edward telah kembali. Bella menjemputnya seperti biasa lalu mempersiapkan air mandi dan pakaian tidur Edward. Setelah itu mereka turun untuk makan malam.


"ya tuhan semoga dia tidak mengingat kata katanya" doa Bella dalam hati entah sudah berapa kali dia mengulangnya. Setelah makan malam Edward menuju ruang kerja sedangkan Bella kembali ke kamarnya.


"Sepertinya doaku terkabul mungkin dia tidak mengingatnya lagi" ucap Bella sedikit senang karena jam menunjukkan pukul sepuluh lewat namum Edward belum masuk kamar.


"Sepertinya aku mengantuk lebih baik aku ganti pakaian dulu" ucapnya sambil menuju ruang ganti. Namun baru saja dia keluar dari ruang ganti Edward sudah berdiri di depan ranjang membuat Bella terperanjat.


"ambilkan pakaian tidurku" ucap Edward. Bella pun segera mengambilkan kemudian Edward masuk kamar mandi. Setelah itu dia keluar kemudian mendudukkan diri di sofa sambil memainkan ponselnya.


"kemarilah..."ucap Edward kepada Bella yang sudah hendak merebahkan tubuhnya di ranjang. Dia pun perlahan mendekati Edward.


"kemarilah! duduk disampingku" perintah Edward melihat Bella duduk di kursi sebelah.


Bella pun perlahan mendekat tangannya mulai dingin sedingin es jantungnya berdebar kuat. Edward pun meraih tangan Bella merapatkan tubuh Bella.


"kenapa tangannya dingin sekali bahkan wajahnya terlihat pucat. Apa dia takut denganku?" pikir Edward saat memegang tangan Bella.


"Bagaimana kuliahmu? tanya Edward sambil mengelus rambut Bella perlahan dia membelai wajah Bella dengan lembut menyelipkan anak rambut Bella.

__ADS_1


" baik tidak ada masalah" jawab Bella agak gemetar sambil menunduk.


"tatap aku kalau sedang berbicara!" ucap Edward meraih dagu Bella lalu mengangkat wajah Bella. Pelan pelan Bella menatap wajah Edward. Mata mereka pun bertemu.


Edward sedari tadi menahan diri sudah tidak sabar, dia membungkam bibir Bella dengan bibirnya, ciuman yang pertamanya dingin kini mulai panas.


Bella setengah mati ketakutan. "apa yang akan dilakukannya padaku" batinnya seraya menggigit bibir bawahnya.


Edward memulai aksinya dia terus menyapu bibir Bella dengan kasar. Tangan sudah menjalar ke mana mana melepas kimono Bella kini tersisa dalaman lingerianya. Edward pun mengangkat tubuh Bella dan membawanya keranjang.


Bella memejamkan matanya pasrah sambil menangis sesegukan saat keduanya sudah tak ada sehelai benang pun di tubuhnya. Edward dengan leluasa mengabsen setiap inci tubuh Bella.


"kenapa menangis dari tadi?" Edward menghentikan aksinya melihat Bella terus menangis.


"tidak...hiks...hiks..." jawab Bella sesegukan.


"tidak...? tapi kau terus menangis." Edward mulai kesal


"tidak...." jawab Bella sambil menggeleng.


"apa kau menolakku?" tanya Edward dengan suara lantang.


Bella hanya menggeleng sesegukan "hiks...hiks...aku takut...hiks..." ucapnya.


Edward pun berusaha meredam emosinya dia sadar karena terlalu berhasrat dia tidak memedulikan perasaan Bella. Dia seperti singa lapar yang belum makan berhari hari.


Edward pun membelai rambut Bella menenangkannya "sayang... aku akan melakukannya dengan lembut" Edward membisikkan ditelinga Bella. Bella hanya mengangguk tanpa berkata kata.


Setelah Bella sedikit tenang Edward pun segera memulainya.


"ahhhh...sakit...sakit..." teriak Bella menangis sambil mencengkram seperai. Namun Edward sudah menggila dia sudah tidak sadar nafsunya mengalahkan segalanya.


Untuk pertama kali Bella melepaskan kesuciannya. Walaupun bukan seperti yang dia impikan namun dia masih bersyukur setidaknya dia menyerahkannya kepada suaminya bukan pria sembarangan di luar sana.


Edward menatap Bella yang sudah terlelap, matanya masih sembab karena terlalu banyak menangis. Saat Edward bangun dia melihat banyak bercak darah disprainya. Sebuah senyum bangga terukir di wajahnya karena dia tahu dialah yang pertama kali untuk Bella.


Edward berjalan ke kamar mandi. Dia menatap pantulan dirinya dicermin. Lama dia terpaku berpikir.


"apa kah aku jatuh cinta atau aku hanya terobsesi padanya...rasanya hidupku jadi penuh warna saat dia hadir. Aku selalu bersemangat pulang kerja karena aku tau ada dia yang menantiku" pikir Edward dalam hati sambil menghembuskan nafas dalam dalam.

__ADS_1


__ADS_2