
Setelah tiba di Mansion mereka segera turun dan masuk. Karena sudah larut malam Edward dan Bella pun segera masuk ke kamarnya.
Bella berjalan masuk ke kamar dan mendudukan diri di sofa sambil melepas highheelsnya, lalu berjalan menuju meja rias melepas perhiasannya.
Edward yang baru masuk kamar langsung menghampiri. Dia langsung memeluk Bella dari belakang dan mulai mencium tengkuk leher Bella dan bahu mulusnya.
"ah tuan geli sekali" ucap Bella merinding.
"kau sangat cantik malam ini" ucap Edward mulai mencium dengan ganas. Tangannya sudah menjalar kemana mana mulai membuka resleting baju Bella.
"tunggu dulu aku ingin membersihkan diri! badanku lengket dan bau keringat." ucap Bella, dia benar benar sudah tidak nyaman dengan pakaiannya sedari tadi.
"baiklah! asalkan jangan lama" jawab Edward menghentikan aksinya sambil membuka jas dan dasinya. Sedangkan Bella cepat cepat berlari ke kamar mandi. Saking buru burunya di sampai lupa membawa baju tidurnya. Dia baru tersadar setelah selesai mandi. Terpaksa dia hanya melilitkan handuk di badannya.
Edward yang sudah berbaring seketika terbangun. "apa kau sedang menggodaku" ucapnya penuh arti.
"tidak, aku hanya lupa mengambil pakaian ganti" jawab Bella jujur sambil berjalan menuju lemari.
"tapi sayangnya aku terlanjur tergoda" Edward menghampiri Bella kemudian menyatukan bibir mereka, tangannya membuka lilitan handuk Bella dan malam panas pun dimulai kembali.
Setelah sejam lebih berlalu akhirnya Edward pun selesai dengan kegiatan panas mereka. Dia merebahkan tubuhnya yang lelah di samping Bella. Setelah beberapa menit dia menatap Bella yang memunggunginya.
"Bella, apa kau sudah tidur?" ucap Edward sambil mengusap lembut bahu Bella.
Bella yang lelah sekali hanya pura pura tidur. Dia sengaja tak menjawab pertanyaan Edward.
"Ibu dan ayah memanggilmu besok pagi ke rumahnya? aku lupa memberitahumu tadi" ucap Edward sambil mengecup bahu putih Bella.
Mendengar itu Bella memicingkan telinganya, matanya terbuka lebar dan seketika langsung menoleh kepada Edward.
"maksudnya tuan dan nyonya besar?" tanya Bella terperanjat, tiba tiba dia merasa tegang.
"iya kenapa?"ucap Edward dengan santainya sambil bersandar di kepala ranjangnya.
"tapi aku takut dan...dan gerogi" ucap Bella terbangun dan memegang kedua pipinya.
"hahaha... kau lucu sekali, sudahlah tidak usah dipikirkan lebih baik tidur" Edward meraih pinggang Bella dan membaringkannya disampingnya lalu mendekapnya.
__ADS_1
"ta...tapi..." ucap Bella tidak tenang.
"ssttt....aku bilang tidur" ucap Edward memaksa. Baru saja Bella membuka mulut hendak berbicara Edward dia kembali menimpali "tidur...!!! tutup mulutmu itu pejamkan matamu" perintah Edward.
Bella pun hanya bisa menuruti perkataan Edward. Dia mencoba menutup mata walau ada rasa tegang masih melandanya.
**********
Pagi pagi Bella sudah bangun menyiapkkan keperluan Edward seperti biasa setelah itu di bersiap siap untuk kerumah utama. Lama dia memandang lemari pakaiannya untuk memastikan baju yang harus dia pakai.
Setelah beberapa menit dia pun memilih salah satu dress. Dia memakai dress di bawah lutut berwarna peach dengan lengan sesiku. Sekiranta menurutnya itu akan terlihat sopan. Rambutnya sebagian dijepit di belakang dan sebagian tergerai agar terlihat rapi.
"apa penampilanku sudah bagus?" tanya kepada Edward.
"Sudah..." jawab Edward singkat, sebenarnya Bella terlihat berbeda hari ini, terlihat lebih dewasa dengan penampilannya walaupun masih tetap dengan wajah manisnya membuat Edward takjub.
"sudah? hanya itu katanya...? benar benar irit bicara setidaknya pujilah aku satu kali saja! apa ruginya kan?" gumam Bella lalu mengerucutkan bibirnya sebal.
Walaupu hanya gumaman tapi Edward yang ada di depan Bella masih bisa mendengar Bella. Edward menahan tawanya mendengarnya, Bellla terlihat menggemaskan menurutnya.
Setelah sarapan mereka pun berangkat ke rumah utama. Diperjalanan Bella terlihat cemas dan gugup. Apalagi ini kali pertamanya mengunjungi mertuanya itu. Yah walaupun hanya sebatas nikah kontrak dia tidak ingin mengecewakan. Bahkan dia meminta Edward untuk singgah membeli bingkisan untuk dibawanya.
Kalau Blue Moon Mansion milik Edward bernuansa modern lain halnya dengan rumah ini. Rumah besar ini bernuansa klasik menyerupai istana Eropa. Didalamnya pun bernuansa gold dari kursi dan furniture lainnya.
"hai sayang, akhirnya kalian datang juga" ucap Ibu Marissa sambil memeluk Edward bergantian dengan Bella.
"kau semakin cantik saja sayang" ucap Ibu Marissa sambil mengusap lembut rambut Bella.
"terima kasih nyonya. Anda bahkan lebih cantik" ucap Bella sopan sambil tersenyum.
"aiih...kok nyonya panggil ibu dong kamu kan sudah jadi putriku juga! hemm..." jawab Ibu Marissa sambil terus menatap Bella.
"oh iya i...ibu" kata Bella canggung namun dia merasa terharu disambut hangat oleh ibu mertuanya. Dia kira ibu mertuanya tidak akan menyukainya seperti di drama drama yang selalu dia tonton.
"ayo masuk sayang, ayahmu ada di dalam" Ibu Marissa sumringah dia sudah menanti seorang menantu sejak bertahun tahun akhirnya impiannya terwujud juga. Apalagi dia tidak punya anak perempuan membuatnya sangat senang.
"ibu ini sekedar bingkisan dari kami" Bella menyerahkan dua buah kotak berhiaskan pita indah. Di dalamnya berisi sebuah selendang sutera berwarna gold untuk ibu Marissa dan Sebuah dasi berwarna senada untuk ayah Kenzo. Edward memberi tahu Bella kalau ibunya menyukai warna gold.
__ADS_1
"oh so sweat honey, tank you..." ucap Ibu Marissa terharu. Walau hanya hadiah kecil tapi sangat berarti apalagi Edward yang begitu sibuk tak pernah memberi hadiah seperti itu.
Bella hanya terseyum manis, mereka pun memasuki ruang tengah menghampiri tuan Besar Kenzo. Ibu Marissa tak sabar memperlihatkan bingkisan dari menantunya kepada suaminya.
"ayah lihatlah menantu kita memberi hadiah" ucap ibu Marissa terlalu senang sambil memperlihatkan. "ini untukmu serasi dengan selendangku, cantikkan"
"Benarkah? tumben puteramu itu perhatian" jawab Ayah Kenzo tersenyum tipis.
"aa...siapa bilang ini dari puteramu itu, tadi aku bilang dari menantu kita" ucap Ibu Marissa menyindir Edward. Edward hanya mendengus kesal mendengarnya.
Sedangkan Bella hanya tersipu malu dia tidak menyangka kalau Ibu Marissa akan sesenang itu tadinya dia takut dan gugup sekali karena dia pikir mereka sudah punya segalanya.
"Edward bagaimana proyek Andalas itu ku dengar ada masalah " tanya Ayah Kenzo menyelidik.
"Aku berencana meninjau langsung ke sana?" jawab Edward dengan suara datar.
"kapan kau akan pergi? bukankah pesta perusahaan sebentar lagi?" ucap Ibu Marissa.
"mungkin sehabis Pesta Ulang tahun perusahaan" jawab Edward. Sedangkan Bella hanya menyimak.
"kau bahkan tidak pergi bulan madu. kapan ibu punya cucu. ck..." ibu Marissa berdecak kesal melihat suami dan puteranya lagi lagi membahas pekerjaan.
"ibu ini tanpa bulan madu pun boleh, Bella masih kuliah" ucap Edward beralasan.
"cucu? apa aku pantas? aku hanya istri kontrak sepertinya tuan muda tidak mengingikan anak dariku" batin Bella sedih entah rasa apa yang melanda hatinya.
Mereka terus bercengkrama sampai waktunya makan siang. Mereka pun akhirnya makan siang bersama.
"Bella nanti temani ibu belanja ya?" ucap Ibu Marissa penuh harap.
"ah belanja?" tanya Bella sambil melirik Edward meminta Izin.
"ah kau ini begitu saja harus minta izin. Kalau ibu yang minta, Edward tidak akan membantah" ucap Ibu Marissa melihat Bella melirik Edward.
Edward hanya membuang nafas kasar tidak ada gunanya membantah ibunya. Karena walaupun di bantah tetap saja akan sesuai keinginan ibunya. Ayah Kenzo hanya menggeleng kepala melihatnya.
"lalu kita akan lanjut arisan! ah ibu tidak sabar memamerkan menantu ibu yang cantik" ibu Marisa jadi gregetan sendiri. Bella hanya tersenyum senang sudah lama juga dia tidak keluar jalan jalan.
__ADS_1
Setelah makan siang Edward berangkat ke kantor sedangkan Bella tetap tinggal menemani mertuanya.