
Tak terasa seminggu telah berlalu sejak itu pula hubungan Edward dan Bella menjadi renggang.
Edward yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya jadi jarang di rumah. Hal itu membuat kesalahpahaman Bella menjadi berlarut larut.
"permisi tuan" ucap Aron masuki ruangan Edward.
"hemm... ada apa?" tanya Edward tanpa menoleh ke arah Aron.
"Tuan besar menyuruh Anda menghadiri rapat pemegang saham di Paris sekaligus meninjau perusahaan di sana" jelas Aron.
"kapan?" tanya Edward sambil memijit pelipisnya.
"setelah urusan di sini selesai dan clear, kita harus berangkat dan tuan besar ingin bertemu" jelas Aron.
"Baiklah nanti sore kita kesana" jawab Edward.
Sore harinya Edward pun menuju mansion utama bertemu dengan ayah Kenzo.
"kau sudah datang" Ibu Marissa menyambut dengan senang, matanya mengarah ke belakang mencari cari.
"kau tidak bersama Bella" tanya ibu Marissa sedikit kecewa.
"aku dari kantor Bu langsung terus kemari" jawab Edward dengan muka datarnya.
"ha... padahal ibu merindukannya" ucap ibu Marissa kecewa.
"ayah mana?" tanya Edward.
"ada di ruang kerjanya" jawab ibu Marissa sudah tak bersemangat lagi.
Edward pun berjalan menuju ruang kerja ayahnya. Dia membuka ruang kerja ayahnya.
"kau sudah datang" ucap ayah Kenzo yang sedang duduk di meja kerjanya.
"aku langsung terus kemari" jawab Edward. "ayah ingin bertemu dengan ku?"
"kau wakili ayah menghadiri pertemuan di Paris, ayah merasa kurang sehat untuk bepergian jauh" tutur ayah Kenzo.
Edward pun mendudukan dirinya di kursi di depan ayahnya.
"jadi kapan harus berangkat" tanya Edward kurang bersemangat.
"ya secepatnya acara nya Minggu depan." jawab Ayah Kenzo sambil menyandarkan kepalanya dikursi.
"kau tinjau juga proyek di sana" tambah ayah Kenzo.
"baiklah" Edward pun beranjak keluar dari ruangan itu dengan muka datarnya.
"Edward ibu ingin bicara sebentar" ucap ibu Marissa sambil mengikuti Edward dari belakang.
__ADS_1
"ibu ingin bicara apa?" jawab Edward sambil mendudukkan dirinya di sofa ruang tengah.
"kamu akan ke Paris kenapa tidak ajak Bella pergi? hitung hitung bulan madu kan" ucap ibu Marissa sumringah.
"Bella tengah sibuk dengan kuliahnya tidak boleh diganggu" jawab Edward.
"kau ini banyak alasan kau bisa kan mengurus itu" ketus ibu Marissa.
"Bu tidak semudah itulah Bu biarkan dia menyelesaikan kuliahnya" jawab Edward stress dengan permintaan ibunya.
"memangnya kenapa ibu kekeh ingin Bella ikut?" tanya Edward heran
"ya apa lagi supaya kalian cepat dapat anak. ibu ingin cucu" ibu Marissa merutuki kebodohan Edward yang tidak peka.
"ibu selalu banyak maunya" Edwards menjadi kesal.
"ibu tidak banyak mau cuma satu kemauan, cuma ingin cucu" ibu Marissa memukul bahu Edward kesal.
Edward hanya menarik nafas panjang melihat Tingkah ibunya.
"kau ini anak ayah dan ibu satu satunya jadi harus meneruskan keturunan Edward" tukas ibu Marissa. "kau tahu hubungan suami istri akan sempurna dengan adanya anak. Anak mengikat sebuah hubungan agar semakin erat tak terpisahkan" tambah ibu Marissa.
Edward hanya menyimak pertanyaan ibunya. Jauh di dalam hatinya dia pun sangat menginginkan seorang anak untuk menjadi penerusnya.
Akan tetapi mengingat hubungannya dengan Bella hanya sebatas kontrak membuatnya bimbang.
"Edward....!!! Edward....!!!" panggil ibu Marissa kepada Edward sambil memukul kembali bahu Edward yang tidak merespon perkataannya.
"kau hanya melamun dari tadi" jawab ibu Marissa kesal.
"sudahlah! aku pulang dulu bu" ucap Edward beranjak meninggalkan ruangan.
"Edward....!!! ibu belum selesai bicara. Edward....!" pekik ibu Marissa kesal melemparkan bantal sofa ke arah Edward namun Edward terus keluar tak menghiraukan.
Edward pun memasuki mobilnya di antar Aron pulang ke mansionnya. Edward terus memikirkan akhir pernikahan kontraknya dengan Bella yang tersisa dua Minggu lagi.
"kenapa aku meminta 6 bulan seharusnya aku tidak menuliskan waktunya dulu" pikirnya dalam hati. "apa yang bisa kulakukan agar tidak berpisah dengannya"
"aku rasanya tidak sanggup berpisah dengannya, harus bagaimana?" batin Edward frustasi.
"anak mengikat sebuah hubungan agar tidak mudah terpisahkan" tiba tiba kata kata ibunya muncul di benaknya. Seperti mendapatkan angin segar.
"benar!!! kalau ada anak diantara aku dan Bella. Aku masih bisa bersamanya" pikir Edward. " Bella harus mengandung agar dia tidak bisa lepas dariku" Edward tersenyum licik mendapatkan ide.
"Aron bawa aku menemui Arkhan" perintah Edward kepada Aron.
"baik tuan" jawab Aron sambil mengemudi menuju klinik Arkhan. Tak lama kemudian mereka pun sampai di sana.
"ada angin apa kau malam malam kemari?" tanya Arkhan heran.
__ADS_1
"aku mau tanya sesuatu padamu?" tanya Edward serius.
"apa yang mau kau tanyakan?" ucap Arkhan balik bertanya.
"bagaimana bisa agar cepat punya anak?" Tanya Edward langsung.
"hahaha...tak mungkin kau tidak tau, kalau mau punya harus bercinta dulu lah, membuat adonan dulu" Arkhan tertawa lebar.
"aku juga tahu itu bodoh" ucap Edward melempari Arkan dengan gulungan kertas dengan kesal.
"lalu apa maksud pertanyaanmu?" tanya Arkhan meringis mendapat lemparan.
"maksudku supaya dia cepat hamil ada obatnya atau apa? kau ini dasar bodoh" gerutu Edward sangat kesal.
"CK kau ini.... hemm begini perempuan itu punya masa subur kalau kita berhubungan pada saat itu biasanya akan cepat terjadi kehamilan" jelas Arkhan.
"jadi kapan Masa subur itu" tanya Edward antusias.
"yah selepas haid biasanya seminggu itulah Masa suburnya" ungkap Arkhan.
"haid?" gumam Edward. "bukankah Bella sedang haid"
"aku akan memberi kalian obat penyubur kandungan kau bisa menaruhnya ke dalam susu lalu memberikan kepada Bella" ucap Arkhan.
"baiklah berikan yang terbaik" ucap Edward tegas.
Setelah itu Edward pun pulang ke Mansion. Setibanya di Mansion dia memanggil Bu Marni.
"ada apa tuan muda?" tanya Bu Marni.
"Bu Marni saya punya tugas untukmu" kata Edward.
"ya tuan saya mendengarkan" jawab Bu Marni.
"ini obat ambil lah berikan kepada Bella Tiap malam campurkan dengan susu atau apalah" Edward menyodorkan botol obat.
"baik tuan! kalau boleh tau ini obat apa tuan?" tanya Bu Marni penasaran sekaligus ketakutan.
"hanya penyubur kandungan" ucap Edward singkat.
Bu Marni mendengar langsung tersenyum. "baik tuan saya akan memberi kannya kepada Nyonya" ucap Bu Marni senang.
Edward pun naik ke atas menuju kamarnya. Dilihatnya Bella sedang tertidur pulas.
"aku akan mengikatmu di sisiku. Jadi inilah rencananya. kau akan mengandung anakku dan kau tidak akan terlepas disisiku" batin Edward sambil membelai rambut panjang Bella.
Bella yang mendapat sentuhan langsung terbangun. "kau sudah pulang? maaf aku ketiduran." ucanya tersenyum.
"tidak apa aku baru saja sampai" jawab Edward singkat.
__ADS_1
"baiklah aku akan siapkan air mandimu" ucap Bella beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.