
Malam sekali lagi berlalu Bella terbangun dari tidur nyenyaknya. Dia membuka mata karena badannya terasa berat. Terlihat Edward masih terlelap, Bella mulai tersadar ternyata dia tidur sambil memeluk Edward semalam.
Dia pun bangun terasa kepalanya terasa sangat berat dan pusing. Samar samar di mulai mengingat kejadian tadi malam dan seketika dia terkejut langsung menutup mulutnya.
Dia mengingat dengan jelas saat dia membuka sendiri pakaiannya dan memeluk Edward lalu menciumnya. Dia pun mengingat betapa agresifnya dirinya tadi malam bahkan dia mengingat saat dirinya yang memimpin.
"apa yang terjadi padaku? apa aku bermimpi" tanya Bella dalam hati. "tidak itu benar benar nyata, kenapa aku bisa semurahann itu"
Bella sangat malu membayangkan kini dia berkeringat dingin dan bergetar. Serasa bayangan dirinya menari nari di atas tubuh Edward terpampang di depan matanya.
"apa yang terjadi...hiks..."lalu dia mulai mengingat. "teh... aku minum teh lalu timbul rasa aneh itu pasti karena teh itu."pikir Bella sangat yakin.
"kau sudah bangun" tanya Edward dengan suara serak khas bangun tidur.
"apa yang kau lakukan padaku?" tanya Bella menoleh menatap Edward dengan tajam.
"kau bertanya padaku? bukankah kau sendiri yang menggodaku? lagi pula kita sudah melalukannya berkali kali kenapa kau marah?" jawab Edward dengan santainya tanpa rasa bersalah.
"tuan memberiku minuman apa? tuan memberiku obatkan di teh itu kan?" tanya Bella dengan tegas penuh penekanan.
"hanya obat perangsang dosis rendah? itu saja" jawab Edward masih santai.
"kenapa memberiku obat seperti itu...!!!" teriak Bella sudah menangis.
"agar kita lebih puas melakukannya" jawab Edward sambil menatap Bella yang terlihat sudah berapi api matanya menyala dan memerah.
"puas? apa kau belum puas juga? apa kau tidak puas menyakitiku selama ini sampai kau memberiku obat murahan itu?" Teriak Bella dengan nada tinggi.
"Beraninya kau meninggikan suaramu kepadaku" Edward sudah mulai ikut emosi.
"kenapa kau membuatku seperti itu hiks...? bukankah tanpa obat pun kau selalu menikmati tubuhku? kenapa tuan seserakah itu? hiks...hiks..." Bella menangis histeris membuat Edward menjadi panik dia tidak pernah melihat Bella seperti itu.
"sudahlah kenapa kau membesarkan masalah" Kata Edward mencoba menghentikan Bella menangis.
__ADS_1
"aku bukan wanita murahan seperti itu hiks...hiks...aku sudah cukup rendah menjadi penebus hutang keluargaku aku tidak mau jadi wanita murahan...haa...haa...." Bella begitu histeris mengingat kejadian panas itu.
"Bella come on...!!! kenapa kau seserius itu..." Edward benar benar pusing dia tidak memprediksi ini terjadi. Sikap Bella akan seperti itu.
"karena kau memang brengsek" teriak Bella menggebu gebu dia berlari ke kamar mandi sambil terus menangis. Dia mengunci dirinya di kamar mandi.
Edward pun mengejarnya tapi tak sempat karena pintu kamar mandi sudah di kunci Bella.
"Bella buka pintunya...!!!" teriak Edward sambil menggedor pintu kamar mandi.
"Bella...apa yang kau lakukan?" Suara Edward semakin meninggi. "Bella...!!!" teriaknya lagi.
"aku ingin sendiri...!!! kumohon...!!!" jawab Bella dari dalam.
Edward mendengus kesal dengan sikap Bella dia terpaksa mandi di kamar sebelah kemudian kembali berpakaian di kamarnya. Lama dia menunggu tapi Bella tidak kunjung keluar akhirnya dia pun turun sarapan dan Berangkat ke kantor.
"bu Marni tolong awasi Bella dia mengurung diri di kamar mandi. kalau terjadi apa apa hubungi aku!" perintah Edward sebelum pergi.
"baik tuan!" jawab bu Marni dengan wajah khawatir entah ada apa lagi dengan kedua majikannya itu pikirnya.
"nyonya buka pintunya...! Tuan sudah berangkat dari tadi!" kata Bu Marni pikirnya kalau Bella tau Edward sudah pergi mungkin Bella akan keluar.
Benar saja Bella pun perlahan membuka pintu lalu keluar. Kemudia berjalan menuju sofa wajahnya terlihat sembab.
"nyonya ayo sarapan dulu! saya sudah bawakan makanan!" ucap bu Marni. Terlihat banyak makanan di atas meja. Bella pun mulai menikmati makanannya.
*******
Sementara itu Edward terus saja mengumpat di dalam mobil. Aron melirik sesekali namun dia tak berani bertanya melihat wajah Edward sudah terlihat penuh emosi.
"damm it...!!! semua ini gara gara si Arkhan dokter gadungan itu" ucapnya kesal sambil berdecak.
"bodoh sekali aku mengikuti sarannya! aaarrrgggh... lihat saja kalau ketemu akan kupatahkan lehernya itu" Edward mengumpat sambil mengacak rambutnya frustasi.
__ADS_1
Aron bergidik ngeri mengingat Arkhan. "aku harus menyuruh Arkhan menghindari tuan muda jangan sampai bertemu. Entah apa yang akan dilakukan tuan muda padanya kalau dia bertemu. sepertinya tuan muda terlihat sangat kesal" pikir Aron dalam hati.
Tak lama merekapun sampai di kantor, mereka langsung menuju ruang meeting karena hari ini akan ada presentase dari tim pengembang.
Terlihat para pejabat tinggi perusahaan beserta bawahannya sudah menunggu sang presdir datang.
Edward dan Aron pun memasuki ruangan beserta para sekretarisnya. Ruang meeting tiba tiba berubah mencekam tak ada yang berani bersuara tanpa perintah bahkan mereka berusaha menahan nafas. Apalagi terlihat wajah sang Presdir terlihat tak bersahabat membuat mereka gemetaran.
Rapat pun dimulai terlihat Edward terus saja memprotes semua proposal yang sudah susah payah dikerjakan para staf.
"apa ini? apa cuma seperti ini kemampuan kalian ha? Revisi ulang semuanya buat proposal yang lebih menjanjikan" umpat Edward sambil melempar map hitam ke meja membuat semua yang hadir terperanjat takut.
Aron hanya membuang muka kesal atas sikap tuannya. Padahal cuma hal sepele kenapa harus dikerja ulang. yah begitulah kalau pagi tuan muda sudah buruk maka satu hari penuh semua akan dipandang buruk olehnya.
Rapat pun selesai semua kembali bernafas lega walaupun dimarahi habis habisan setidaknya mereka tidak dipecat pikir mereka.
"bagaimana keadaannya? apa dia sudah keluar dari persembunyiannya itu?" gumam Edward sambil memikirkan Bella.
"Bagaimana kalau di terus marah padaku?" gumamnya lagi sambil terperanjat. "argh... kenapa aku sekhawatir ini, memangnya apa pengaruhnya kalau dia marah bukankah aku yang paling berkuasa disini" Edward kembali frustasi.
"lebih baik ku telpon pak Jo" ucap Edwar meraih ponselnya kemudian menelpon pak Jo.
"halo tuan?" terdengar suara pak Jo diseberang sana.
"apa Bella baik baik saja?" tanya Edward langsung.
"Nyonya baik baik saja hanya tidak keluar kamar dari tadi tuan" lapor pak Jo.
"apa dia sudah makan?" tanya Edward lagi khawatir.
"sudah tuan tadi nyonya makan dikamar" jawab pak Jo.
"baguslah! pak jo awasi saja terus jangan sampai dia melakukan hal bodoh" perintah Edward.
__ADS_1
"baik tuan" jawab pak Jo.
Edward pun menutup telponnya dan mulai kembali pada pekerjaannya yang sudah menumpuk.